Pendidikan dalam bingkai Miltikultural

Home / Artikel / Pendidikan dalam bingkai Miltikultural

KHA. Dahlan tiap-tiap hari minggu sejak pagi dikerumuni para siswa sekolah Kweekscool yang diberi pengajaran agama Islam pada tiap-tiap hari sabtu sore. siswa-siswa mana bukan saja siswa yang terdiri dari anak-anak Islam, tetapi anak Kristen, anak Katolik, anak Theosofi dan lain-lain ideologi yang bukan Islam” (Catatan H.M Syudja’, dalam MPI, Profil AUM, 2015:99)

Misi Kemanusiaan

Kutipan diatas adalah catatan keterangan dari H.M Syudja’, beliau merupakan murid dan sahabat KHA. Dahlan. Kiai Haji Ahmad Dahlan adalah pendiri persyarikatan Muhammadiyah (1912), yang saat ini perkembangan amal usaha Muhammadiyah telah menyebar di seluruh Indonesia, baik dalam pendidikan (schooling), Sosial (Feeding) dan Rumah Sakit (Healing).

Melihat keterbelakangan masyarakat Yogyakarta, khususnya akan realitas penduduk kauman dimana Kiai Dahlan menetap. Melihat realitas seperti tersebut, menimbulkan hasrat, semangat dan keteguhan Kiai Dahlan dalam berjuangan untuk membebaskan masyarakat dari kebodohan dan keterbelakangan. Maka, pada suatu kesempatan berdirilah Madrasah Ibtidaiyah Islam yang memberikan pengajaran ke-Islaman dan ilmu pengetahuan umum. Dari sini dapat kita lihat, bahwa sistem pendidikan integrasi ke-Islaman dan pengetahuan umum telah di wujudkan oleh Kiai Dahlan.

Walaupun Kiai Dahlan mengembangkan pola pengajaran ke-Islaman dan ilmu pengetahuan, namun tidak berarti bahwa Kiai Dahlan membuat sistem tertutup (eksklusif) hanya untuk masyarakat Islam saja. Melihat catatan H.M Sudja’ diatas, Bahwa Pengajaran oleh Kiai Dahlan bersifat terbuka (inklusif), mengakomodasi berbagai paham keagamaan dan ideologi. Dengan paham inklusif inilah kemudian membuat Muhammadiyah terus maju dan berkembangan. Sifat yang inklusif ini merupakan ciri dasar dari keterbukaan, dengan membawa misi kemanusiaan.

Misi kemanusiaan Kiai Dahlan melalui pendidikan adalah universal-humanistik dengan tujuan bagaimana mengangkat drajat manusia dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat tanpa membedakan paham keagamaan dan ideologi. Sehingga, dedikasi perjuangan Kiai Dahlan berorientasi pada pencerdasaan kemanusiaan. Maka, pendidikan Muhammadiyah dengan sifat inklusif selalu diterima oleh masyarakat luas. Seperti misalnya, di Papua sekolah Muhammadiyah banyak niminanti oleh non-muslim.

Universal-humanistik

Pendidikan manusia untuk semua orang tanpa membedakan paham keagamaan dan ideologi dapat kita artikan sebagai model dari pendidikan inklusif dengan paradigma penyelenggaraan pendidikan universal-humanistik. Pendidikan dengan paradigma terbuka seperti ini sesuai dengan kondisi kebangsaan. Pendidikan dengan paradigma universal-humanistik mengakui keberagaman.

Bahwa sesungguhnya tujuan pendidikan adalah membebaskan, memerdekakan serta membuat setiap manusia mandiri. Bukan sebaliknya, yang membuat manusia terkungkung dan terbingkai dalam paham yang sempit. Manusia yang berpahaman sempit cenderung tidak memiliki kemerdekaan seratus persen, sehingga mereka mudah terbakar oleh profokasi, hasutan serta dokrin tertentu tanpan memahami secara mendalam.

Misi kemanusiaan adalah pendorong pendidikan universal-humanistik. Pendidikan dengan model paradigma seperti ini akan mengajarkan toleransi dalam bermasyarakat, memahami hakekat perbedaan, menyadari hakekat kemerdekaan, menyadari peran kemanusiaan di bumi. Maka pada akhirnya nilai-nilai universal-humanistik tersebut menjadi kerangka dasar yang mengayomi keberagaman keagamaan dan kebudayaan sebagai basis kesadaran akan perlawanan dehumanisasi, seperti penjajahan, narkotika, terorisme, imperialisme, korupsi. Serta mendorong kesadaran akan keseimbangan alam, dan mendorong perlawanan akan perusakan hutan, alih fungsi lahan, pembalakan liar, perburuan hewan langka dan lain sebagainya.

Pendidikan dengan paradigma universal-humanistik menjawab kekakuan akan model pendidikan eksklusif yang membawa misi sempit hanya untuk golongan tertentu. maka, model pendidikan kemanusiaan yang terbuka harus menjadi karakteristik pendidikan di Indonesia. Melihat, bahwa realitas masyarakat Indonesia yang beragam, baik agama, suku, ras dan antar golongan. Singkatnya, pendidikan universal-humanistik akan menjadi model paradigma alternatif yang membawa misi kesatuan dalam melawan ketidakadilan dan kejahatan kemanusiaan.

oleh : Ari Susanto (pegiat Pendidikan Untuk Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *