Remaja dan Kekerasan

Home / Artikel / Remaja dan Kekerasan

Beberapa minggu ini, diberitakan oleh media massa elektronik ataupun cetak perihal kenakalan remaja. Bentuk kenakalan ini menimbulkan aksi-aksi kekerasan menggunakan senjata tajam. Hingga berujung menelan korban jiwa (meninggal), seperti yang dialami oleh almarhum Adnan Wirawan Ardianto siswa SMA swasta di Yogyakarta. oleh karena itu dibutuhkan formulasi penjegahan dan penanganan oleh semua pihak atas tindakan tersebut.

Kenakalan dengan bentuk kekerasan menggunakan senjata tajam terulang kembali. September 2016 lalu, aksi penusukan oleh remaja telah menelan korban meninggal dunia. Kenakalan remaja cenderung meningkat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),  hal ini diperkuat oleh hasil survei Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM tentang potret aksi-aksi kekerasan di DIY.

Aksi kekerasan yang dilakukan oleh remaja sangat memukul dunia pendidikan, khususnya DIY yang mengklaim sebagai kota pendidikan. aksi kekerasan ini menimbulkan ketidak nyamanan di kalangan masyarakat. Aksi kekerasan telah mendestruktifkan (merusak) tatanan sosial masyarakat. Pendidikan seolah gagal, dalam memberikan kematangan berfikir dan membentuk karakter siswa. Pendidikan karakter seolah sebatas wacana tanpa sistem pelaksanaan yang jelas.

Motif Kekerasan

Beberapa hari yang lalu, penulis melihat segerombolan anak Sekolah Menegah Pertama (SMP) yang bertikai dengan pengendara motor yang usianya masih remaja juga. Sebagai remaja, secara psikologi anak-anak mudah terpancing oleh hal-hal yang kecil. Misalnya persoalan kalah dalam perlombaan futsal, saling mengejek sekolah, gensi, geberan suara kenalpot motor dan persoalan lainnya. Dari situ dapat memunculkan konflik antar pelajar.

Motif aksi kekerasan di kalangan remaja bagaimanapun tidak dibenarkan. Karena cenderung motif yang mendasari kekerasan tidak lain karena merasa kecewa, malu, merasa di hina oleh seseorang ataupun kelompok lain. Dari sini ada motif ‘subjektif’, bahwa individu atau kelompok harus unggul, terhormat, menangdari golongan lain. Ketika faktor subyektifitas terusik maka aksi untuk melakukan kekerasan dapat muncul di permukaan.

Uniform, geng-gengan, dan grombolan terkadangan memunculkan motif untuk melakukan kekerasan. Seragam yang menjadi identitas fisik bagi kelompok pelajar, kadangkala jika suatu pihak merasa dirugikan atas tindakan pihak lain maka yang terekam dengan mudah adalah seragam identitas kelompok tersebut, perekaman seragam sebagai tanda untuk melakukan pembalasan. Geng-gengan dalam pelajar terkadang juga menjadi pemicu, misalnya geng motor sekolah X bertemu dengan geng motor sekolah Y, pertemuan fisik secara langsung terkadang menimbulkan kemarahan, hanya persoalan geberan suara kenalpot motor.

Dari sini, asumsinya adalah bahwa para remaja atau pelajar mudah terpancing emosi dan menimbulkan kemarahan berakar dari persoalan-persoalan identitas. Mereka tidak ingin identitas terusik dan diciderai oleh pihak lain. Sebab identitas harus mereka jaga kesakralannya sebagai jiwa korsa keangotaannya. Ketika identitas di ciderai atau dihinakan maka akan memunculkan perlawanan.

 

Agen Perdamaian

Semua pihak harus ikut berperan dalam merumuskan aksi penjegahan dan penanganan persoalan kenakalan remaja. Sekolah, Masyarakat, Organisasi Masyarakat (ormas), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),  Pemerintah harus bersatu padu menjadi agen yang berkomitmen menjaga keamanan dan perdamaian bermasyarakat.  Sekolah sebagai instansi belajar harus mengoptimalkan pembentukan karakter siswa. Masyarakat, ormas harus menjadi kontrol aktivitas remaja. pemerintah harus menjadi fasilitator dalam penyedia forum penjegahan kenakalan remaja. LSM dapat berperan sebagai aktor pendamping dalam pengembangan karakter para remaja.

Hal yang menjadi urgensitas ialah pembentukan agen perdamaian di kalangan remaja. agen perdamaian ini berfungsi sebagai aktor-aktor yang berperan dalam mengkampanyekan kenakalan remaja. agen perdamaian remaja terhimpun dari berbagai sekolah dengan berbagai latar belakang suku, ras, agama dan antar golongan. Diharapkan dengan berlainan latar belakang dan sekolah, mereka menjadi sadar akan realitas kebhenikaan. Agen perdamaian remaja diberikan pelatihan dan pendidikan kebangsaan.

Dengan adanya agen perdamaian remaja yang berlainan latar belakang, akan memperkokoh persatuan. Sehingga dengan kesadaran akan kesatuan diatas kebergaman, diharapkan memperkecil munculnya kenakalan-kenakalan remaja di kalangan remaja. energi para remaja akan tergantikan, semula mengedepankan identitas kelompok kini terbingkai dengan makna persatuan. Remaja adalah aset bangsa, wajib bagi kita mengawal perkembangan generasi muda Indonesia.

oleh : Ari Susanto (Pegiat PUNDI)

tulisan ini pernah dimuat dalam koran BERNAS edisi 19/12/2016. dimuat ulang sebagai sarana pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *