Pendidikan Karakter ala Baduy

Home / Artikel / Pendidikan Karakter ala Baduy

Oleh: Iman Sumarlan, S.IP, M.HI

 

 

Tulisan ini tidak banyak mengungkap sejarah suku baduy secara panjang lebar. Tujuan penulisan artikel ini tiada lain untuk menggali makna kehidupan khususnya aspek pendidikan dari suku baduy. Bukankah nilai kebaikan bisa diperoleh dari manapun tanpa kecuali dari pola pendidikan yang diterapkan oleh suku baduy.

Suku baduy terbagi menjadi baduy dalam dan baduy luar. Baduy dalam adalah mereka yang menempati perkampungan yang terletak di lereng gunung. Menempati 3 desa, Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Penulis berkesempatan melakukan diskusi dengan seorang warga suku baduy dalam biasa dipanggil Ayah Mursid (tidak ada yang tahu nama aslinya). Juga terdapat seorang warga suku baduy luar bernama Pak Arman kebetulan sebagai sekretaris desa kanekes berkenan untuk diajak ngobrol.

Suku baduy dalam dikenal sangat patuh terhadap tradisi leluhur. Ada 3 hal yang bisa disoroti kaitannya dengan pola kehidupan yang diterapkan oleh suku baduy. Pertama, mereka memegang ajaran nenek moyang ‘pikukuh’ (kepatuhan) tentang kehidupan khususnya berhubungan dengan alam. Terdapat ajaran yang begitu dipatuhi seperti gunung teu meunang di duruk, lebak teu meunang di ruksak (gunung tidak boleh di bakar, daratan tidak boleh boleh dirusak). Ajaran ini mempengaruhi pola pikir dan pola hidup warga baduy dalam memperlakukan alam. Mereka melarang warganya untuk menggunakan segala jenis sabun mandi, detergen, shampo, pasta gigi, minyak wangi dan segala jenis bahan kimia yang dapat mencemari air dan udara. Suku baduy dalam juga dilarang menggunakan teknologi dan tabu untuk di foto.

Kedua, mereka memilih seorang sesepuh (Pu’un) yang begitu dihormati sebagai pemimpin lembaga kaolotan (lembaga adat). Siapapun yang ingin berkunjung ke baduy dalam, dilarang masuk ke kediaman sesepuh yang saat itu menjabat. Termasuk larangan untuk mengambil foto rumah maupun orang-orang yang terdapat di baduy dalam. Berbeda halnya dengan baduy luar yang relatif sudah bersentuhan dengan teknologi seperti handphone dan radio. Termasuk perkakas mandi maupun pencuci pakaian.

Ketiga, tidak ada anak-anak yang sekolah formal. Mereka memperoleh pendidikan secara alamiah dari orang tua masing-masing. Keterampilan utama bidang pertanian dimiliki laki-laki seperti mengolah padi dan memetik buah-buahan. Perempuan biasanya pandai menenun kain. Jika kita berkunjung ke baduy di halaman rumah mereka banyak dijajakan kain tenun, ikat kepala khas baduy dan hiasan badan lainnya. Suku baduy dalam juga mengenal kegiatan ekonomi dengan menjual hasil bumi dan hasil kerajinan tangan mereka.

Dari ketiga poin di atas, mempunyai makna yang sangat mendalam berkaitan dengan pendidikan. Nilai-nilai yang dipegang erat seperti tunduk pada ajaran leluhur, menghormati sesepuh, dan praktek mengolah alam secara alamiah merupakan pelajaran berharga bagaimana menumbuhkan nilai-nilai karakter. Karakter mencintai alam, menghormati orang tua (sesepuh) dan etos kerja dalam (ukuran tertentu) bisa tumbuh menjadi kekuatan besar.

Kekuatan yang tidak sekedar untuk bertahan hidup, tapi benar-benar kekuatan karakter untuk menolak industrialisasi manusia dan subordinasi pihak luar yang dianggap membahayakan. Sejatinya mereka warga baduy sudah menjadi subjek dalam arus dinamika perubahan dengan menampilkan praktek-praktek kehidupan yang harmoni.

Patut menjadi refleksi bersama atas apa yang terjadi pada pendidikan nasional. Jargon revolusi mental sebenarnya selaras dengan fokus pendidikan karakter sebagai solusi menghadapi dinamika perubahan dunia yang super cepat. Kiranya patut belajar dari penumbuhan karaker yang dilakukan oleh masyarakat baduy. Nilai-nilai luhur bangsa dan negara Indonesia perlu terus didengungkan dan menjadi bagian rekayasa sosial. Penghormatan pada orang yang punya otoritas nilai sebagai teladan kongkrit juga penting menjadi kebiasaan. Untuk aspek ini yang menjadi tantangan yakni menemukan sosok tokoh penjaga nilai luhur disegani dan layak menjadi teladan.

Terakhir etos kerja menjadi ciri khas masyarakat baduy walau dalam pola pikir mereka cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari seluruh keluarga. Tapi mental tidak bergantung pada pihak lain dan mengandalkan kemampuan sendiri merupakan barang langka ditengah budaya serba instan dan menjilat kekuasaan. Masyarakat urban yang cenderung menonjolkan budaya kemaruk atau akumulasi kapital bagi kepentingan pribadi dan kelompok sendiri seharusnya belajar banyak dari kearifan karakter suku baduy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *