Dalam Rangka Hari Jadi Pertama, PUNDI Gelar Sarasehan Rembug Pendidikan

Home / Agenda / Dalam Rangka Hari Jadi Pertama, PUNDI Gelar Sarasehan Rembug Pendidikan

Press Release

Sarasehan Rembug Pendidikan

“Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Lokal”

Soekarno, Presiden pertama RI, sejak awal kemerdekaan sudah berpikir keras bagaimana membangun karakter nasional (national character building). Soekarno menyadari dengan membangun karakter bangsa yang kuat, maka bangsa ini akan menjadi besar. Soekarno lewat Tri Saktinya menekankan pentinganya, berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial budaya.

Berkepribadian secara sosial budaya merupakan pijakan dasar bagi pendidikan karakter bangsa Indonesia. Secara sosiologis, sosial budaya berbicara tentang pola hidup, tingka laku, adat-istiadat, norma dan aturan yang hidup dimasyarakat serta sederetan nilai lokal lainnya yang hidup dan menghidupi masyarakat Indonesia dari Sabang-Merauke.

Tokoh pedidikan nasional Ki Hajar Dewantara, merupakan salah satu tokoh pendidikan yang menawarkan konsep nilai lokal sebagai basis perjuangan pendidikan di Taman Siswa. Dengan konsep keluarga, kampung dan kampus, Ki Hajar mensinergikan kehidupan nilai-nilai lokal yang hidup dalam keluarga, di kampung dan di kampus untuk disinergkan menjadi kekuatan dalam membetuk karakter pribadi manusia Indonesia.

Tetapi, masuk di era Soeharto, pendidikan karakter menjadi kekuatan negara guna melaksanakan kekuatan represifitasnya. Intinya jaman Soeharto, karakter itu identik dengan budaya “manut”. Pendidikan P4 dijadikan instrumen oleh Soeharto untuk menindak dan menjinakan semua pemikiran yang berbeda dengan negara. Maka tidak heran KKN menjadi kebiasaan yang lumrah karena hal tersebut dianggap sebagai kegiataan biasa dan bisa dimaklumi.

Inilah sebenarnya menjadi awal “petaka”, bagi penanaman pendidikan karakter, yang kemudian menjadi perdebatan yang sengit paska reformasi 1998.  Perdebatan itu berada di dua arus besar, yang pertama menghendaki pendidikan karakter itu harus dimulai dari atas (baca: elit) dan kedua, pendidikan karakter itu harus berubah dari bawah (baca : masyarakat). Pengikut pertama menghedaki agar, cara, pola dan prilaku elit di negeri ini yang harus diubah biar bisa menjadi panutan generasi penerus (tidak korupsi, berprilaku hidup sederhana, moralitasnya terjaga serta prilaku baik lainnya). sementara pengikut arus bawah menghendaki perubahan harus mulai dari masyarakat. nilai-nilai lokal yang ada di masyarakat harusnya dihidupkan kembali, seperti tenggang rasa, tepa seliro, guyub-rukun, gotong-royong, serta nilai-nilai kehidupan lokal lainya yang harus perlu dihidupkan kembali.

Perdebatan pengembangan pendidikan karakter ini juga berpengaruh sampai kepada institusi pengambil kebijakan di bidang pendidikan. Perdebatan di istitusi pendidikan justru mengarah ada perdebatan penguatan pendidikan fundamentalisme atau medorong terjadinya liberalisasi pendidikan. Nah, sampai saat ini, perdebatan inilah sepertinya menjadi kekuatan dominan dalam menentukan pilihan pendidikan karakter bagi bangsa ini ke depannya.

Melihat kenyataan ini,  maka Pendidikan Untuk Indonesia (PUNDI) dan Sanggar Maos Tradisi (SMT), mencoba untuk menggali sekaligus mendiskusikan kembali nilai-nilai lokal yang hidup di masyarakat yang bisa menjadi contoh, panutan dalam pengembangan pendidikan karakter bagi generasi masa depan negeri ini. Semoga dengan diskusi dan dialektika seperti ini, dijadikan pijakan guna merumuskan kembali pendidikan karakter yang kita gali dari kehidupan masyarakat Indonesia sendiri.

Untuk itu, kami mengudang rekan-rekan media untuk hadir dalam sarasehan rembug pendidikan pada hari Sabtu, 15 Juli 2017, pukul 14.00 WIB, bertempat di Joglo SMT, Karanglo Baru, Blok C, Donoharjo, Ngaglik, Sleman.

Atas kehadirannya diucapkan terima kasih.

Narahubung

0882 1611 5411 (Iman)

081 339 724 244 (Udin)

081 215 525 921 (Agus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *