Peningkatan Mutu Pendidikan dan Stressful Schooling

Home / Artikel / Peningkatan Mutu Pendidikan dan Stressful Schooling

Pendidikan merupakan salah satu tema menarik untuk dibahas. Dikatakan menarik karena pendidikan memiliki peran sentral bagi kemajuan sebuah bangsa. Hampir tidak ada satu bangsa besar di dunia ini yang mengabaikan peran-peran pendidikan. Urgensi pendidikan bagi sebuah bangsa terletak pada suatu kesadaran di mana salah satu bidang strategis dalam kehidupan masyarakat itu dipandang mampu mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalani hidup secara efektif dan efisien (Azyumardi Azra, 1998: 3). Berangkat dari kesadaran ini, para pengelola di tiap-tiap negara saling berlomba untuk selalu memperbaiki kualitas mutu pendidikan.Pendidikan merupakan salah satu tema menarik untuk dibahas. Dikatakan menarik karena pendidikan memiliki peran sentral bagi kemajuan sebuah bangsa. Hampir tidak ada satu bangsa besar di dunia ini yang mengabaikan peran-peran pendidikan. Urgensi pendidikan bagi sebuah bangsa terletak pada suatu kesadaran di mana salah satu bidang strategis dalam kehidupan masyarakat itu dipandang mampu mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalani hidup secara efektif dan efisien (Azyumardi Azra, 1998: 3). Berangkat dari kesadaran ini, para pengelola di tiap-tiap negara saling berlomba untuk selalu memperbaiki kualitas mutu pendidikan.

Ikhtiar yang dilakukan negara-negara, tidak terkecuali di Indonesia, untuk selalu meningkatkan kualitas mutu pendidikannya adalah satu langkah yang patut mendapat apresiasi memadai. Ikhtiar tersebut dilakukan karena para penyelenggara negara sadar betapa kualitas mutu pendidikan yang baik sangat berbanding lurus dengan kemajuan suatu bangsa. Pesan yang pernah disampaikan oleh Mohammad Natsir agaknya dapat dijadikan catatan penting akan hal ini. Natsir (1974: 77) dalam salah satu artikelnya berjudul “Ideologi Pendidikan Islam” pernah berpesan bahwa maju dan mundurnya suatu bangsa sangat tergantung pada pelajaran dan pendidikan yang diterapkan.

Oleh sebab itu, menjadi sangat wajar apabila negara selalu berusaha hadir untuk memperbaiki mutu pendidikan. Kepentingan negara untuk selalu berusaha hadir tentu bukan hanya disebabkan karena pendidikan telah menjadi sarana efektif untuk transfer pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang harus dianut oleh peserta didik. Di sinilah letak penting proses pendidikan, yang secara fungsional ditujukan sebagai media kebudayaan yang memiliki pengaruh penting untuk merekayasa hidup dan menentukan masa depan peserta didik (Tasman Hamami, 2008: 1), sebagaimana nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dipegang teguh oleh sebuah negara.

Di tengah begitu besarnya tantangan dan tuntutan dunia pendidikan nasional, para penyelenggara negara mencanangkan program-program unggulan yang tidak lain ditujukan untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan. Program-program unggulan yang muncul dari hulu ini pun disambut dengan baik di tingkat hilir. Kepala sekolah dan guru yang berada di tingkat hilir berusaha sebaik mungkin untuk menyukseskan program-program unggulan negara. Kedua belah pihak seakan hanya terpaku untuk menyukseskan program negara demi mencapai suatu target yang telah ditentukan yakni peningkatan kualitas mutu pendidikan.

Di satu sisi, usaha tersebut dapat dibenarkan. Namun di sisi lain, usaha itu menjadi tidak dibenarkan apabila mengesampingkan aspek psikologi peserta didik, walaupun semuanya ditujukan untuk pencapaian kualitas mutu pendidikan. Dalam pencapaian program-program unggulan negara tentu menjadi penting untuk memperhatikan aspek tersebut. Mengapa? Karena, pada hakikatnya, peserta didik adalah subjek dan sekaligus juga objek pendidikan (Abuddin Nata, 2005: 131). Sebagai subjek, peserta didik adalah pelaku pendidikan, sedangkan sebagai objek, mereka merupakan sasaran pendidikan. Berdasarkan posisi ini, setiap pencanangan program-program peningkatan mutu sudah semestinya dirancang dan dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek psikologi peserta didik.

Stressful Schooling dan Dampaknya

Hanya saja, pertimbangan akan hal itu agak kurang mendapatkan perhatian serius, khususnya di lingkungan sekolah. Realitas seperti ini rupanya memiliki dampak kurang baik bagi peserta didik. Karena tidak mempertimbangkan aspek psikologi maka usaha yang dilakukan sekolah dalam meningkatkan mutu justru malah menjadi beban baru bagi peserta didik. Tidak sedikit di antara mereka yang justru menjadi stress karena tuntutan dan regulasi yang membatasi perilaku serta perasaan peserta didik. Pada titik inilah persoalan dunia pendidikan nasional menjadi sangat dilematis. Di satu sisi, para pelaksana kebijakan (kepala sekolah dan guru) dituntut untuk senantiasa meningkatkan mutu demi memenuhi kebutuhan dan kualitas hidup peserta didik. Di sisi lain, sekolah justru menjadi salah satu sumber masalah yang pada gilirannya memicu terjadinya stress di kalangan peserta didik (Desmita, 2009: 288).

Penelitian yang pernah dilakukan Desmita pada tahun 2005 dan Uly Gusniati pada tahun 2002 dapat dijadikan sebagai indikator sederhana untuk melihat fenomena stress peserta didik jenjang Menengah Atas selama di sekolah. Menurut penelitian Desmita, stress di kalangan peserta didik dipicu program peningkatan mutu pendidikan melalui implementasi kurikulum yang diperkaya, intensitas belajar yang tinggi, rentang waktu belajar formal lebih lama, tugas-tugas dari sekolah yang banyak serta tuntutan sekolah menjadi pusat keunggulan. Sedangkan, penelitian Uly dengan responden peserta didik jenjang Menengah Atas menyimpulkan bahwa terdapat sekitar 40,74% yang merasa terbebani karena harus mempertahankan peringkat sekolah; 62,96% yang merasa cemas menghadapi ujian semester; 82,72% merasa takut mendapat nilai ulangan jelek; 80,25% merasa bingung untuk menyelesaikan PR yang terlalu banyak; dan 50,62% merasa letih mengikuti perpanjangan waktu belajar di sekolah (Desmita, 2009: 289-290).

Hasil penelitian yang dikemukakan di atas sesungguhnya hanya sebagian kecil dari sekian banyak realitas yang menunjukkan dampak kebijakan peningkatan mutu yang berujung pada stress peserta didik. Pelaksana kebijakan Negara (Kepala sekolah dan guru) agaknya kurang memperhatikan dampak-dampak yang dialami peserta didik melalui program peningkatan mutu yang zonder mempertimbangkan aspek psikologis. Tetapi bagi peserta didik, pemberlakukan kebijakan tersebut justru menjadi “momok” yang cukup membebani dan memberatkan. Tidak sedikit di antara mereka yang boleh jadi memiliki anggapan bahwa sekolah merupakan institusi menakutkan. Selain itu, mereka juga tidak tertutup kemungkinan memiliki penilaian bahwa belajar di sekolah adalah suatu proses yang berat, tidak menyenangkan dan bahkan membosankan.

Penilaian-penilaian demikian tampaknya perlu mendapatkan perhatian serius dari pelaksana kebijakan Negara. Jangan sampai hal itu dibiarkan berlarut-larut sehingga menimbulkan dampak kurang baik bagi perilaku peserta didik. Jika hal itu dibiarkan, maka peserta didik boleh jadi akan mencari pelampiasan untuk menghilangkan rasa stress yang diperolehnya selama di sekolah. Apabila mereka melampiaskan stresnya melalui aktivitas positif, tentu tidak menjadi persoalan berarti. Namun bagaimana jika sebaliknya? Keterangan Sutanto, sebagaimana dikutip oleh Desmita (2009: 290-291), menyebut bahwa secara psikodinamik, stress dan frustasi peserta didik dapat menjadi akar bagi letupan problem-problem lain, seperti tawuran, dan penyalahgunaan narkoba. Selain itu, stress juga berimplikasi terhadap prestasi akademik peserta didik. Dampak yang paling akhir ini justru berbanding terbalik dengan misi utama sekolah, yaitu meningkatkan mutu pendidikan yang salah satunya dicapai melalui prestasi akademik peserta didik.

Sangat disadari betapa stress merupakan persoalan yang selalu hadir dalam setiap aspek kehidupan. Tidak pernah ada satu pun manusia, baik Kepala sekolah, guru maupun peserta didik, yang belum pernah merasakan stress. Stress boleh dibilang akan selalu hadir di tengah aktivitas manusia. Karena itu, menurut Desmita (2009: 301), stress pada hakikatnya tidak dapat dihilangkan sama sekali dari kehidupan setiap manusia. Stress hanya dapat direduksi intensitasnya sehingga tidak membahayakan dan menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan manusia. Dengan demikian, dipandang perlu mencari suatu solusi terbaik bagi sekolah untuk menjembatani masalah stress yang dialami peserta didik di sekolah.

 

Menurut Desmita (2009: 301) satu di antara solusi terbaik untuk mereduksi stress peserta didik adalah penciptaan iklim sekolah yang kondusif. Iklim ini dapat terwujud apabila terjadi relasi positif antarstake-holders di sekolah. Relasi positif yang dimaksud adalah hubungan harmonis antara Kepala sekolah dengan guru dan peserta didik, guru dengan guru, guru dengan peserta didik, serta peserta didik dengan peserta didik. Relasi positif ini perlu dibangun dalam bingkai program peningkatan mutu pendidikan. Dengan demikian, antarstake-holders dapat saling menanamkan nilai, kepercayaan dan motivasi untuk berprestasi tanpa harus memberikan beban yang berat antara satu pihak dengan yang lainnya. Harmoni ini pada gilirannya dapat membangun kesadaran dalam diri peserta didik tentang prestasi diraih berdasarkan potensi atau bakat masing-masing.

Di tengah iklim sekolah yang kondusif, peserta didik dapat menjadi nyaman dalam belajar. Mereka pun dapat merasa kerasan (betah) berada di sekolah dan boleh jadi akan menjadikannya sebagai rumah kedua. Perasaan senang dan nyaman berada di sekolah inilah yang seharusnya diciptakan, sehingga hal itu dapat membantu melancarkan program peningkatan kualitas mutu pendidikan. Apabila peserta didik merasa senang dan nyaman, tentu akan menjadikan capaian mutu pendidikan sebagai satu kebutuhan yang harus dipenuhi dengan sadar, bukan paksaan atau tekanan. Situasi seperti inilah yang mestinya diciptakan, sehingga peserta didik tidak lagi menjadi korban kebijakan yang relatif jarang mempertimbangkan aspek psikologis mereka.

Pesan yang pernah disampaikan Abdul Malik Fadjar dalam berbagai kesempatan agaknya perlu disampaikan untuk menutup artikel ini. Menurutnya, setiap sekolah harus memiliki konsep belajar (dan lingkungan) yang menyenangkan, sehingga mampu mencerdaskan peserta didik, bukan malah membuatnya stress. Oleh sebab itu, stress schooling yang tidak lain adalah suasana tidak nyaman yang dialami peserta didik lantaran tuntutan sekolah cenderung yang menekan sehingga berdampak pada perilaku dan prestasi peserta didik, perlu segera diminimalisir dengan memunculkan lingkungan baru yang berbasis humanistik. Melalui pola ini, diharapkan peserta didik dapat mengembangkan segala bakat dan potensinya secara optimal dengan prestasi yang selaras dengan target mutu pendidikan yang ditetapkan. Semoga!

Oleh : Farid Setiawan (Dosen PAI UAD, Mahasiswa Program Doktor Psikologi Pedidikan Islam UMY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *