Qaryah Thayyibah Belajar Dari Kehidupan

Home / Artikel / Qaryah Thayyibah Belajar Dari Kehidupan

Terik matahari tak menyurutkan langkah kami untuk berkunjung ke kota dengan julukan ‘city of harmony’ kota Salatiga, salah satu kota di Jawa Tengah. Saat memasuki gerbang kota, terlihat bukit-bukit dengan cincin kehijauan yang mengelilinginya membuat lelah menjadi hilang. Optimisme terpancar setelah melihat sosok dengan perawakan berbadan tegap, berambut gondrong keputihan yang berdiri tegak menanti kedatangan tim Pegiat Pendidikan Indonesia (PUNDI) di pendopo penyadaran komunitas pertanian Qaryah Thayyibah. Beliau adalah Bapak Baharuddin, penggagas sekolah Qaryah Thayyibah dengan metode yang disebut oleh beliau active learning.Terik matahari tak menyurutkan langkah kami untuk berkunjung ke kota dengan julukan ‘city of harmony’ kota Salatiga, salah satu kota di Jawa Tengah.

Saat memasuki gerbang kota, terlihat bukit-bukit dengan cincin kehijauan yang mengelilinginya membuat lelah menjadi hilang. Optimisme terpancar setelah melihat sosok dengan perawakan berbadan tegap, berambut gondrong keputihan yang berdiri tegak menanti kedatangan tim Pegiat Pendidikan Indonesia (PUNDI) di pendopo penyadaran komunitas pertanian Qaryah Thayyibah. Beliau adalah Bapak Baharuddin, penggagas sekolah Qaryah Thayyibah dengan metode yang disebut oleh beliau active learning. Pukul 12.30 WIB tampak anak-anak berusia belasan tahun sedang berdiskusi tentang program yang akan dijalankan. Saling lempar gagasan, dan gayung bersambut, Tanya jawab berlangsung membuat diskusi menjadi hidup, mereka berada di depan bangunan lantai satu sekolah Qaryah Thayyibah.

Sekolah tersebut terdiri dua lantai, dengan luas 8 x 10 m , sistem sekolah tanpa kurikulum nasional, siswa bebas memilih kelas, guru hanya sekadar menjadi fasilitator dan teman diskusi, serta yang terpenting adalah tanpa Ujian Nasional yang selama ini menjadi hantu bagi kebanyakan siswa sekolah. Sistem pendidikan pun tak lepas dari kritik, sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Baharuddin. Sekolah telah gagal, sebab memosisikan siswa sebagai objek bukan subjek yang aktif mengembangkan ilmu dan informasi. Sistem pendidikan nasional tak lebih dari kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan kerja tidak untuk melakukan pembebasan jiwa manusia. Sekolah seolah menjadi lembaga formal yang mampu menciptakan manusia-manusia cerdas.  ’’Sistem pendidikan selama ini menggunakan sistem masa lalu, mengasumsikan bahwa pendidikan hanya melalui sekolah, sehingga sekolah diposisikan menjadikan tempat menuntut ilmu dan informasi.

Tuntutan zaman sekarang, fungsi kekinian adalah dalam rangka aktualisasi diri melalui refleksi atas proses belajar. Mengharapkan ilmu dan informasi tidak di suatu tempat tetapi, di mana saja, mencari sumber inovasi di mana saja. Pendidikan gaya lama memosisikan siswa menjadi objek yang diajar, bukan subyek yang belajar, sedangkan guru menjadi pengajar bukan fasilitator, pendamping yang mendorong tumbuh kembang kamampuan anak”. Ujar pendiri Sekolah Qaryah Thayyibah.

Konsep Belajar Sesuai Kemauan Siswa

Dari keprihatinan sistem pendidikan nasional tersebut, maka Bapak Bahruddin menginisiasi hadirnya sekolah dengan konsep dan sistem yang dibuatnya, tidak mengikuti dan menginduk sistem pendidikan nasional  yang dianggap akan menghambat kemajuan masa depan peradaban di tengah kemajuan teknologi. Siswa diberikan kebebasan untuk merancang kegiatan mereka sendiri serta memilih kelas yang mereka kehendaki. ’’Kegiatan sekolah diatur oleh mereka, merancang, memutuskan, mengeksekusi ya mereka. Belajar hanya apa yang dibutuhkan oleh mereka. Nalar kritis anak atau siapa pun tertradisikan melihat sesuatu dengan kritis sehingga tidak ada kesimpulan akhir. Belajar itu long life. Belajar beda dengan membaca.

Belajar adalah proses mempertahankan, memberdayakan dan meningkatkan kehidupan tiga hal dalam pendidikan.” kata Baharuddin kepada Tim PUNDI Pendidikan telah menjadi candu. Orang tua  percaya bahwa sekolah akan membentuk perilaku anak ke arah yang baik. Orang tua seolah melepaskan tanggung jawab, dan mereka para orang tua merasa tanggung jawabnya untuk mendidik dan mengajar dilimpahkan sepenuhnya kepada pendidikan formal. Hal ini tentu menjadi suatu yang salah kaprah. Seharusnya orang tua dan lingkungan ikut serta dalam membentuk pola perkembangan anak. ’’Misalnya PAUD (pendidikan anak usia dini), orang tua seolah melepaskan tanggung jawab kepada sekolah untuk kebutuhan perkembangan anak. Ini suatu hal yang salah, harusnya semua pihak terlibat, terutama orang tua. Siapa yang perlu belajar? Tentunya semua sehingga tidak sekadar menyerahkan anak ke PAUD yang hal itu merupakan kesalahan. Dengan demikian, orang tua harus belajar, orang tua tidak nakut-nakuti anak, menyemangati anak, serta menjadi tauladan. Dengan demikian, maka anak akan kreatif,” papar Beliau.

Hakikat Kurikulum Kurikulum itu sesungguhnya apa yang dipelajari. Jadi dengan suatu ide atau gagasan anak dengan demikian dapat dimaknai sebagai kurikulum. Dengan demikian, konsep kurikulum yang digagas adalah suatu konsep learner center. ’’Kurikulum itu sarana, sebagaimana rel kereta, yaitu sebagai jalan. Gak usah rumit, ketika menggagas punya ide itu sudah luar biasa. peran fasilitator, pendamping, guru menjadi tim yang menyemangati dan menfasilitasi untuk melakukan agenda berefleksi, mereka berdiskusi serta menentukan target hingga tujuan. Dengan demikian, pembelajaran ini adalah konsep learner center bukan teacher learner”, ujar Bapak Baharuddin Sistem yang dibangun selama ini oleh penentu kebijakan bersifat top down bukan battom up. Dengan demikian, kebijakaan tidak sejalan dan sulit diterapkan di daerah-daerah. “BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) dalam membuat kebijakan tidak melibatatkan masyarakat.

Terkadang kurikulum juga tidak tepat dalam mengukur kecerdasan siswa. Anak yang cerdas diukur dari sejauh mana ia dapat menyelesaikan soal dengan benar. Sehingga potensi-potensi individual di luar kognisi tidak dianggap.  Problem dasar pendidikan tersebut tidak berbasis kehidupan lokal. Link and mach dengan industri tetapi dengan potensi kehidupan. Kalau dengan industri ya jadi buruh industri mestinya dibumikan ke konteks ini. Di perkuliahan harus menjawab itu.

Metode dan kurikulum menjadi suatu hal yang menarik untuk terus diperbincangkan. Menurut Jhon Wai pendidikan dengan model bank, yaitu siswa menerima apa yang disampaikan guru. “Dari 100 persen yang diajarkan kemungkinan hanya 5 % daya serapnya dan 95 % hilang karena pasif.  Konsep tadi itu penuh karena aktif yang dikenal dengan konsep active learning. Efektivitas menerima active learining yang dimaksud adalah yang dituangkan seratus namun bisa lebih dari itu. Transfer of knowlead, agar banyak terserap.” Sementara kegiatan sekolah Qaryah Thayyibah yang dijalankan oleh para siswa, posisi guru hanya sebagai fasilitator. Untuk sementara ini kegiatan siswa aktif dalam aktivitas seni, antara lain visual, musik, film,  gerak teater,  tari, komik gambar serta sasra novel.

Pendidikan Qaryah Thayyibah berbasis pada kemajuan teknologi. Dengan kemajuan teknologi, maka belajar dapat dilakukan di mana saja sebagai mana misalnya internet. Jika sistem lawas yang digunakan dalam pendidikan, maka akan lamban. “Kalau tidak mengikuti perkembangan revolusi  dan hanya menggunakan sistem lama, maka akan ketinggalan. Sebab sampai detik ini lembaga pendidikan terjebak oleh komersialisasi, dengan asumsi bahwa sekolah hanya mencari murid banyak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *