Belajar dengan Gembira

Home / Artikel / Belajar dengan Gembira

Bagi orang dewasa belajar dan bermain adalah satu hal yang berbeda. Belajar identik dengan proses yang serius, terukur, dan terkadang menegangkan. Sementara bermain, lebih nyaman dan rileks. Anak-anak di bawah umur lima tahun belum dapat membedakan antara bermain dan belajar. Bagi mereka bermain adalah belajar, dan belajar adalah bermain. Seiring dengan bertambahnya umur, ketika anak memasuki dunia sekolah, barulah mereka mengetahui makna bermain dan makna belajar.

Bermain mengasyikan, sementara belajar melelahkan.  Bagi orang dewasa belajar dan bermain adalah satu hal yang berbeda. Belajar identik dengan proses yang serius, terukur, dan terkadang menegangkan. Sementara bermain, lebih nyaman dan rileks. Anak-anak di bawah umur lima tahun belum dapat membedakan antara bermain dan belajar. Bagi mereka bermain adalah belajar, dan belajar adalah bermain. Seiring dengan bertambahnya umur, ketika anak memasuki dunia sekolah, barulah mereka mengetahui makna bermain dan makna belajar. Bermain mengasyikan, sementara belajar melelahkan.

Proses belajar yang terkesan melelahkan dan menegangkan inilah sebenarnya yang menjadi problem bagi anak di sekolah. Anak yang tidak mampu menangkap materi atau pelajaran di kelas, sering dianggap anak yang bodoh. Apalagi status pintar dan tidak pintar anak di kelas melekat pada nilai yang dikeluarkan guru. Padahal ketidakmampuan anak menangkap dan memahami materi yang disampaikan guru di kelas bisa jadi disebabkan guru tak mampu menjelaskan materi tersebut. Metode pembelajaran yang kaku menyebabkan anak merasa bosan dan tegang ketika menyimak materi yang disampaikan guru di kelas. Hal ini menyebabkan anak tidak dapat menikmati materi yang disampaikan. Apalagi guru sering menghukum anak yang tidak dapat mengikuti proses belajar dengan baik.

Akibatnya, hal-hal yang didengar dan dilihat di kelas tidak berkesan sama sekali. Padahal inti dari metode pembelajaran di kelas adalah kesan yang menggoda seorang guru ketika menyampaikan materi.  Oleh sebab itu, seorang guru harus menguasai berbagai metode pembelajaran agar murid-muridnya bisa menikmati proses pembelajaran di kelas dan tidak bosan. Guru yang kaya metode dalam menyampaikan materi di kelas, tentu akan disenangi murid-muridnya. Apalagi guru dapat menarik perhatian mereka ke dunia baru, yakni materi belajar, dalam hal ini dunia baru berupa materi belajar butuh sensasi yang dahsyat.  Guru harus kreatif mendesain proses belajar yang identik dengan bermain. Sehingga anak tidak merasa lelah dan bosan, sebab mereka sedang dalam permainan.

Proses pembelajaran yang disulap dengan berbagai permainan inilah yang menjadi harapan semua anak. Inilah sekolah idaman, tempat anak belajar dengan gembira dan menyenangkan.  Setidaknya, untuk memperkaya referensi dalam menciptakan metode pembelajaran di kelas yang menyenangkan, buku berjudul Permainan dalam Dinamika Kelompok dapat dijadikan rujukan. Buku ini ditulis oleh seorang trainer nasional Wahyu Eko Handayani, asal Tarakan. Buku ini ditulis berdasarkan hasil pengalaman pribadi beliau bertahun-tahun mengisi pelatihan, khususnya terhadap orang-orang dewasa. Ketika pelatihan disulap, proses pembelajaran dimodifikasi dengan berbagai permainan, ia merasakan betapa sesungguhnya para peserta pelatihan bergembira dengan hal tersebut.

Oleh sebab itu, ia tidak ingin menyimpan pengalaman pribadi tersebut dalam kenangan, lalu dalam beberapa bulan lahirlah buku tersebut.  Meskipun isi buku tersebut diterapkan pada orang dewasa, tetapi secara genealogi sesungguhnya berbagai macam permainan dan teori dinamika kelompok yang dihadirkan dalam buku tersebut dapat diterapkan di segala umur. Apalagi dunia anak yang sesungguhnya sangat merindukan proses belajar yang menyenangkan.  Tidak ada gading yang tak retak, tetap dalam buku ini ada beberapa catatan penting yang perlu ditambahkan.

Penulis buku tersebut dalam memaparkan contoh permainan tidak memberikan filosofi yang terkandung dari permainan tersebut. Mungkin penulis sengaja tidak memberikan uraian filosofis dari setiap permainan yang disajikan agar setiap pembaca memiliki kebebasan dalam memberikan makna terhadap permainan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *