Compassion: Nilai yang Ditinggalkan di Dunia Pendidikan

Home / Artikel / Compassion: Nilai yang Ditinggalkan di Dunia Pendidikan

Pundi.or.id – Beragam kekerasan di dunia pendidikan yang kerap menjadi viral di media sosial merupakan masalah pelik yang tidak bisa didiamkan begitu saja. Pasalnya, sekolah yang semestinya menjadi tempat aman untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, justru berubah wajah menjadi sangat menyeramkan dan menakutkan. Hal ini menandakan sesuatu yang paling fundamental tercerabut dari dasar-dasar pendidikan di sekolah. Hal tersebut adalah kemanusiaan.

Dunia pendidikan, khususnya sekolah, sepatutnya memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan. Mengaplikasikan dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pembelajaran membutuhkan cara yang tepat. Alih-alih ingin mendidik malah yang dipahami dan yang direkam peserta didik adalah tindakan kekerasan lantaran salah dalam menerapkan sanksi atau hukuman.

Berbagai sanksi dan hukuman seperti berdiri di depan kelas, dijemur, hingga membersihkan WC—bahkan kasus terbaru menjilati toilet— tak satu pun dapat dibenarkan. Hukuman-hukuman tersebut, selain berdampak secara fisik, juga menyebabkan problem psikologis, yaitu rasa malu dan kebencian yang tentu saja menghambat kemampuan belajar anak.

Tulisan ini berkepentingan menyampaikan pesan kemanusiaan yang paling dasar yang harus ditanamkan di setiap satuan pendidikan. Pesan tersebut adalah compassion, sebuah titik temu, yang dapat menyatukan nilai kemanusiaan, tanpa memandang suku, ras, golongan, bahkan agama. Sebab, compassion itu sendiri berurat dan berakar dari nilai agama yang paling luhur.

Titik Temu Kemanusiaan

Dalam al-Qur’an, ajaran kemanusiaan terdapat di berbagai ayat. Bahkan lembaran awal al-Qur’an telah mengajarkan kemanusiaan. Kalimat pertama yang dibaca pertama kali adalah bismillahirrahmanirrahim (kalimat basmallah). Dalam kalimat tersebut pembaca diperkenalkan dengan dua sifat Tuhan, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yang Maha Kasih dan Maha Penyayang. Artinya, hendaklah manusia mengilhami dua sifat Tuhan tersebut dalam segala langkah dan tindakan. Jangan sampai langkah dan tindakan bertolak belakang dengan semangat kasih dan sayang.

Dari pemahaman di atas, semestinya tidak ada hukuman yang mengandung kekerasan. Hukuman yang diberikan seorang guru semestinya berlandaskan nilai kasih dan sayang. Sangat ironis jika ada seorang guru yang tega menjemur muridnya di tengah terik sembari mengucapkan basmallah. Hal seperti itu tidak dapat dianggap sepele. Sebab, langkah dan tindakan guru tersebut bertentangan dengan substansi kalimat basmallah. Guru seperti ini sebenarnya menghinakan Tuhan. Dia mengakui Tuhan yang Maha Kasih dan Maha Penyayang, tetapi lakunya menunjukkan pengingkaran terhadap sifat Tuhan tersebut.

Dalam Surah An-Nisa (4) ayat 1, dijelaskan bahwa manusia diciptakan dari satu jiwa (min nafsi wahidah). Hamka menjelaskan dalam Tafsir Al-Azhar, bahwa orang lain adalah diri kita sendiri karena manusia diciptakan dari satu jiwa. Jika kita menyakiti orang lain, sesungguhnya menyakiti diri sendiri. Itulah sebabnya, dalam agama Islam diperintahkan untuk mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri. Begitu juga perintah memberi hadiah yang terbaik kepada orang lain, sebab pada hakikatnya memberikan hadiah yang terbaik pada diri sendiri. Dalam perkataan, juga harus dengan ucapan yang terbaik, sebab perkataan itu akan kembali kepada diri sendiri.

Dalam agama Kristen hal serupa juga sudah dijelaskan dalam kitab sucinya. Dalam Lukas 10: 30-36, dikisahkan bahwa suatu ketika Yesus memberikan nasihat dengan menceritakan kebaikan seorang Samaria saat menolong seorang pria yang terbujur tak berdaya di tengah jalan. Yesus mengajarkan bahwa orang-orang di sekitar kita adalah sama dengan kita, bukan musuh. Jadi, berbuat baiklah kepada siapa pun yang memerlukan pertolongan.
Dalam Matius 5: 43-48 juga dijelaskan oleh Yesus bahwa jangan sampai kebencian kepada musuh membuat seseorang menyakitinya. Bahkan, Yesus menganjurkan agar mengasihi musuh ataupun orang yang membenci dan lebih memilih untuk berdoa untuk keselamatan mereka.

Dalam agama Hindu prinsip untuk mengasihi sesama juga dijelaskan dalam kitab suci Chandogya Upanisad VI. 14. 1. Dijelaskan dalam kitab tersebut bahwa apa pun yang mendasari cinta kasih adalah ajaran yang menyatakan bahwa aku adalah kamu. Maknanya dikembangkan lagi menjadi engkau adalah dia, dia adalah mereka dan seterusnya. Inilah yang sering disebut dengan ”Tat Twam Asi”, yakni sebuah prinsip yang menganggap orang lain seperti diri sendiri. Jika seseorang menyakiti orang lain, maka pada hakikatnya sama dengan menyakiti diri sendiri. Dasar prinsip ini adalah karena manusia diciptakan min nafsi wahidah, dari jiwa yang satu.

Dalam ajaran Buddha hal ini disebut dengan Mettã, yakni rasa persaudaraan, persahabatan, pengorbanan, yang mendorong kemauan baik, memandang makhluk lain sama dengan dirinya sendiri (Dhammasugiri, 2004: 21). Dalam ajaran Buddha, hal inilah yang menyebabkan munculnya cinta kasih pada sesama manusia. Dengan prinsip hidup seperti ini, akan tercipta keharmonisan dalam kehidupan. Jadi, dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang tidak dapat memaksakan kehendak seenaknya. Oleh karena itu, harus ada pengorbanan terhadap ego (kepentingan pribadi) agar muncul kepentingan bersama.

Hal serupa juga terdapat dalam ajaran Konfusius, yang telah ada di muka bumi —tepatnya di tanah Tiongkok—ratusan tahun sebelum Islam lahir. Menurut Konfusius, manusia yang bermartabat adalah manusia yang memiliki ‘Ren’ atau Cinta Kasih. Konsep ‘Ren’ merupakan pusat kualitas moral manusia intisari dari cinta terhadap sesama, perikemanusiaan, hati nurani, keadilan, dan kasih sayang. Dalam Aksara China kata “Ren” dibentuk dari dua kata “Ren” yang artinya “manusia” dan kata “Er” yang artinya “dua”. Makna dari dua kata tersebut adalah hubungan antara dua manusia atau hubungan manusia dengan manusia berdasarkan kemanusiaan yang sama atau perikemanusiaan atau cinta kasih. Jadi, manusia yang satu dengan yang lain memiliki kesetaraan, sehingga harus diperlakukan secara baik, adil, dan bijaksana.

Dikisahkan suatu ketika Fan Chi (murid Konfusius) bertanya tentang ‘Ren’, lalu Konfusius menjawab, “cintailah manusia”. “Seorang yang memiliki Ren, jika ingin tegak, maka ia harus berusaha agar orang lain pun ikut tegak: jika ia ingin maju, maka ia berusaha agar orang lain pun maju.” Lanjutnya lagi, “demikian juga yang diri sendiri tidak inginkan hendaklah jangan diberikan kepada orang lain.”

Dari narasi di atas jelas sekali bahwa akar kemanusiaan yang dijelaskan oleh agama-agama adalah kesadaran bahwa orang lain adalah diri sendiri. Dari konsep ini akan muncul rasa welas asih, peduli, pengorbanan, keadilan, dan kebijaksanaan, yang hal ini oleh Karen Amstrong disebut dengan compassion, atau rahmah dalam Islam, Tat Twam Asi dalam Hindu, Mettã dalam Buddha, dan Ren menurut Konfusius. Terkait dengan kasus kekerasan dalam dunia pendidikan, khususnya sekolah, menurut hemat penulis compassion inilah yang sering diabaikan, bahkan mungkin saat ini sirna.

Pada situasi seperti sekarang, tidak ada salahnya jika meninjau kembali fondasi pendidikan di negeri ini yang masih berorientasi pada penalaran matematis. Bukankah tujuan utama pendidikan adalah memanusiakan manusia, yang tidak lain adalah manusia beradab?

Upaya Mengimplementasikan Nilai Compassion di Sekolah

Ada sebuah kisah dari sahabat yang menjelaskan tentang penyebab sampai sekarang orang Badui enggan menyekolahkan anaknya. Ketika berkunjung ke kampung Badui, dengan penuh penasaran, sahabat saya tadi memberanikan diri bertanya kepada salah seorang sesepuh Badui. Jawab sesepuh Badui, “memangnya sekolah menghasilkan apa?” Jawab sahabat tadi, “agar menghasilkan orang pintar.” Lalu, sesepuh Badui membalas, “kalau sekolah menghasilkan orang pintar, kami nggak butuh, yang kami butuhkan menghasilkan orang baik.”

Jawaban singkat dari sesepuh Badui dalam kisah singkat di atas sangat sederhana, tetapi menjadi kritik bagi dunia pendidikan secara luas. Substansi dari jawaban tersebut adalah mengharapkan out put pendidikan adalah manusia yang beradab. Untuk menciptakan manusia beradab, maka diperlukan seperangkat nilai yang harus dijadikan dasar, dan hal itu sudah dijelaskan panjang lebar di atas, yakni compassion.

Lantas, bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai tersebut di sekolah? Pertama, sekolah harus yakin bahwa nilai bukan ukuran segala-galanya dalam menilai kesuksesan seorang anak. Terlalu banyak potensi anak yang dikesampingkan jika nilai menjadi parameter keberhasilan.

Banyak kepala sekolah yang bangga jika sekolahnya mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian nasional, meskipun sikapnya dalam sosial buruk. Kondisi ini diperparah dengan respons masyarakat yang menganggap bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang dapat menghasilkan nilai ujian nasional tinggi. Padahal, obsesi seperti itu menguras banyak energi, biaya, dan waktu. Buruknya, obsesi tersebut terkadang mengorbankan kejujuran. Pelaku pendidikan rela melakukan apa pun agar siswanya lulus dengan nilai baik. Akhirnya, berbagai potensi anak tidak diurus, sebab semua proses pembelajaran hanya fokus pada beberapa mata pelajaran ujian nasional saja.

Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dijelaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat. Melihat undang-undang tersebut sebenarnya tidak ada yang salah pada fondasi pendidikan bangsa ini. Namun, arus globalisasi, tuntutan dunia industri, dan kebutuhan ekonomi mengubah segala pola pikir dan perspektif tentang pendidikan. Hanya idealisme para pelaku pendidikan saja yang dapat konsisten menjalankan cita-cita luhur tersebut. Meskipun, mereka dihadapkan pada tantangan, apakah satuan pendidikan yang idealis seperti itu dapat survive di kemudian hari?

Kedua, membangun kebersamaan bukan menegasikan. Spirit kebersamaan antarsiswa kian pudar tidak dapat disanggah. Padahal, kebersamaan sangat membantu perkembangan kepribadian anak. Adanya gawai membuat anak sibuk dengan dunianya sendiri. Mereka terisolir dari dunia luar, sehingga jarang melakukan kontak dengan individu lain. Bersosialisasi dengan orang lain dianggap tidak penting. Akhirnya, kebersamaan tidak menjadi kebutuhan dalam diri anak. Pada kondisi ini, anak menjadi egois, dan sibuk dengan dirinya sendiri.

Saat ini, sangat jarang orang tua memantau tingkat sosialisasi anak pada dunia luar. Menanyakan berapa jumlah teman, siapa saja temannya di sekolah, rumah temannya di mana, menjadi bahasa asing di telinga anak. Orang tua lebih sering menanyakan bagaimana ujian di sekolah, ada PR atau tidak, dapat peringkat berapa. Kalau nilai anak jelek, orang tua segera mengundang guru privat. Seolah-olah sekolah hanya perkara nilai, bukan persahabatan. Sadarkah bahwa proses tersebut akhirnya membentuk konsep diri pada anak? Teman dan sahabat tidak penting, yang penting adalah nilai. Nilai bagus, orang tua senang. Orang tua senang, dapat gawai baru. Akhirnya, kebersamaan dinegasikan.

Sekolah yang menyadari pentingnya kebersamaan juga jarang. Dilihat dari setting tempat duduk yang menghadap ke depan, menandakan anak harus berjuang sendiri dalam memahami pelajaran. Kerja kelompok jarang menjadi ukuran. Pujian lebih sering diberikan kepada seorang siswa yang mampu menjawab soal. Proses belajar seperti ini menegasikan individu lainnya. Anak yang pintar semakin sombong, sementara yang tidak mampu menjawab soal semakin terpuruk. Mereka dianggap tidak berarti di kelas. Begitulah naifnya model pembelajaran di sekolah yang orientasinya hanya nilai.

Mengapa setting meja di kelas tidak dibuat melingkar? Padahal dengan melingkar, anak yang tidak dapat menjawab soal dapat bertanya pada teman yang mampu menjawab dan yang mampu menjawab dapat menularkan kemampuannya. Di situlah terjadi tukar menukar pengetahuan yang paling sederhana. Kerja kelompok atau kelompok belajar menanamkan spirit, tidak hanya aku yang bisa, tetapi kita bisa bersama. Bukan hanya aku yang unggul, melainkan kita unggul bersama. Secara tidak sadar mereka akhirnya belajar menjadi super team, bukan superman.

Ketiga, menumbuhkan kepedulian terhadap orang lain. Selain kebersamaan, kepedulian terhadap orang lain menjadi hal penting dalam membantu pertumbuhan kepribadian humanis anak. Dua fondasi kepedulian dalam konsepsi compassion adalah simpati dan empati. Proses pembelajaran juga harus memberikan ruang kepada anak untuk mengekspresikan rasa simpati dan empati terhadap orang lain.

Hal sederhana dapat diawali dengan merayakan ulang tahun teman sekelas. Perayaan ulang tahun tidak harus dengan glamour dipenuhi dengan berbagai hiburan. Hadiah ulang tahun bisa berupa puisi, nasihat, dan pantun yang dibacakan bergantian di depan kelas untuk yang ulang tahun. Ucapan puisi, nasihat, dan pantun tersebut menjadi hadiah yang begitu berkesan. Padahal, isinya nasihat untuk semua.

Membiasakan mendoakan teman sekelas yang mendapatkan musibah. Mengajak siswa menengok teman sekelas yang sakit. Mengumpulkan sumbangan bagi teman atau kerabat dari teman yang terkena musibah. Sebenarnya, banyak model untuk menumbuhkan rasa simpati dan empati tersebut. Mungkin yang paling berkesan adalah memberikan hadiah sepatu kepada teman sekelas yang sepatunya rusak atau tidak layak. Menurut penelitian Stephen Post dalam bukunya Why Good Things Happen to the Good People, remaja yang sering berbagi sesuatu dengan temannya akan berkurang tingkat stress dalam proses belajar.

Keempat, mentradisikan berterima kasih. Hal sepele dan yang tidak membutuhkan biaya adalah mengucapkan terima kasih kepada seseorang. Jika anda seorang guru, pernahkah melakukan introspeksi diri di setiap akhir tahun, sekedar menghitung seberapa banyak siswa yang mengucapkan terima kasih kepada Anda karena telah mengajarkan sesuatu? Jawabnya mungkin menyesakkan dada. Sebab hampir sebagian besar dari murid-murid Anda tidak mengucapkan apa pun, bahkan mungkin bersyukur telah lepas dari ampuan Anda.
Krisis terima kasih sesungguhnya menjadi gejala umum, baik dalam keluarga, masyarakat maupun sekolah. Istri yang baru menerima uang bulanan tidak mengucapkan terima kasih kepada suami. Suami yang baru saja mencumbui istrinya lebih sering langsung tidur, tanpa sempat mencium kening sang istri dan mengucapkan terima kasih. Anak yang baru diberi uang saku langsung lari tanpa sempat mengucapkan terima kasih kepada orang tuanya. Pelanggan jarang mengucapkan terima kasih kepada pramusaji setelah menghidangkan minuman. Karyawan setelah menerima gaji tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada pimpinan. Kata terima kasih begitu singkat, tetapi berat untuk dilaksanakan.

Terima kasih bukanlah hanya kata-kata setelah seseorang dibantu, melainkan sikap menghargai atas jerih payah orang lain. Meskipun jerih payah itu merupakan kewajiban yang kadang kala tidak berarti apa-apa. Terima kasih adalah respons positif terhadap sikap orang lain terlepas bermanfaat atau tidak. Dengan berterima kasih kepada orang lain, berarti seseorang telah mengakui keberadaannya secara positif. Sikap inilah yang sesungguhnya dapat menepis keangkuhan dan karakter meremehkan orang lain.

Pendidikan tidak lain adalah upaya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan pada diri siswa. Merindukan sekolah yang humanis adalah kerinduan semua orang. Dasar nilai-nilai humanis adalah compassion atau rahmah, yakni sikap hidup yang berorientasi pada orang lain untuk menumbuhkan eco-system (kebersamaan), bukan ego-system (hidup soliter), untuk membangun nahnuniyah (kemitraan), bukan ananiyah (keakuan). Karena pada hakikatnya, orang hidup itu untuk service (melayani), bukan selfish (mendapatkan keuntungan sendiri).

Oleh : Hatib Rahmawan

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *