Kekerasan Seksual terhadap Anak: Fenomena dan Solusinya

Home / Artikel / Kekerasan Seksual terhadap Anak: Fenomena dan Solusinya

Pundi.or.id – Akhir-akhir ini pemberitaan dan perhatian publik terhadap kasus kekerasan di Indonesia mengalami penurunan dan bahkan tidak lagi menjadi berita dan bahasan yang seksi. Sementara angka kekerasan pada anak semakin meningkat tajam. Pada 7 Tahun terakhir, Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan 26.954 kasus kekerasan terhadap anak dengan cluster pornografi anak dan Cyber Crime menjadi salah satu unsur dominannya. Selain itu pada 3 Tahun terakhir KPAI juga menemukan 454 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Akhir-akhir ini pemberitaan dan perhatian publik terhadap kasus kekerasan di Indonesia mengalami penurunan dan bahkan tidak lagi menjadi berita dan bahasan yang seksi. Sementara angka kekerasan pada anak semakin meningkat tajam. Pada 7 Tahun terakhir, Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan 26.954 kasus kekerasan terhadap anak dengan cluster pornografi anak dan Cyber Crime menjadi salah satu unsur dominannya. Selain itu pada 3 Tahun terakhir KPAI juga menemukan 454 kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Data-data tersebut di atas perlu dijadikan perhatian dan sekaligus juga sebagai peringatan bersama. Trend perkembangan tiap tahun yang terus meningkat dan berkembang telah menggiring Indonesia pada tahap kondisi darurat kekerasan seksual terutama pada anak. Secara umum kekerasan seksual pada anak adalah suatu bentuk penyiksaan anak dimana orang dewasa atau remaja yang lebih tua atau bahkan dilakukan oleh anak-anak sendiri dengan menggunakan anak-anak sebagai rangsangan atau pelampiasan seksual. Bentuk pelecehan seksual pada anak dapat berupa meminta atau menekan seorang anak untuk melakukan aktivitas seksual (terlepas dari hasilnya), memberikan paparan yang tidak senonoh dari alat kelamin anak, melihat alat kelamin anak tanpa kontak fisik (kecuali dalam konteks non-seksual seperti pemeriksaan medis) atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi.

Model dan Jenis Kekerasan Seksual

Seiring perkembangan zaman bisa jadi akan terjadi perubahan model dan jenis kekerasan seksual, karena saat ini kemudahan akses teknologi bisa jadi menembus ruang dan waktu dengan lebih cepat. Menurut David Finkelhar dalam Prostitusi of Juveniles Patterns (2004) membagi kekerasan seksual pada anak menjadi tiga, yaitu pelecehan seksual, eksplotasi seksual, dan perawatan seksual.  Pertama, pelecehan seksual adalah tindak pidana dimana seseorang menyentuh secara fisik anak di bawah umur untuk tujuan kepuasan seksual. Hal yang sering kita temukan pelecehan seksual ini seperti perkosaan pada anak, sodomi anak, dan yang marak akhir-akhir ini adalah pedofilia dan masih banyak lagi.

Kedua, eksploitasi seksual, yaitu tindakan pidana dimana seseorang melakukan kekerasan terhadap anak di bawah umur untuk tujuan promosi, kepuasan seksual atau keuntungan. Biasanya yang termasuk dalam eksploitasi seksual ini seperti prostitusi anak baik offline ataupun online, pornografi anak dll.  Ketiga, perawatan seksual merupakan kegiatan menentukan perilaku seks dengan memberikan pelayanan di ruang publik secara langsung ataupun tidak langsung. Saat ini yang termasuk perawatan seksual adalah layanan seks anak di media sosial.

Fenomena Kekerasan pada Anak

Kekerasan seksual pada anak sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Namun seiring perubahan jaman dan kecanggihan teknologi, seolah tidak bisa membendung lonjakan kejadian tiap tahun bahkan dekade. Anne Hastings dalam From Generation to generation: Understanding Sexual Atractive to Children, menyampaikan bahwa kekerasan seksual pada anak menggambarkan perubahan-perubahan dalam sikap terhadap pelecehan seksual anak sebagai “awal dari salah satu revolusi terbesar sejarah sosial”. Mengapa demikian? Sebab korban yang merupakan anak adalah generasi mendatang yang akan menggerakkan roda negara. Maka efek yang ditimbulkan sebagai korban jika tidak dituntaskan dalam penyembuhannya akan menjadi awal kehancuran hidup seseorang dan secara tidak langsung juga menghancurkan masa depan bangsa.

Maka harusnya perlu dikaji tentang penyebab kekerasan seksual agar bisa segera diatasi sebelum munculnya korban. Menurut data dari Kemensos yang dirilis pada 7 Desember 2017, terjadi perubahan yang signifikan terhadap penyebab kekerasan seksual pada anak. Perubahan ini dimungkinkan karena adanya Perubahan sosial, ekonomi dan bahkan teknologi. Faktor penyebab determinan anak melakukan kekerasan seksual pada anak adalah pornografi (43%), pengaruh teman (33%), pengaruh narkoba/obat (11%), pengaruh historisitas pernah menjadi korban atau trauma masa kecil (10%), dan pengaruh keluarga (10%). Pergeseran penyebab kekerasan seksual pada anak hari ini nyatanya bukan lagi faktor keluarga, namun tampaknya akses pornografi yang sebagian besar diperoleh dari gadget nampaknya lebih membahayakan.

Dalam hal ini kontrol penggunaan gadget serta kecanggihan teknologi yang dapat diakses langsung oleh anak menjadi faktor terbesar dari penyebab tindak kekerasan. Sungguh sangat disayangkan, alat yang semestinya digunakan untuk mengakses teknologi justru menghancurkan moral. Sementara penyebab seseorang melakukan kekerasan seksual yang terhimpun dari berbagai sumber sangat beragam. Sebagian menyampaikan bahwa kekerasan seksual pada anak terjadi karena adanya kesempatan serta adanya kemungkinan pelaku untuk melampiaskan. Beberapa penyebab yang lain adalah sebagai berikut: Adanya riwayat kekerasan seksual di masa lampau turut menjadikan penyebab adanya kekerasan karena orang tersebut memiliki keinginan untuk melakukan perbuatan yang sama terhadap orang lain; keluarga yang tidak harmonis; benci terhadap anak; kelainan seksual dari pelaku; penggunaan akses media yang tidak terkontrol; pola dan bentuk permainan yang mempengaruhi untuk berperilaku menyimpang (hal ini nyata, karena sebagian kekerasan seksual pada anak memakai dalih “bermain-main”); pendidikan seksualitas yang belum menyeluruh; pengaruh lingkungan tempat tinggal.

Hal ini semuanya tentunya bisa diatasi jika orang tua memiliki kedekatan dan selalu memberikan pendidikan agama sebagai fondasinya. Betapa bahayanya perilaku kekerasan seksual pada anak yang tentunya akan mempengaruhi kondisi kejiwaan anak selama hidup dan tentunya kondisi sosial masyarakat. Selain itu efek kekerasan seksual pada anak secara pribadi, yaitu depresi, gangguan stress pasca trauma, kegelisahan, kecenderungan menjadi korban atau pelaku lebih lanjut pada masa dewasa dan cedera fisik biologis anak di masa perkembangan selanjutnya. Dampak yang lain jika kekerasan seksual pada anak dilakukan oleh orang terdekat maka akan mengakibatkan inces dan dapat mengakibatkan dampak yang lebih serius serta trauma psikologis jangka panjang terutama kasus inces dengan orang tua.

Upaya Pencegahan 

Sebagai pencegahannya yang dilakukan oleh pemerintah saat ini belum dirasa maksimal. Mestinya pencegahan dan penanganan dipisahkan, serta seluruh elemen bangsa memberikan perhatian serius dan tidak kalah serius dengan masalah politik. Pencegahan kekerasan seksual pada anak mestinya dilakukan dari keluarga dan ini paling penting. Sebab kunci penanganan dan rehabilitasi pun juga bertumpu pada keluarga. Ironisnya dengan kondisi serta tuntutan ekonomi saat ini banyak ayah dan ibu bekerja sementara waktu, sementara porsi waktu untuk anak tidak maksimal.

Pencegahan juga bisa dilakukan atas sinergi dan kerjasama dari masyarakat serta lembaga kemasyarakatan atau organisasi kemasyarakatan berbasis agama. Pencegahan pun juga bisa dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti sosialisasi ataupun klinik-klinik berjalan. Sementara untuk penanganan tidak hanya penegak hukum, namun pihak-pihak terkait dan dinas-dinas lintas sektoral mestinya juga turut ambil bagian. Kerja bersama ini bisa dilakukan dalam satu atap pengaduan atau seperti yang dilakukan di negara-negara maju bahwa kejadian perkara kekerasan seksual pada anak tidak ditangani oleh penegak hukum namun memiliki lembaga terpadu bagi korban terdiri dari  penegakan hukum, rehabilitasi, dan advokasi.

Sementara dalam hukum perlu kiranya restorative justice dengan mendahulukan kepentingan anak. Dalam hal ini korban dan pelaku, terutama jika pelaku adalah anak, maka harus benar-benar ditangani dengan hati-hati, jangan sampai terjebak menjadi praktek makelar kasus yang selama ini terjadi dan diakhiri dengan musyawarah penyelesaian finansial tetapi mengabaikan unsur intervensi psikologis pada anak, baik sebagai korban maupun pelaku. Dalam perkembangannya, sudah saatnya untuk dibentuk pusat pemulihan anak-anak korban dan pelaku kekerasan seksual, terutama agar tersimpan data base korban sehingga mudah dimonitor proses tumbuh kembangnya.

Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi perempuan yang ramah terhadap perempuan dan anak menjadikan persoalan kekerasan seksual pada anak ini sebagai salah satu prioritas yang harus segera diselesaikan. Dengan upaya mensosialisasikan bahaya kekerasan seksual serta memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi pada remaja melalui PASHMINA (Pelayanan remaja sehat milik Nasyiatul aisyiyah). Upaya yang lain adalah dengan melakukan paralegal dan advokasi pada beberapa kasus kekerasan seksual pada anak secara percuma. Tentunya NA melakukan hal ini senantiasa berkolaborasi dengan berbagai pihak, karena sebagai organisasi kemasyarakatan, NA adalah supporting system dalam pemerintahan. Untuk itu, mari cegah kekerasan seksual pada anak dari diri kita-sendiri dan lingkungan sekitar kita.

Oleh: Diyah Puspitarini (Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *