Pendidikan Seolah-olah

Home / Artikel / Pendidikan Seolah-olah

pundi.or.id – Banyak pendidik (guru) yang mengajar peserta didiknya (siswa) dengan berbagai upaya, tetapi tidak terjadi proses pembelajaran. Itulah yang disebut dengan mengajar seolah-olah atau seolah-olah mengajar. Karena pendidiknya mengajar seolah-olah, peserta didiknya belajar seolah-olah. Karena belajarnya seolah-olah maka di akhir pendidikannya ia lulus, tetapi menjadi lulusan seolah-olah. Menjadi sarjana pun, sarjana seolah-olah.
Jika dikatakan mengajarnya seolah-olah, bukan berarti para pendidik itu tidak bersungguh-sungguh. Mereka bersungguh-sungguh. Bahkan mereka sangat sungguh-sungguh berusaha mengajar peserta didiknya. Mereka menyusun rencana pembelajaran sedemikian rupa hingga habis sebagian waktunya untuk merancang pembelajaran. Mereka siapkan media-media pembelajaran yang diperlukan hingga mereka tidak sempat mencari waktu luang untuk beristirahat. Akan tetapi, upaya-upaya yang dilakukannya itu masih juga belum membuahkan hasil yang diinginkan. Mereka belum juga berhasil menciptakan etos belajar peserta didiknya dengan baik. Mengapa itu terjadi? Salah satu sebabnya mereka tidak berangkat dari paradigma pembelajaran yang tepat.

Apakah paradigma itu dan mengapa paradigma menjadi penting hingga begitu menentukan keberhasilan sebuah proses pembelajaran? Paradigma, menurut Thomas Kuhn, adalah model atau pola berpikir. Sementara George Ritzer, mengartikan paradigma sebagai cara orang bertanya atau cara melihat masalah dan cara memberikan jawabannya. Oleh karena itu, beda paradigma, akan membedakan cara melihat masalah serta menemukakan pertanyaan dan menjawabnya.

Dalam interaksi sosial, jangan bertanya tentang anaknya berapa kepada orang Barat, karena mereka berparadigma nuclear family. Beda dengan orang Indonesia yang berpola pikir extended family. Mempertanyakan soal anak bukan tabu, melainkan justru dianggap familiar. Jika bertemu teman lama, tidak ada masalah jika setelah bertanya apa kabar, lalu menanyakan “sudah punya anak berapa?”
Dalam hal pembelajaran, ada dua paradigma besar. Pertama, subjektivis (subjektivism) dan kedua, objektivis (objectivism).

Penganut subjektivis, memandang pembelajar adalah individu yang memiliki kesadaran subjektif. Individu mempunyai cara sendiri dalam memberi makna dan mengonstruksi dunianya. Dengan asumsi dasar seperti itu pembelajaran harus didesain ke dalam proses pengembangan diri yang berangkat dari dorongan subjektif. Tugas guru memfasilitasi dan mendesain pembelajaran agar siswa aktif mengembangkan diri dengan dorongan intrinsiknya, sehingga tindakan pembelajar merupakan hasil dari dorongan dan kesadaran intrinsik pembelajar itu sendiri. Para penganut mazhab cognitive, social cognitive, humanism, dan constructivism memandang pembelajaran dari pendekatan subjektivism ini.

Sementara itu, paradigma objectivism memandang pembelajaran sebagai proses pengembangan kepribadian yang berangkat dari dorongan extrinsic. Pembelajaran terjadi jika ada intervensi dan stimulus atau dorongan dari luar. Tugas guru adalah mengintervensikan perlakuan tertentu sebagai stimulus siswa melakukan pembelajaran. Penganut mazhab behavioris mendesain pembelajaran menggunakan paradigma objectivism ini.

Paradigma behavioristik inilah yang paling banyak diterapkan oleh para pendidik sehingga yang tumbuh adalah budaya belajar menunggu stimulus, menunggu intervensi dari luar. Kalau stimulus dan intervensi dari luar tidak ada, tidak ada perintah dari guru, apalagi tanpa pengawasan maka siswa tidak belajar. Tidak diminta oleh guru maka siswa tidak membaca. Tidak ada perintah dari guru maka siswa tidak melakukan apa-apa, sehingga kemudian menjadi manusia-manusia behavioris, yaitu manusia yang bertindak tergantung pada stimulus. Dalam paradigma behavioris seperti ini, guru menjadi segala-galanya. Guru menjadi pemain utama dan menjadi faktor sentral dalam seluruh proses pembelajaran. Sementara itu, siswa ditempatkan sebagai objek dari berbagai stimulus dan strategi pembelajarannya.

Kita memerlukan para peserta didik yang bisa berperan sebagai subjek, yang berbuat dan bertindak serta punya semangat belajar, semangat membaca, semangat mengembangkan diri, tanpa menunggu stimulus. Mereka berusaha berbuat dan melakukan sesuatu yang bisa mengembangkan potensi kognitif, afektif, beserta psikomotornya atas dasar dorongan intrinsik. Akhirnya, peserta didik yang diharapkan adalah yang berinisiatif, belajar mengarahkan dan mendorong diri sendiri (selfdirecting), serta berusaha berbuat, berimajinasi, dan berkreasi.
Strategi pembelajaran bisa dikatakan efektif apabila berhasil menumbuhkan semangat para peserta didik hingga bisa tampil sebagai subjek. Pembelajaran yang efektif itu bisa dicapai kalau menggunakan pendekatan konstruktivistik atau pembelajaran yang berangkat dari dorongan subjektif siswa. Siswalah yang menjadi pusat pembelajaran. Siswalah yang membangun motivasi belajarnya karena dorongan dari dalam diri siswa sendiri. Tugas guru adalah menjadi fasilitator sedemikian rupa sehingga siswa mendapatkan iklim yang kondusif untuk mengembangkan etos belajarnya dengan baik.

Jadi, kesimpulannya:
begitu penting para guru dan juga dosen meninjau kembali paradigma yang digunakan. Paradigma yang tepat adalah paradigma yang bisa menjadikan manusia potensial, yang memiliki kekuatan subjektif untuk tampil sebagai subjek yang selalu berinisiatif, mengembangkan diri, dan berkreasi. Berbagai faktor eksternal, seperti lingkungan fisik maupun sosial, dijadikannya untuk memperkuat upaya-upaya mengembangkan potensi kognitif, psikomotorik, maupun afektif peserta didik.

oleh: Prof. Zainuddin Maliki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.