Mengajar Secara Profesional

Home / Artikel / Mengajar Secara Profesional

Saya masih menyimpan catatan refleksi kecil usai membaca hasil ujian para murid yang saya ajar. “Sebagai guru, saya sedih ketika hasil ujian para siswa tidak optimal. Kesedihan itulah wujud konkret pertanggungjawaban profesional saya, menunjuk pada diri sendiri, bukan menunjuk siswa sebagai biang persoalan.” Memaknai profesionalitas guru menjadi penting sejauh bertolak dari fakta dan situasi riil di sekolah. Lewat angka atau berbagai data, para guru dan pengampu kebijakan pendidikan dapat mengarahkan pemikiran secara konkret demi perbaikan. Jika hasil ujian siswa tidak optimal, bagaimana guru dapat dinilai profesional? Itulah takaran sederhana mengenai profesional.

Salah satu tolakan untuk merefleksikan profesionalitas guru di suatu sekolah adalah capaian hasil ujian nasional, meskipun sebagai sarana standardisasi masih disempurnakan terus-menerus keandalannya. Kompas, 31 Mei 2018, memberitakan bahwa hasil ujian nasional tingkat sekolah menengah pertama selama tiga tahun pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) menurun. Pada 2016, rata-rata nilai UN SMP/MTs sebesar 58,61, pada 2017 menurun menjadi 54,25, dan pada 2018 menurun lagi menjadi 51,08. Hasil UNBK itu dinilai semakin kredibel karena kecurangan semakin sulit dilakukan dan menggambarkan capaian kompetensi lulusan siswa yang sesungguhnya. Berdasarkan hasil ujian tersebut, penting kiranya dipaparkan di sini kesadaran guru akan profesionalitas dan upaya menghadirkan guru yang profesional di depan kelas.

Kesadaran Guru
Hasil UNBK, baik di pendidikan dasar maupun menengah, menjadi refleksi dan penggambaran proses pembelajaran di kelas, gambaran capaian kompetensi siswa dan kemampuan guru mengajar. Memang realitas pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil UN, karena UN hanya salah satu indikator yang mengukur sebagian kecil capaian siswa. Namun, hasil UN dapat dikaitkan dengan profesionalitas guru ketika dua tahun terakhir UN tidak lagi sebagai penentu utama kelulusan siswa. Penentu kelulusan justru guru dan pihak sekolah, secara perlahan Kemendikbud menyerahkan otoritas penilaian kepada guru hingga 100 persen.

Sebagai guru yang mengajar di kelas akhir, saya dapat membedakan semangat belajar siswa antara zaman UN sebagai penentu kelulusan dan era UN bukan sebagai penentu kelulusan. Semangat belajar siswa semestinya konsisten, apa pun tujuan ujian akhirnya. Jika nilai UN turun ketika tidak lagi menjadi penentu kelulusan, maka realitas yang dapat dibaca adalah kegagalan guru memotivasi siswanya. Siswa kehilangan orientasi pembelajaran. Ketika UN dijadikan penentu kelulusan, dapat dibaca bahwa UN menjadi ”hantu” yang bisa memacu siswa belajar dan menempuh ujian demi nilai baik (bahkan sampai menempuh cara apa pun).

Desakan agar gurulah yang berwenang mengevaluasi siswa ternyata menampakkan otoritas guru sebagai pemotivasi siswa yang runtuh tanpa UN. Sejumlah pengalaman di sekolah, pasca-UN bukan penentu kelulusan, para guru menyebut tidak mudah memotivasi siswa belajar keras, tidak mudah meyakinkan siswa untuk meraih hasil belajar optimal. Guru telah meminjam “otoritas” UN ketika berdiri di depan kelas. Diam-diam guru berlindung di balik wibawa UN alias “kekudhung walulang macan”. Oleh karena itu, profesionalisme guru selama ini semu, kemampuan guru memperbarui keahlian bidangnya harus dibarengi keahlian mengelola kelas.

Sejalan dengan Youngs (2002), bahwa kian hari masih ditemukan situasi di kelas; guru: 1) kurang menguasai ilmu yang diampu; 2) kurang percaya diri di depan kelas; dan 3) metode mengajarnya buruk. Meskipun perlu upaya pemerataan, para guru kini mengalami berbagai pembinaan, baik dari sekolah, yayasan, maupun Kemendikbud, mengenai bidang ilmu dan pembelajaran. Saya curiga banyak guru terus mengerjakan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang sama dari tahun ke tahun. Mereka tidak ada bedanya dengan manual worker yang cara kerjanya sangat mekanistik, tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Sementara sebagai customer, siswa memiliki pengalaman baru, pengetahuan baru, dan mencicipi banyak teknologi baru. Guru tidak pernah mendefinisikan ulang pekerjaan mereka karena memang tidak pernah mempelajari dan merebut teknologi baru.

Transfer Ilmu
Sejauh pengamatan saya terhadap dinamika interaksi antara guru dan siswa di kelas, saya berani menyebut bahwa guru hanya siap mengajar. Namun, guru tidak pernah menyiapkan siswa untuk belajar. Memberikan ruang belajar kepada siswa berarti mengelola kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam dimensi profesionalitas, guru dituntut untuk memotivasi dan melibatkan siswa dalam proses belajar, dengan menggunakan gaya, strategi, dan teknik pengajaran yang sesuai dengan konteks pembelajaran. Tugas-tugas pembelajaran disusun demi kebutuhan-kebutuhan belajar individu, dan perbedaan-perbedaan latar belakang siswa serta mengoptimalkan waktu belajar. Perlunya memperhitungkan efek-efek perbedaan kemampuan fisik, intelektual, dan daya dukung alam selama proses belajar dengan mengingat bahwa siswa mempunyai potensi untuk tumbuh.

Metode pengajaran yang paling baik di kelas hanyalah metode yang efektif membuat siswa paham materi pelajaran. Materi yang sulit menjadi mudah, yang rumit menjadi sederhana, itulah semangat dasar guru dalam membawakan pelajaran di depan siswanya. Namun, jamak terjadi guru mendahulukan kewibawaan untuk ditakuti, daripada membawa kegembiraan dan pemahaman di dalam kelas. Apa pun metode pengajaran yang dilakukan guru tentu saja membutuhkan pengelolaan kelas. Artinya, guru membantu siswa fokus, siap belajar, dan tidak membiarkan berbagai ekses belajar diciptakan siswa. Tidak jarang siswa tampak loyo hingga tidur, mencari kesibukan dengan gawai, atau bahkan mengganggu kelas dengan membuat keributan.

Howard Gardner telah membantu guru dengan teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Siswa-siswa di kelas membawa potensi diri dengan berbagai tipe kecerdasan. Pilihan metode mengajar yang diambil oleh guru mestinya dengan mengenali konteks kecerdasan para siswa di kelasnya. Dalam satu masa guru cenderung berceramah, sehingga siswa tidak berkesempatan untuk berinteraksi. Namun, ketika muncul kritik atas metode ceramah, lantas guru membawa pelajaran dalam suasana siswa aktif. Nah, yang terjadi, pilihan suasana siswa aktif ini menjurus ke aras tidak terkendali. Guru melakukan pembiaran terhadap kelas asalkan siswa-siswanya senang.

Menjadi Profesional
Mendorong guru untuk profesional dapat dilakukan dengan menempatkan mereka dalam relasi produsen dan konsumen, pelayan dan pelanggan. Tidak jarang relasi produsen dan konsumen memunculkan kritik atau umpan balik atas pelayanan yang diterimanya. Pernahkah guru mau mendengarkan kritikan siswa yang dilayaninya? Kepentingan siswa sebagai konsumen mestinya mendapatkan prioritas perbaikan kinerja guru.

Mengabdi pada kepentingan konsumen yakni siswa akan membawa guru pada upaya tiada henti memperkaya variasi metode dan cara penyampaian pelajaran yang efektif untuk siswanya. Kemalasan memahami konteks siswa yang dihadapi tampak pada guru yang hanya mengandalkan satu cara pengajaran di kelas. Memperkaya variasi pembelajaran berarti juga memberikan penghargaan pada keragaman kecerdasan siswa. Guru seperti itu hadir di kelas bukan hanya untuk sebagian siswa, tetapi untuk seluruh siswa dengan memperhitungkan satu per satu kekhasannya. Ketika capaian nilai siswa-siswanya kurang memuaskan, guru mesti mencari pendakatan yang cocok untuk karakter siswa-siswanya. Namun, tidak jarang guru berdalih “siswa-siswa tidak mudah memahami pelajaran karena kemampuan mereka yang rendah”, artinya tudingan biang rendahnya pemahaman siswa tetap ada pada siswa, sementara guru sendiri tidak melakukan otokritik.

Akhirnya, sebagai guru yang berusaha profesional acapkali menjumpai pengalaman di kelas yang bukan ranah kewenangan saya. Ketika siswa tidak siap belajar, saya menduga bahwa tidak sedikit keluarga yang abai menjalankan fungsi dasarnya. Anak-anak datang ke sekolah tanpa sarapan, kurang tidur, tidak mengerjakan PR, dan merasa tidak ada yang peduli padanya, sehingga menyulitkan belajar. Jika keluarga tidak melakukan pembiasaan, bahkan untuk yang mendasar sekali pun, guru harus mulai dari nol. Guru mengetahui ada sesuatu yang harus dilakukan untuk mengajarkan nilai-nilai dalam pembentukan pribadi siswa, sekolah menyusun program pengajaran dan pendidikan, tetapi seprofesional apa pun seorang guru tetaplah bermitra dengan keluarga. ***

Oleh: St. Kartono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.