Info Cegatan Jogja, Perluasan Gerakan Sosial Media Menuju Gerakan Sosial Kemasyarakatan

Home / Artikel / Info Cegatan Jogja, Perluasan Gerakan Sosial Media Menuju Gerakan Sosial Kemasyarakatan

pundi.or.id – Apakah Anda pernah merasa kesal dan kecewa ketika dalam perjalanan menuju tempat tujuan dihadang oleh polisi?. Mungkin ada yang merasa tidak kesal, tetapi tidak sedikit yang harus mengalami rasa kecewa dan kesal. Razia atau “cegatan” merupakan bencana bagi pengendara yang tidak memenuhi ketentuan berlalu lintas dan berkendara, tetapi biasa saja bagi pengendara yang tertib. Berkenaan dengan ”cegatan”, memunculkan ide dari anak muda kreatif sehingga hadirlah komunitas media sosial (Facebook) dengan nama Info Cegatan Jogja (ICJ).

Yanto Sumantri dan rekan-rekannya memilih diksi “cegatan” sebagai nama komunitas media sosial karena memiliki makna yang luas. “Cegatan” tidak dimaknai sebatas razia yang dilakukan oleh kepolisian, tetapi diperluas sebagai hambatan-hambatan yang menghalangi masyarakat untuk memperoleh kemudahan dalam pelayanan publik, dan keadaan sosial di sekitar masyarakat Jogja. “Istilah cegatan kami artikan kendala-kendala yang dialami masyarakat dalam mengurus sesuatu, terutama dalam pelayanan publik, tidak semata cegatan lalu lintas. Cegatan lalu lintas kebetulan topik yang sangat menarik dan mudah dihapal”, tutur Antok sapaan akrab Yanto Sumantri inisiator ICJ.
ICJ hadir sebagai media informasi dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan kesiapan-siagaan masyarakat (warga Yogyakarta) agar tertib dalam berkendara, serta mengetahui informasi pelayanan publik secara umum di seputar Yogyakarta. Didirikan sejak tahun 2013 lalu, ICJ terus berkembang dari sekadar memberikan informasi layanan publik, birokrasi, dan sosial di seputar Yogyakarta, menjadi gerakan sosial seperti menerima bantuan penyaluran alat kesehatan dan juga bedah rumah.

Facebook (FB) menjadi pilihan Yanto dan rekan-rekannya sebagai media informasi karena fitur FB mudah diakses oleh semua orang. Cukup dengan menggunakan nomor telepon seseorang sudah bisa memiliki akun dan berselancar di FB. Selain itu menurut Antok, FB penggunanya banyak dari kalangan menengah ke bawah sebagai media sosial. Ternyata kehadiran komunitas ICJ mendapatkan respons baik, hingga 13 September 2018 tercatat anggota yang tergabung 891.972 akun. Di balik akun ICJ dikenal dengan admin dan moderator. Admin memiliki hak untuk mengelola secara penuh akun grup ICJ, sedangkan moderator memiliki tugas sebagai pengawal konten negatif dan konten yang melanggar aturan ICJ, seperti berdagang, iklan, provokasi, hoax, dan berita bohong.
ICJ hadir sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa mengeluh tidak akan menyelesaikan solusi, bergerak dan berbuat adalah solusi terbaik. ICJ ingin menumbuhkan rasa keistimewaan Yogyakarta, sebagaimana misalnya budaya gotong royong yang seolah redup di tengah gempuran modernisasi. Di tengah kemajuan peradaban, ternyata tidak membuat seseorang saling percaya, bentuk pertolongan seolah dicurigai sebagai bentuk perbuatan jahat, kehidupan penuh kecurigaan, masyarakat mengalami masa pascakebenaran. “Sekarang orang itu penuh curiga, ada seseorang yang mobilnya mogok, kemudian ada orang yang menghampiri untuk memberikan pertolongan, namun malah orang itu kabur, mereka takut”, ujar Antok, yang dijuluki panglima Salam Aspal Gronjal.

Relawan (anggota) ICJ menemukan bentuk kreativitas hingga mampu berkembang menjadi gerakan sosial. ICJ hadir tidak sekadar memberikan informasi seputar layanan publik dan sosial kemasyarakatan, tetapi mampu memberdayakan anggota ICJ untuk mewujudkan kerja nyata, misalnya bedah rumah dan penyaluran alat kesehatan.

ICJ membuktikan diri bahwa tidak sekadar informasi kesulitan dan hambatan-hambatan, yang diurusi. Namun, aksi penyelesaian melalui uluran tangan dapat juga diwujudkan untuk menyelesaikan hambatan-hambatan yang ada. Relawan ICJ berperan hanya sebatas sebagai petugas yang menerima bantuan alat kesehatan dan kemudian menyalurkan kepada orang yang membutuhkan. Untuk menjaga integritas, relawan dilarang menerima bantuan dalam bentuk uang, relawan hanya diperbolehkan menerima dan menyalurkan unit bantuan dalam bentuk barang. Sementara dalam kegiatan bedah rumah, yang sifatnya temporer, relawan ditugaskan untuk mengontrol pembangunan, sedangkan donatur dipersilakan menunjuk pemborong/kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan bedah rumah tersebut.

Komunitas ICJ membuktikan bahwa dengan pentingnya kebersamaan, saling tolong menolong, saling memberikan informasi yang bermanfaat akan membawa pada kemajuan suatu masyarakat. Tertib lalu lintas dan pengendara menjadi kesadaran jika terus saling mengingatkan. Kendala pelayanan umum seperti pembuatan SIM, KTP, Akte Lahir dan sebagainya lebih dipermudah saat aduan dari masyarakat menjadi lebih luas, pemerintah menjadi lebih cepat tanggap saat aduan masyarakat meluas dan banyak yang mengeluhkan kebijakan publik. Kehadiran ICJ telah membantu budaya baik di dalam masyarakat dan pemerintahan, masyarakat semakin tertib sedangkan pemerintah semakin cepat tanggap atas hambatan-hambatan yang dikeluhkan oleh masyarakat. ICJ ingin membuktikan, jika warga dan pemerintahan baik maka akan baik pula masyarakat Yogyakarta. Berbuat baik dari diri sendiri dan untuk orang lain, suatu saat kebaikan pula yang akan menemuimu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.