Pedagogi Hitam

Home / Artikel / Pedagogi Hitam

pundi.or.id – Saat ini kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar seperti ini, bagaimana karakter sosial masyarakat kita saat ini? Jawabannya tunggal: dalam keadaan “emergency” dengan kata lain telah mengalami yang disebut sebagai “at death’sdoor”. Mengapa demikian?

Ada beberapa alasan yang kemungkinan menjadi penyebabnya. Pertama, munculnya kesenjangan atau terputusnya hubungan antargenerasi, yang dapat membawa akibat runtuhnya peradaban kebangsaan. Oleh karena itu, kehidupan generasi muda saat ini maupun ke depan akan kehilangan akar sejarah peradaban bangsa masa lampaunya. Dalam hal ini, bangsa yang pernah dicitrakan sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi dan religius, tetapi ternyata mencatat banyak peristiwa kekerasan (chaos). Dalam kondisi yang demikian, chaos akan memunculkan ”kebudayaan baru” yang disebut “pseudo culture”. Akibatnya, kepribadian bangsa Indonesia saat ini maupun ke depan mengalami kerapuhan oleh proses perubahan yang tidak pernah berhenti. Oleh perubahan yang tidak menentu itu, bangsa kita cepat atau lambat akan masuk dalam sebuah dimensi ”culturreloss generation”.

Kedua, kekerasan dapat dikatakan sudah menjadi ideologi baru yang nota bene tidak hanya dilakukan oleh aparat keamanan yang secara sah memiliki monopoli atas perangkat kekerasan (organized violence), tetapi telah dilakukan pula oleh masyarakat kebanyakan. Jika kebudayaan kita ternyata berujung pada kekerasan, interaksi dan semangat membesar-besarkan perbedaan, eksistensi kebudayaan kita patut dipertanyakan.

Ketiga, tidak dapat dimungkiri bahwa proses dinamisasi dan peningkatan, kreativitas terjadi pula di kalangan masyarakat. Masyarakat dihadapkan pada tantangan kehidupan sehari-hari yang serba sulit, sehingga mau tidak mau harus berusaha untuk survive. Ditambah lagi suatu kemungkinan terjadinya involusi budaya, yaitu kencenderungan sikap masyarakat yang semakin eksklusif.

Keempat, dengan perubahan yang begitu cepat, dapat menyebabkan timbulnya gejala disorientasi kultural yang menjurus pada disintegrasi budaya. Sebenarnya saat ini gejala tersebut sudah terjadi, dalam hal ini lapisan dalam kebudayaan kita “ethico-mythical nucleus” seperti moral, karakter, dan etika yang merupakan central point of reference telah mengalami kematian. Dalam kehidupan masyarakat telah terjadi penyimpangan etika dan moral yang serius, seperti adanya budaya “mumpung”, penyalagunaan wewenang, KKN, pelecehan seksual, pembunuhan, begal, dan kecenderungan mudah terjadi tindakan balas dendam, yang kesemuanya itu tidak dapat tidak karena mengentalnya praktik pedagogi hitam di sekolah.

Di Indonesia, kekerasan tidak hanya terjadi di masyarakat pada umumnya, tetapi sudah menjalar ke lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan telah mengklaim dirinya memiliki otoritas tunggal mendidik generasi muda, tanpa memedulikan hakikat dan harkat manusia. Kekerasan di lembaga pendidikan yang cenderung melembaga itu, adalah cerminan budaya masyarakat kita. Model pendidikan yang menyuguhkan kekerasan yang tidak menarik untuk dicontohi itu, sekaligus merupakan sejarah buruk pendidikan di tanah air kita. Betapa tidak, lembaga pendidikan yang seharusnya menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, justru hadir dalam bentuk lain, yakni kekerasan.

Mengutip pendapat M. Harmin (How to Plan a Program for Moral Education, 1990), bahwa lembaga pendidikan tidak saja menghasilkan anak-anak pintar dan cerdas, tetapi sekaligus melahirkan ”bandit-bandit intelektual”. Model pendidikan seperti ini menurut M. Harmin merupakan representasi “model pendidikan margasatwa”.
Pendidikan margasatwa menurutnya tidak mengenal harkat dan martabat kemanusiaan. Kekerasan adalah pilihan dan satu-satunya pilihan itu sendiri. Filosofinya adalah siapa yang kuat dialah yang menang. Yang lemah selalu menjadi korban, entah cedera atau mati. Jika teman atau musuh sudah kalah atau mati, maka dia mencatatkan dirinya sebagai raja. Oleh karena itu, kekerasan yang sering terjadi di dunia pendidikan dewasa ini cenderung ekskalasinya meningkat dari tahun ke tahun, memperkuat keyakinan publik bahwa lembaga ini tidak diyakini sebagai proses pemartabatan manusia dan pembudayaan bangsa. Ia cenderung sebagai lembaga “homo homini lupus”.

Keempat gejala sebagai sebab kemungkinan di atas dapat diduga semakin merajalelalnya praktik anomali dalam pendidikan kita, gejala scientisme, pendewasaan teknologi sebagai nilai mutlak (ideologi pertumbuhan), menguatnya pedagogi hitam, materialisme merajalela, hedonisme merajalela, ketidakadilan sosial yang meluas, etika dan moral semakin rapuh (Demoralisasi Umat Manusia), kekerasan merajela telah menandai masyarakat modern tidak dapat tidak disebabkan oleh menguatnya praktik pedagogi hitam dalam dunia pendidikan sebagai salah satu sebab kemungkinan. Yang pada gilirannya melahirkan manusia-manusia yang tinggi kadar intelektualismenya namun tanpa emosi dan jiwa sosial yang haus akan nilai-nilai human.

Ideologi Pertumbuhan Tanpa batas
Saat ini kita sedang memasuki abad kemajuan tanpa batas dan tidak sedikit pula membawa dampak ketidakwajaran terhadap perilaku manusia. Dampak negatif dari ideologi petumbuhan atau kemajuan tanpa batas, melampaui batas-batas kewajaran dari pertumbuhan atau perkembangan yang memungkinan paling masuk akal dengan kata-kata yang tepat, “seperti hilangnya identitas pribadi manusia, hilangnya martabat manusia,hilangnya karakter manusia, karena kemajuan yang melampaui batas-batas kewajaran itu secara radikal mengubah sama sekali persepsi manusia mengenai dirinya sendiri dan orang lain. Dampak negatif lain dari ideologi pertumbuhan tanpa batas ialah manusia menjadi terasing dari dirinya sendiri dan lingkungan masyarakat-budayanya. Anak didik makin terasing dari masyarakatnya, menjadi terperangkap dalam budaya yang diciptakannya sendiri. yang Proses penyembuhan gejala tersebut membutuhkan waktu lama.

Selanjutnya, ideologi pertumbuhan membuat manusia bukan lagi sebagai subjek yang otonom, melainkan budak yang tertindas. Penyebabnya adalah keseimbangan psikologis tergoncang ketika norma-norma etos sosial, keadilan sosial, perikemanusiaan, dan solidaritas sosial “dijungkirbalikan“. Tidak mengherankan kalau rasa keadilan sosial, solidaritas sosial, etika, dan moral pada masyarakat Indonesia luntur habis. Oleh karena, etika sosial diganti dengan etika individual yang menjadi tolok ukur dari kriterium nilai. Manusia tidak lagi menjadi makhluk sosial yang hidup bersama orang lain, tetapi mahluk tunggal yang hidup sendiri dalam penjara-penjara kebudayaan yang diciptakannya sendiri. Dalam kondisi demikian, manusia hanya bisa bertahan karena pupuk materialisme sebagai konsekuensi dari ideologi pertumbuhan tanpa batas.

Materialisme, lebih jauh memaksa manusia untuk memandang dirinya sebagai “Dewa dan Allah” dalam dunia. Begitu sekularisme dan ateisme praktis muncul sebagai agama baru tanpa promulgasi resmi. Materialisme semestinya dimengerti dalam konteks sosial budaya masyarakat yang berada pada tahap transisi, perubahan, dan perkembangan yang terus melaju untuk mendapatkan identitas sosial dan personalnya.
Pendidikan tidak saja membawa implikasi pada perubahan cara bertindak manusia, tetapi juga cara berpikir yang diliputi alam pikiran dan sikap scientisme yang involutif. Dalam hal ini, kecenderungan sikap manusia yang semakin eksklusif sebagai personifikasi ketidakmampuannya menerima nilai-nilai budaya mondial yang seakan-akan mengancam resistensi budayanya. Dalam arus kuat pertumbuhan tanpa batas itu, kita dihadapkan pada beberapa pertanyaan yang menggugat, sanggupkah lembaga pendidikan menemukan dan merevitalisasi jati diri martabat manusia? Masihkah pendidikan kita ikut berperan dalam mengendalikan arah dan arus perubahan yang melanda situasi kebangsaan saat ini? Ataukah tenggelam dan terpaksa ikut arus? Atau masihkah moral pendidikan mempunyai fungsi dan berperan sebagai “watchdog” terhadap arah perubahan yang keliru?

Pedagogi Hitam
Sekolah adalah tempat anak-anak menemukan kegembiraan dan kebahagiannya. Di sana anak-anak belajar tentang kejujuran, etika, dan moral, serta belajar menjadi dirinya menghargai orang lain, bekerja keras, saling menghargai, saling memberi, berdemokrasi, dan bergotong royong, dengan prinsip nilai Pancasila. Di sekolah anak-anak memperoleh perlindungan dari ancaman-ancaman, di sana mereka belajar tentang hidup berdemokrasi dan solidaritas sosial. Pokoknya, lembaga pendidikan yang bernama sekolah adalah tempat memanusiakan manusia bermartabat yang merdeka pikirannya dan berekspresi.

Namun, dalam praktik justru terjadi sebaliknya. Di sekolah anak-anak menjadi muram, sedih, dan takut menghadapi guru. Di sekolah anak-anak kehilangan kegembiraan dan terasing dari sesama teman. Mereka kehilangan kesempatan menjadi anak-anak yang hidupnya diwarnai dengan bermain. Di sekolah juga anak-anak sudah mulai resah, tak tahu nasib apa yang bakal menimpanya di masa depan.

Prof. Kurt Singer, dalam “Jika Sekolah Membuat Sakit”, 2000, membeberkan panjang lebar gejala kondisi pendidikan saat ini. Menurut Singer, sekolah bukan lagi tempat yang nyaman bagi anak-anak. Sistem pendidikan sekolah mau tak mau menjadikan guru sebagai agen yang mengawasi, menindas, dan merendahkan martabat para siswa. Sekolah menjadi lingkungan penuh sensor yang mematikan bakat dan gairah anak untuk belajar. Pekerjaan dan kewajiban sekolah menjadi diktator yang memusnahkan kemampuan anak untuk belajar menjadi dirinya. Sekolah bukan lagi tempat untuk belajar, melainkan tempat untuk mengadili dan merasa diadili. Kurt Singer menyebut lembaga pendidikan sekolah yang mengakibatkan kegelisahan dan ketakutan itu, sebagai Schwarzer Paedagogic (pedagogi hitam).

Lembaga pendidikan merupakan institusi yang memiliki tugas penting. Sekolah bukan hanya berfungsi untuk meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi dari anak didik, melainkan ia juga bertugas dalam pembentukan kapasitas bertanggung jawab siswa dan kapasitas pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan sekolah. Selain itu, lembaga pendidikan diharapkan sebagai wadah pembentukan kapasitas intelektual bagi peserta didik yang memungkinkannya untuk membuat keputusan bertanggung jawab (informed and responsible judgement) atas hal permasalahan rumit yang dihadapi dalam kehidupan di kemudian hari. Oleh sebab itu, lembaga pendidikan harus menjadi penggerak utama dalam pendikan yang bebas (free public education), dalam hal ini pendidikan sebaiknya bersifat universal, tidak memihak (non sectarian), dan bebas. Dengan demikian, tujuan utama pendidikan adalah sebagai penggerak efisiensi sosial, pembentuk kebijakan berkewarganegaraan (civic virtue), dan penciptaan manusia berkarakter, bukan untuk kepentingan salah satu pihak tertentu (sectarian ends).

Pakar pendidikan H.G. Wells, mengatakan “semakin tumpulnya etika sosial masyarakat tidak dapat tidak karena semakin suburnya praktik anomali dalam sistem pendidikan, sebagai salah satu sebab kemungkinan”. Demikian hipotesis H.G. Wells dalam laporan hasil penelitian dengan judul “The Catastrope of Education, 1981, di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia. Penelitian H.G. Wells didorong atas dasar gejala ketidakberesan dalam sistem sosial, pemerintahan, dan pendidikan di negara berkembang.

Kalau saja H.G. Wells itu benar, maka kita tidak perlu sakit hati atau dengan kata lain sia-sialah guru-guru atau dosen-dosen mengajar anak-anak kita. Toh pada akhirnya pendidikan menghasilkan manusia dengan mentalitas korup, tidak jujur, dan suka merampok. Bahkan, gejala ini sudah menjalar sampai pada lembaga agama, yang diyakini mempunyai kekuatan menolak segala bentuk anomali dalam masyarakat. Mestinya, sekolah/kampus adalah tempat anak-anak menemukan kegembiraan dan kebahagiannya. Di sana anak-anak belajar tentang kejujuran, etika, dan moral, serta belajar menjadi dirinya dan belajar tentang demokrasi. Di sana anak-anak memperoleh perlindungan dari ancaman-ancaman. Pokoknya, sekolah adalah tempat memanusiakan manusia merdeka.

Setidak-tidaknya ada tiga faktor penyebab gejala anomali pendidikan. Pertama, semakin banyak guru berperan sebagai komandan lapangan tempur, yang tidak mengenal kata maaf. Kedua, sistem sekolah lebih mendekati model pendidikan penjara, anak-anak tidak pernah diajar tentang kebebasan berpikir, bergaul, dan memiliki perasaan sosial dengan temannya. Sistem sekolah sengaja mengkotak-kotakkan anak yang bodoh dan yang pintar (jalur akselerasi atau pertimbangan kaya dan miskin). Ketiga, guru atau dosen banyak mengambil jalan pintas dalam hal jual-beli nilai atau mengajar/membimbing siswa/mahasiswa asal-asalan, sehingga siswa/mahasiswa tidak lebih sebagai “tahu sepotong-sepotong mengenai sepotong-sepotong”.

Di samping itu, sadar atau tidak, pendidikan akan bersifat kodian atau belum tuntas, artinya masih kurang memberi perhatian kepada pengembangan individualitas yang mandiri. Hampir seluruh kegiatan di sekolah atau kampus belum banyak usaha nyata menumbuhkan minat siswa/mahasiswa untuk cinta kepada kerja dan kerja keras. Mentalitas jalan pintas rupanya sejalan dengan budaya bangsa kita, yakni budaya terobosan, menjilat pimpinan, dan mediokritas. Di kalangan siswa/mahasiswa budaya ini cukup tumbuh subur, seperti budaya menyontek, plagiat, penelitian fiktif, malas berpikir, malas berdiskusi, malas menulis, dan suka jalan pintas. Oleh karena itu, sekolah/kampus sejak dini perlu mengajarkan budaya bekerja keras dan jujur menurut kesanggupannya dan dijauhkan dari kebudayaan babu (babysiting culture). Sebab, akan sulit menumbuhkan warisan kerja keras dan jujur dalam kebudayaan babu. Pemikiran ini berawal dari suatu sintesis bahwa pada akhirnya pendidikan itu tidak akan bermanfaat apabila menghasilkan “babysiting culture”.

Visi pendidikan masa depan harus jelas dan minimal bisa menghasilkan manusia yang disebut “theologicalsynergism”. Artinya, pendidikan tidak menghasilkan manusia robot tanpa Tuhan. Pendidikan tetap harus bisa menghasilkan manusia yang mengakui adanya kekuatan Ilahi pengatur jagat raya, berarti pula pengakuan terhadap keterbatasan iptek (keserasihan antar rasio dan alam semesta, antar manusia dan Tuhan, mengharmoniskan moral dan teknologi). Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mengurus cara agar manusia menjadi pintar, tetapi lebih menampilkan sosok yang humanis. ***

Oleh: Ben Senang Galus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.