Ajaran Multiprihatin Romo Mangun

Tokoh photo Agus Budiarta 2020-09-13 13:49:58 0 Komentar 314
photo

Sumber: -

Buya Syafii Maarif dalam tulisannya di buku “Penziarahan Pajang Humanisme Mangunwijaya” menyebut sosok yang satu ini sebagai the always spoke of something deep (selalu berbicara tentang sesuatu yang dalam). Oleh karena itu, kehadirannya akan mengatasi ruang dan waktu dalam tempo yang panjang. Sekalipun perhatiannya tercurah terhadap aneka dimensi, filosofi dasarnya tetap kemanusiaan.

Ya, kemanusiaan adalah masalah utama di negeri. Kekerasan, kemiskinan, gizi buruk, ketimpangan ekonomi, angka putus sekolah serta sederetan persoalan kemanusiaan lainnya seakan menjadi hantu bagi masyarakat negeri ini.

Atas dasar keprihatinan kemanusiaan itulah, sosok seperti Romo Mangun hadir di tengah masyarakat. Karena baginya, agama adalah wajah Tuhan yang hadir ke muka bumi. Agama adalah jiwa kemanusiaan, jiwa bagi mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.

Maka, karena panggilan jiwa itulah, Romo Mangun keluar dari altar pergi ke pasar (baca: masyarakat) untuk melakukan tugas-tugas kemanusiaan. Dia tidak takut ancaman kekerasan dan teror senjata orde baru tatkala bersama masyarakat Kedungombo mempertahankan hak-hak tanah mereka dari kezaliman pembangunan rezim orde baru. Ketika ditanya apakah tidak takut di tembak Romo, dengan enteng beliau menjawab “ah saya ini daging tua, tidak menarik untuk diterjang peluru, kalau pun mati paling juga jadi pupuk”.

Keberpihakan akan kemanusiaan itu juga yang membuat dirinya hidup bersama masyarakat Kali Code, Yogyakarta. Baginya kemanusiaan itu tidak mengenal agama, tidak mengenal batas suku, ras, maupun golongan. Tapi kemanusiaan itu melintas batas, melintasi tembok gereja yang megah dan tinggi, melintas batas ego pribadi, kelompok dan golongan, serta melintas batas ruang-ruang primordial. Bagi Romo Mangun sama dengan Soekarno bahwa Tuhan itu ada di gubug reog si miskin.

Wajah kemanusiaan inilah yang mestinya dihadirkan kembali ke generasi anak muda dewasa ini. Di tengah carut-marut dan hiruk-pikuk permasalahan kebangsaan, di tengah semakin menganganya persoalan kemanusiaan akibat pembangunan yang tidak beradab. Di zaman di mana wajah agama kehilangan jiwa kemanusiaannya, di tengah manusia semakin tamak dengan korupsi yang merajalela, di tengah politik yang kehilangan nurani, maka di sinilah kita merindukan jiwa orang muda mau berbagi dan peduli dengan masalah kemanusiaan.

Bangsa ini merindukan sosok orang muda yang memiliki jiwa dan semangat yang sama seperti sosok almarhum Romo Mangun. Sosok yang multiprihatin, multidimensi. Sosok yang mampu menghadirkan bonum commune (kebaikan bersama), sosok yang menghadirkan rahmatan lil alamin (rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam). Sosok yang bisa menjadi teladan dan pahlawan bagi sesama. Karena bagi Romo Mangun pahlawan itu siapa saja yang telah berjuang tanpa pamrih demi kebaikan dan kesejahteraan banyak orang. Dan pahlawan sejati biasanya meninggal meski belum menikmati hasil perjuangannya.

Begitulah hidup si manusia multiprihatin, atau ada pula yang menyebutnya sebagai sosok multidimensi. Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, nama lengkap pria kelahiran Ambarawa, Jawa Tengah, 6 Mei 1929 dan meninggal dunia di Jakarta, 10 Februari 1999 dalam sebuah seminar dengan tema “Peran Buku Dalam Membentuk Masyarakat Baru Indonesia”. Beliau meninggal dalam tugasnya dalam sandaran bahu sang sahabat dan budayawan M. Sobary.

Sebagai sahabat M. Sobary menulis kenangan untuk Romo Mangun sebagai berikut; “Romo pastor milik Katolik. Sebagai penggembala juga milik Katolik. Tetapi sebagai novelis, Romo milik Indonesia. Dan gagasan kepemimpinan keagamaannya pun menempatkan Romo sebagai milik Indonesia. Romo orang Indonesia, novelis Indonesia dan pemimpin Indonesia


photo
Agus Budiarta

Kornas Pegiat Pendidikan Indonesia



0 Komentar


Tinggalkan Balasan