Bangsa ini Sakit?

Laporan Utama photo Hatib Rahmawan 2020-10-14 19:24:18 0 Komentar 3758
photo

Sumber: -

Bangsa ini sedang sakit. Yah, benar-benar sakit. Sakitnya cukup parah dan kronis. Tidak jelas akhirnya. Tidak dapat diprediksi penyebabnya. Seperti pandemi Covid-19 yang penuh ketidakjelasan. 

 

Pernyataan di atas bukan tudingan. Namun fakta yang tidak dapat disepelekan. Kurang lebih 60 tahun yang lalu Erich Fromm meluncurkan sebuah buku. Judulnya Masyarakat yang Sehat. Di Indonesia diterbitkan tahun 1995 oleh Yayasan Obor. Kalau disebut masyarakat yang sehat, tentu ada masyarakat yang sakit. Masyarakat yang sakit persis seperti bangsa ini. Seperti itulah analisis Erich Fromm.

 

Erich Fromm menjelaskan, dibalik kemajuan Eropa dan Amerika, ternyata menyimpan penyakit di tubuh masyarakatnya. Modernitas ternyata tidak identik dengan kebahagiaan dan kesehatan mental. Angka kekerasan, bunuh diri, pembunuhan, merupakan ciri masyarakat yang sakit. Hal tersebut mendominasi Amerika dan Eropa era itu. 

 

 

Aparat yang Sakit

Sebuah bangsa terdiri berbagai komponen. Salah satunya aparat. Adanya aparat dalam negara fungsinya adalah memberikan keamanan kepada rakyatnya. Aparat harus melayani rakyatnya. Membantu rakyatnya. 

 

Demo yang terjadi beberapa waktu yang lalu menyisakan sebuah bukti bahwa aparat kita sakit. Aparat yang berada di garis depan seperti berhadapan dengan penjahat kelas berat. Padahal para demonstran hanyalah rakyat. Terdiri dari mahasiswa, buruh, dan pelajar. 

 

Namun, aparat-aparat tersebut seperti melawan penjajah. Hantam, gebuk, tembak jangan kasih ampun. Relawan medis juga jadi incaran. Hantam sampai bocor kepalanya. Entah diberi makan apa aparat ini, sehingga sesadis itu pada rakyat sendiri. 

 

Saya curiga dengan pendidikan dalam tubuh aparat. Jangan-jangan kurikulumnya tidak berubah. Jangan-jangan kekerasan menjadi baku dalam pendidikan mereka. 

 

Benar jika dikatakan bahwa aparat merupakan alat kekuasaan. Jamak diketahui mereka sangat santun memperlakukan koruptor. Mereka sangat sopan melayani penguasa. Entah, isi perut mereka apa? 

 

Pemerintah yang Sakit

Suara rakyat, suara Tuhan. Suara rakyat adalah alarm kejujuran pemerintah. Adagium-adagium seperti ini telah hilang dalam benak pemerintah bangsa ini. Teriakan rakyat tidak ubahnya seperti angin lalu. Tidak pernah dianggap. 

 

Saat ini suara rakyat dianggap mewakili kepentingan politik kelompok tertentu. Seperti itulah pemerintah melihat kritik terhadapnya. Mereka hanyalah kelompok-kelompok yang tidak puas dengan pemerintah. Abaikan, acuhkan, kalau mengancam lenyapkan. 

 

Kebijakan yang diputuskan adalah untuk kepentingan rakyat. Pernyataan inilah yang keluar dari mulut pemerintah jika di depan podium atau konferensi pers. Padahal semua orang sangat paham, semua kebijakan yang dibuat untuk mendukung oligarki. Rakyat dianggap bodoh. Padahal semua data dan fakta jelas sekali. 

 

Hal seperti ini kalau tidak dikatakan sakit, lalu disebut apa? 

 

Intelektual yang Sakit

Entah apa yang menjangkiti para intelektual bangsa ini, sehingga lebih dominan acuh daripada kritis terhadap kebijakan pemerintah. Kelompok intelektual seperti ini sangat besar jumlahnya. Mereka tumbuh subur di tengah kampus negeri dan sedikit di swasta.  

 

Saat ini sangat jarang kampus yang melahirkan mahasiswa kritis. Paling banyak menghasilkan mahasiswa robot yang tidak sadar dengan permasalahan bangsa, apalagi masalah umat. Penyebabnya mereka dididik oleh intelektual yang tidak memiliki kepekaan sama sekali.

 

Ada juga intelektual yang bosan hidup miskin. Akhirnya memilih menghamba pada penguasa asal mendapatkan jabatan. Mereka inilah yang membuat narasi ilmiah dibalik semua kebijakan pemerintah. Lebih tepatnya, mengilmiahkan semua kebijakan pemerintah. Meskipun salah, dicari-cari argumen agar terlihat ilmiah. 

 

Padahal uji publik tidak dilakukan. Dengar pendapat tidak dilalui. Jalan-jalan tikus merumuskan kebijakan harus ditempuh. Sembunyi-sembunyi. Sebab mereka sadar yang sebenarnya, bahwa yang dibuat tidak ilmiah sama sekali. 

 

Nabi Muhammad saw.jelas sekali mengatakan, tugas-tugas kenabian diwariskan kepada intelektual. Dalam Al-Qur’an, intelektual busuk disimbolkan dengan tokoh Haman. Salah satu tugas Nabi, sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah melawan penguasa yang zalim, yakni tokoh Fir’aun. 

 

Rakyat yang Sakit

Bagaimana dapat dikatakan sebuah masyarakat sakit? Salah satu ciri masyarakat yang sakit adalah lebih cinta berita hoax daripada kebenaran. Mudah me-repost informasi yang menyakitkan orang lain daripada menahan dan mencari kebenarannya. Bahkan, mestinya tidak semua kebenaran itu harus disampaikan jika itu harus menyakitkan dan memecah belah bangsa. 

 

Rakyat tidak dapat menahan diri. Kesadaran literasi rendah, menyebabkan mudah terbawa arus media mainstream. Padahal ada framing di sana. Ada penggiringan opini di dalamnya. Ada kepentingan dibalik semua berita yang ada. 

 

Rakyat benar-benar dalam kubangan simalakama. Kemajuan arus teknologi tidak dibarengi dengan kekuatan literasi. Kasian. Tidak sedikit sekaliber guru besar dan doktor ikut me-repost berita hoax yang berpotensi merusak kebhinekaan. Banyak fakta dalam hal ini. Kalau orang cerdas gegabah, wajar rakyat terombang ambing. 

 

Arus informasi yang sangat bebas menyebabkan masyarakat menjadi fanatik. Berada dalam dua kutub ekstrim yang saling serang. Itulah isi media sosial saat ini. Tidak ada yang dapat dijadikan panutan. 

 

Setiap tokoh terpancing untuk berkomentar, entah benar atau tidak, pokoknya eksis. Padahal terkadang komentarnya membodohi umat dan rakyat. Hal menarik dari pertarungan dan pertentangan di media sosial adalah terhamparlah ruang bisnis. Isu ini menjadi content menarik para YouTuber. Ujung-ujungnya adalah duit. Bukan perubahan ke arah positif. 

 

Saya ingin memberikan informasi menarik mengenai Selebgram dan artis YouTuber terkenal, mungkin nomor satu di China. Namanya Liziqi. Kanalnya juga diberi nama Liziqi. Isinya apa? Isinya seputar masak-memasak ala China kuno. Zaman dinasti Ming. Dia juga mengajarkan mengenai bercocok tanam cara kuno. Berbagai cara tradisional lainnya banyak diunggah di kanalnya. Ia seolah ingin mengajak penggemarnya kembalilah ke alam. 

 

Berbeda di Indonesia. Lihat dan perhatikan content YouTuber hebat di Indonesia. Isinya didominasi glamoritas dan mengekspos konflik. Kalau hal-hal seperti ini yang paling digemari, apakah bangsa ini sehat?

 

Sumber Ilustrasi: www.soreangonline.com


photo
Hatib Rahmawan

Koordinator Pegiat Pendidikan Indonesia (PUNDI), Dosen Prodi Ilmu Hadis Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta



0 Komentar


Tinggalkan Balasan