Belajar dari Finlandia: Semangat Kemandirian Pangan

Essay photo Rijal Ramdani 2021-06-13 17:43:08 0 Komentar 53
photo

Sumber: -

Selama 3 hari di minggu ini, saya menginap di rumah supervisor saya di salah satu desa di daerah Ilomansi, Nort Karelia Finlandia.

Desanya cukup jauh, kurang lebih 100 km dari kota Joensuu, kota di mana saya dan istri tinggal. Dekat sekali dengan perbatasan Russia, kurang lebih 20 km ke border line.

Di Finlandia, rata-rata keluarga seperti professor saya ini, memiliki apartement di kota dan rumah di desa. Biasanya mereka menggunakan rumah yang di desa saat musim panas.

Di pedesaan seperti ini, dengan jumlah tetangga yang sangat terbatas, mereka hidup menyatu dengan alam. Mereka jarang sekali menggunakan listrik, dan memanfaatkan potensi hutan yang mereka miliki seperti kayunya, jamur, dan berries untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Rata-rata orang desa di Finlandia memiliki puluhan bahkan ratusan hektar hutan, karena hutan tidak diclaim sebagai milik negara tapi dimiliki oleh penduduk atau clan yang secara turun temurun menempati wilayah itu. 

Satu hal yang ingin menjadi fokus sharing saya kali ini, yaitu mengenai Kemandirian Pangan. Di photo ini, saya bersama teman PhD saya dari Jerman dan Russia membantu supervisor saya untuk menanam kentang di depan rumah kayunya yang sepelempar batu dari danau.

Awalnya saya mengira bercanda, saat pertama kali datang ke rumahnya supervisor saya bilang, "Beruntung sekali, kalian ke sini, aku butuh orang, besok aku mau menanam kentang, tolong bantu aku ya?, " jelasnya.

Ternyata memang benar, kami menanam kentang, jauh di utara bumi ini. Di tengah hutan tempat di mana rusa-rusa besar dan kawanan beruang berlalu lalang melewati jalanan desa dan burung-burung berkicau bersahutan.

Menanam kentang seperti ini, hampir dilakukan oleh seluruh keluarga di desa-desa Finlandia. Sungguh ini merupakan pengalaman berharga. 

Pertama, tidak mudah untuk menanam kentang seperti ini. Jangan bayangkan tanahnya sama dengan di Cikajang, Pangalengan, Wonosobo, atau Malang.

Beda sekali. Jangan bayangkan, rambutan, apel, durian, dan nenas akan tumbuh disini. Hanya 5 spesies pohon yang bisa tumbuh di hutannya.

Menanam kentang bagi level keluarga dengan peralatan seadanya. Padahal rumbut-rumput liar begitu tinggi dan berduri. Begitupun dengan cuaca, Finlandia, yang berbatasan langsung dengan Artic kutub utara sangat extrim sekali. November - Mei tanah-tanah dan hutan diselimuti es, membeku.

Persis, waktu menanam kentang bagi mereka sangatlah terbatas, hanya dari Juni - September. Menanamnya di musim panas dan memanennya di musim Gugur.

Angin juga tidak bisa diprediksi, walaupun musim panas saya masih mengenakan jaket untuk melindungi tubuh dari tiupan angin. Belum lagi tantangan nyamuk saat menanam seperti ini. Nyamuk di musim panas, di tengah hutan di sini seperti kawanan lebah, ukurannya juga besar.

Sulit sekali mengayunkan sengkup untuk membuat jalur tanam kentang dengan dikerubuti kawanan nyamuk.

Tapi orang desa Finlandia menikmatinya dan percaya, bahwa gigitan-gigitan nyamuk itu sebagai proses alami untuk mengeluarkan darah-darah kotor dari tubuh. 

Kedua, sebetulnya bagi orang-orang Finlandia sangat mudah untuk mendapatkan kentang. Kentang ada di mana-mana, misal di supermarket. Harganya murah siapapun bisa membeli.

Apalagi bagi supervisor saya, mungkin keluarga dia bahkan bisa membeli pabrik atau ratusan hektar kebun-kebun kentang di Ecuador, Chili atau Venezuela.

Saya benar-benar malu dan takjub dengan mereka, sekelas professor seperti supervisor saya ini, dengan gaji professor yang begitu tinggi di Finlandia masih mau kotor-kotoran, berkeluh keringat untuk menanam kentang.

Padahal dia tidak hanya penting di kampus tapi juga bagi negara dan dunia sebagai penasihat Kementrian Luar Negri Finlandia, untuk issue lingkungan dan negosiator Finlandia dalam urusan hutan di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Begitupun dengan suaminya yang berasal dari clan pemilik hutan dan bekerja dengan posisi memadai di perusahaan kehutanan ternama. Tapi status itu tidak memiliki makna dalam masyarakat Finlandia.

Ketiga, sebetulnya tujuan utama dari menanam kentang ini adalah semangat ketahanan pangan. Seperti yang dikatakan supervisor saya, bahwa dia tahu dengan menanam 15 kilo benih kentang, hasil panennya tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang terdiri dari istri, suami, dan dua anak, untuk satu tahun.

Mungkin hanya untuk beberapa bulan saja. Tapi sebagai makanan utama, selain roti dan olahan-olahan gandum lainnya, mereka percaya bahwa menanam kentang adalah kemandirian untuk tidak terlalu tergantung terhadap industri dan impor.

Kata mereka, sekalipun tidak bisa benar-benar terlepas dari supermarket, setidaknya mereka bisa mandiri dalam sebahagian kecilnya.

Bahkan kata supervisor saya itu, orang tuanya yang tinggal di wilayah Utara Finlandia, setiap tahun menanam kentang cukup banyak dan tidak pernah mau untuk membeli kentang dari supermaket.

Sungguh semangat yang luar biasa. Pangan adalah jati diri, pangan adalah jiwa, pangan adalah ujung tombak kemandirian suatu bangsa yang ditopang oleh semangat keluarga dan masyarakatnya. 

Terakhir, kita patut malu dari mereka. Tanah-tanah kita di Indonesia sangat subur. Melemparkan benih apapun jadi.

Tapi kita masih malas untuk hanya sekedar menanam ubi, singkong, atau sayuran di halaman-halaman rumah kita yang subur itu.

Apalagi sudah sulit bagi generasi muda kita pergi kesawah membantu orang tua kita menaman padi.

Masyarakat pun dilingkungan kita mencemooh. Saya mengalaminya, selepas lulus sarjana bawa cangkul untuk menanam Cengkeh di tanah milik saya sendiri dan orang-orang berbisik.

Mungkin kita juga sudah sangat naif dengan gengsi kita yang tinggi. Padahal gaji dan penghasilan kita tidak seberapa. Tapi kenapa dengan uang yang tidak seberapa itu kita tidak berpikir untuk menghasilkan pangan keluarga sendiri dibandingkan dengan beli.

Apalagi nongkrong-nongkrong di cafe atau beli makanan jadi dari rumah makan. Bukankah masak di rumah jauh-jauh lebih hemat dibandingkan dengan membeli makanan jadi.

Akankah kita terus dan terlena seperti ini atau kita akan sadar dengan semangat kemandirian pangan bagi keluarga kita. Wallahu a'lam. 


North Karelia, 12.6.2021



photo
Rijal Ramdani

Asosiasi Dosen Ilmu Pemerintahan Seluruh Indonesia (2016-2021).



0 Komentar


Tinggalkan Balasan