Berbahagialah Sobat

Essay photo Abu Al-Fatih 2021-07-22 07:50:46 0 Komentar 74
photo

Sumber: google

Dear Yanti dan Ike. Surat ini sengaja kutulis untukmu. Kalian berdua adalah temanku yang paling konyol sedunia. Tidak ada yang lebih konyol selain kalian berdua. Jujur harus kukatakan itu pada kalian. Setelah kamu baca suratku ini sebaiknya tidak perlu kau sebarkan kemana-mana. Biarkan angan-angan yang menyimpannya dalam memori waktu.

Aku punya teman banyak, mulai dari pejabat, intelek, kepala daerah, pengusaha, menteri, rektor, hingga orang konyol seperti kalian. Namun jujur saja, semua yang kusebutkan itu tidak memahami pertemanan, kecuali kalian berdua.

Punya teman pejabat, sehari dikenal besok dilupakan. Kalau menjelang pemilu baru dia sadar. Di situlah aku dicari-cari. Dikira aku banyak massa. Dikira aku orang berpengaruh. Dikira aku dapat mendulang suara. Dikira aku dapat meningkatkan elektabilitas.

Punya teman kepala daerah juga seperti itu. Susah sekali di SMS. Ditemui harus ngantri. Setelah bertemu dibatasi waktu. Cuma 15 menit. Sial. Tidak sepadan dengan waktu kami menunggu. Setelah ngobrol dikira minta sumbangan. Sial. Dikira saya orang miskin. Meskipun saya miskin saya tidak bakal mengemis.

Punya teman intelektual juga seperti itu. Kita dikenal karena kepintaran saja. Kalau kita agak bodoh dijauhi. Dianggap najis. Tidak mutu. Menyusahkan. Orang-orang intelek itu terkadang seperti orang suci. Padahal sering juga mereka mencibir. Mencemooh orang-orang bodoh. Padahal sama saja, mereka membanggakan diri sendiri. Membanggakan kepintarannya itu.

Punya teman pengusaha juga seperti itu. Mereka mau kenal dengan kita karena ada maunya. Karena menganggap diri kita dapat menguntungkan buat dirinya. Kalau kita tidak menguntungkan dijauhi. Bahkan ditinggalkan. Apalagi kalau kita miskin, tidak pernah dianggap.

Apalagi punya teman Rektor. Kita dikenal karena ada tugas yang tidak dapat diselesaikannya sendiri. Dapat SMS dari rektor, sama saja dapat perintah darurat. Tidak dapat mengelak.

Punya teman menteri tambah repot lagi. Paling-paling bertemu selfie, sudah selesai. Sekedar ingin bertanya bagaimana kabar si Buyung dan Upik tidak bisa. Dulu dekat kini jauh, sejauh-jauhnya. Kalau punya teman menteri, kita cuma bisa bilang kepada anak kita, “Le, si A itu, pak menteri itu, teman Bapak”.

Padahal anak tidak pernah bangga dengan kalimat itu. Malah mungkin anak bertanya, “Apakah menteri itu pernah bangga dengan Bapak?” Kok sepertinya tidak. Jujur yang diharapkan anak, kapan Bapak jadi menteri? Susah juga ya.

***

Yanti dan Ike permintaanmu sudah kulakukan. Aku sudah doakan Arbain. Aku juga sudah shalat ghaib untuknya. Aku juga sudah doakan kalian berdua agar sehat. Meskipun aku demam tiga hari. Semoga ini bukan Covid.

Kalian berdua memang benar-benar sahabat yang paling konyol. Tidak pernah berpikir macam-macam seperti teman-temanku lainnya. Teman-temanku lainnya terlalu banyak alasan. Mau kumarahin, dia ustadz. Sangat paham bab takziyah.

Biarlah mereka seperti itu. Semoga suatu saat nanti sadar. Entah bagaimana sadarnya, biarlah Allah yang ngatur.

Yang jelas, aku sangat bangga dengan kalian. Meskipun konyol, kalian yang merajut persahabatan. Kalian yang mendekatkan teman yang jauh, dan meramaikan keadaan.

Berbahagialah yang tadi bisa takziyah. Sebab kematian itu tidak datang dua kali. Sekali saja untuk setiap manusia. Andai aku tadi bisa terbang langsung ke rumahnya, aku akan shalat di atas kuburnya karena terlambat.

Ketika aku merantau ke Jogja, saya sudah memahami sakit yang diderita ayahku. Saya khawatir, jika tidak sempat bertemu lagi dengannya. Oleh sebab itu selama di perantauan, doaku hanyalah satu, “Ya Allah izinkan saya, merawat ayahku, ketika dia sakit, memandikannya, hingga memakamkannya.”

Dua tahun doa itu ku haturkan kepada Tuhan. Setiap habis shalat. Tidak pernah putus. Karena jauh dengan orang tua, doa itulah yang dapat memupus kerinduanku.

Genap dua tahun, hari yang kuimpikan itu tiba. SMS dari Ibu sampai di hapeku. Berita tentang sakitnya Ayah, meyakinkanku harus pulang. Segera.

Alhamdulillah, aku masih diperkenankan merawat Ayah di rumah sakit selama satu minggu. Bahkan aku dan bersama kakak diberi kesempatan melihat nafas terakhir Ayah. Akulah yang menutupkan matanya. Akulah yang menutupkan selimut ke sekujur tubuhnya. Di rumah aku diperkenankan memandikan, mengkafani, hingga turun ke liang lahat. Memanjatkan doa di atas kuburnya. Kesedihan itu seketika lenyap, menjadi sebuah kepuasan batin. Bakti terakhirku kepada Ayah selesai sudah. Terima kasih ya Allah.

***

Berbahagialah kalian sobatku. Para penyambung silaturahim itu selalu mulia di hadapan Allah. Meskipun di hadapan manusia kalian dianggap konyol. Aku selalu bangga dengan kalian. Kebanggaanku itu melebihi persahabatanku dengan orang-orang hebat yang pernah kukenal.

Semoga kalian tidak lelah menjadi penyambung silaturahim.

Tidak usah bersedih juga karena kepergian sahabat kita Arbain. Saya yakin dia saat ini sedang menikmati hidupnya. Kuburnya saat ini dipenuhi dengan keindahan. Didampingi dengan kebahagaiaan di kanan kirinya. Entah bidadari atau sahabat yang jauh lebih menyenangkan dari kita tentunya.

Hanya istri, anak, dan ibunya yang bersedih. Namun dia di sana sungguh bahagia. Yakinlah itu. Tidak ada kebaikan, kecuali kebaikan itulah yang akan datang menemuinya juga.

Sekarang tinggal kita sahabat. Esok masih hidup atau tidak belum pasti. Suul khatimah atau husnul khatimah juga belum jelas. Sementara hutang menumpuk, dan maksiat masih jalan terus.

Oh ya sahabatku. Seandainya pandemi ini berakhir, ketika aku balik, kita tidak akan mencari buah naga lagi ke tempat Arbain. Aku ingin ziarah ke makamnya. Sekedar meletakkan mawar dan segelas air. Tanda kemuliaan akhlak.


photo
Abu Al-Fatih

Pencinta Sastra



0 Komentar


Tinggalkan Balasan