Bergesernya Pemahaman Pendidikan

Berita photo Asman 2021-06-17 07:46:35 0 Komentar 45
photo

Sumber: sumber google

Sadar atau tidak, pendidikan saat ini diarahkan pada persaingan pasar dunia industri. Tak jarang kita temui, orang tua dan anak memiliki pandangan sekolah mampu untuk menjadikan kita kaya, menjadi seorang bos atau sebagai kepala di suatu instansi.

Hal ini juga didukung dengan adanya doktrin dari pendidik yang menginginkan output dari pendidikan agar mampu bersaing di dunia pasar industri.

Akhirnya, pendidikan bukan malah mengarahkan peserta didik menjadi seorang yang memiliki ahklak mulia, cerdas dan beragama seperti apa yang diamanatkan dalam undang-undang negara.

Hal tersebut tidaklah keliru hanya saja doktrin atau pengajaran  yang salah bisa membuat peserta didik menjadi seorang egois. Pembelajaran bisa saja diperoleh dengan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang di inginkan. Selain itu, pendidikan juga dibuat seperti kompetisi.

Peserta didik dibuat agar selalu mengejar nilai tinggi, karena dengan nilai tinggi ia akan mendapatkan apresiasi dari guru dan teman lainnya. Sementara anak yang tidak mampu melakukan itu, akan menjadi bahan ejekkan dan bullyan dari semua orang.

Pendidikan kita, jauh dari apa yang di harapkan oleh undang-undang dan para tokoh pendidikan bangsa ini. Hal ini tentunya, didasari karena sistem pendidikan yang mengarah kepada pendidikan kapitalisme.

Pendidikan diajarkan untuk menghasilkan finansial di masa depan. Seharusnya, pendidikan saat ini yang dilakukan ialah untuk perbaikan pendidikan di masa depan.

Realitanya, pendidikan tidak mampu memadukan seluruh komponen dalam pendidikan bahkan kompetisi yang dimiliki peserta didik hanya dikembangkan satu potensi saja yakni potensi kognitif.

 Potensi kognitif mewajibkan anak harus pintar agar mampu menjadi orang sukses ke depan. Hal tersebut dikritik oleh Hendro Widodo dalam bukunya pendidikan Holistik, seorang praktisi pendidikan.

Hendro mengatakan proses pendidikan tidak hanya dalam dominasi satu potensi saja, melainkan harus memadukan semua potensi manusiawinya agar tercapai manusia yang holistik.

Urgensi Pendidikan

Pendidikan saat ini, bukan hanya mengalami degradasi moral, melainkan telah kehilangan arah dan tujuan.

Arahnya tidak tau diarahkan kemana, apakah dunia pendidikan kita di arahkan kekapitalisasi atau sekulerisasi.

Mengapa demikian? sebab pendidikan kita saat ini seakan kehilangan kompas penunjuk arah. Bisa kita amati, mulai jenjang pendidikan dasar sampai tinggi, peserta didik di arahkan agar mampu menjadi seorang yang cerdas agar bisa menjadi orang sukses di masa depan.

Akhirnya, terlalu berpusat pada nilai bukan untuk memperbaiki dunia pendidikan sehingga membuat rumit. Kasus yang di dapatkan penulis, yaitu melihat bagaimana seorang anak yang cerdas, tetapi tidak memiliki ahklak yang baik.

Padahal pendidikan bukan hanya soal mencerdaskan, tapi harus ada nilai moral serta karakter baik yang menandakan bahwa pendidikan itu mampu merubah peserta didik.

Menurut Hendro Widodo, banyaknya sekolah bermunculan dengan berbagai label atau tipe pendidikan diakibatkan kejenuhan masyarakat yang tidak lagi percaya dengan pendidikan nasional saat ini.

Hendro berasumsi bahwa, munculnya kegelisahan tersebut disebabkan pendidikan kita hanya berfokus terhadap kognitif (kecerdasan) dan menafikan aspek ahklak dan moral. 

Sementara itu, UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 menginginkan agar pendidikan benar-benar menghasilkan peserta didik yang meliputi aspek moral sosial dan ahklak itu di padukan dengan kognitifnya.

Pendidikan bukan lagi di arahkan kepada akhlak dan moral, tetapi pendidikan mampu menghasilkan pundi-pundi finansial yang besar untuk masa depan.

Saya berfikir, walaupun tidak dengan pendidikan asalkan kita bisa berusaha pasti akan mendapatkan. Hanya saja, pendidikan tidak harus terlalu mengarah ke sana.

Tak heran, Zamroni mengatakan pendidikan Indonesia sudah keluar jalur.

Perbaiki Sistem

Pemerintah tentunya, sudah banyak melakukan upaya-upaya perbaikan sistem pendidikan kita.

Dengan beberapa kali merevisi kurikulum dengan tujuan perbaikan pendidikan. Namun terlepas dari itu, pemerintah harus menjauhkan kepentingan politik terhadap pendidikan.

Bukan lagi hal yang lumrah, pendidikan saat ini, digunakan  elit-elit politik dalam melangsungkan kepentingannya.

Kejadian ini banyak dialami oleh daerah-daerah. Kebijakan yang diambil, ialah kebijakan politik bagi penguasa.

Sadar atau tidak, sistem kapitalisme pun merambah ke pendidikan kita.

Bagaimana kepala sekolah melakukan lobi-lobi politik untuk menduduki sebuah jabatan, hanya dikarenakan proyek pembenahan gedung sekolah dan penyaluran dana bos yang menjadi bahan incaran. Masih banyak hal tersebut terjadi di daerah-daerah.

Bisa saja hal ini tidak akan terjadi, jika dari pusat yang memegang sistem tidak kompeten, bagaimana siswa diarahkan untuik menjadi pengusaha dan sebagainya.

Lucu lagi, penulis dapatkan saat kuliah, ada mata kuliah di prodi Pendidikan Agama Islam yaitu interpreneursif. Mata kuliah ini bertujuan untuk alumni-alumni yang sekiranya bisa membuat sekolah untuk kepentingan pribadi dan sebagainya.

Tentunya ini  sangat miris. Namun apa yang harus dikata, semua itu benar-benar terjadi.


photo
Asman

nama Asman lahir pada tanggal 16 Oktober 1996 di pelosok Provinsi Sulawesi Tenggara. saat ini sedang melanjutkan Studi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta



0 Komentar


Tinggalkan Balasan