Berpikir dan Merasa

Essay photo Bambang Trim 2020-09-28 15:54:03 0 Komentar 530
photo

Sumber: -

Sebenarnya mana yang lebih dulu kita lakukan? Berpikir atau merasa? Apakah keduanya berjalan paralel dan sinergis atau sendiri-sendiri seperti tak saling mengenal? 

Orang berpikir pasti sambil merasa, dan orang merasa pasti juga sambil berpikir. Itu jika memang terjadi paralel dan sinergis.

Namun, kecepatan berpikir terkadang melebihi berperasaan. Terbukti ketika seseorang melontarkan kata-kata hina dan keji, ia baru merasa setelah melontarkannya. 

Tapi, benarkah ia berpikir ketika melontarkan kata-kata itu? Mungkin saja ia sama sekali tidak berpikir, apalagi merasa. Lalu, mengapa terlontar kata-kata itu? Ia sedang dikendalikan setan bernama amarah.

Orang yang kehilangan pikiran, lalu mendapatkan kembali pikirannya, ia berpotensi insaf. Orang yang kehilangan perasaan, lalu mendapatkan kembali perasaannya, ia berpotensi tobat. Keduanya menjadi penting karena kapasitas berpikir dan merasa sejatinya karunia Ilahi paling berarti. 

Berpikir dan merasa sering menjadi urusan antara manusia dan manusia dan tentu juga antara manusia dan Sang Khalik, Penciptanya. Namun, lebih jauh dari itu berpikir dan merasa menjadi urusan manusia dan makhluk lainnya.

Ada kisah seorang petani yang selalu mengajak berbicara tanaman seolah-olah tanaman itu mampu merasa dan merespons kata-kata. Benarkah itu sekadar seolah-olah?.

Perasaan sering terganggu dan terbelenggu, tetapi pikiran tidak. Itu sebabnya orang yang dipenjara masih dapat berpikir, perasaan bebasnya saja yang terganggu.

Maka dari itu, pusat kendali sejati adalah di hati (heart) alih-alih ilmuwan lain meyakini jantung sebagai pencetus perasaan. Ketika perasaan beres, pikiran pun akan demikian. Kata-kata bakal menjadi senjata berharga membalikkan perasaan dan pikiran.

 

-

photo
Bambang Trim

Direktur Institut Penulis Indonesia dan Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia



0 Komentar


Tinggalkan Balasan