Dampak Pembelajaran Daring Akibat Pandemi

Guru photo Nurul Mukhlishah 2021-01-11 06:37:19 0 Komentar 236
photo

Sumber: -

Pada saat ini kita masih menghadapi pandemi Covid-19. Covid-19 ini mejadi masalah serius yang dihadapin oleh seluruh dunia. Adanya virus ini membuat seluruh dunia diharuskan untuk berada di rumah dan berjaga jarak dengan orang lain.

Di Indonesia angka pertambahan kasus positif Covid-19 semakin bertambah banyak, terhitung pada tanggal 8 Januari 2021 sebanyak 10.617 kasus positif Covid-19, maka jumlah akumulatif khasus Covid-19 di dalam negeri mencapai 808.340 kasus. Bertambahnya kasus ini berdampak pada tatanan aspek kehidupan di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Untuk  menanggapi pandemi Covid-19, pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengurangi pertambahan kasus Covid-19 dan juga  membatasi kegiatan masyarakat berkumpul di luar rumah,sekolah, kantor dan lain sebagainya.

Dalam hal ini adanya teknologi dibutuhkan dalam setiap kegiatan mulai dari bekerja dan sekolah karena semua kegiatan dialihkan menjadi berbasis digital dengan menggunakan platform-platform digital. Tentunya, hal tersebut mempengaruh semua bidang yang ada.

Pada bidang pendidikan, akibat pandemi ini maka seluruh aktivitas pembelajaran di sekolah dihentikan, dan dialihkan dengan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). kebijakan ini mengalihkan pembelajaran yang tadinya tatap muka menjadi daring dengan melalui aplikasi-aplikasi pembelajaran seperti, Zoom, Google Meet, Google Clasroom, WhatsApp, dan aplikasi lainnya.

Dalam hal ini tentunya menjadi tantangan bagi siswa, guru, wali siswa maupun pemerintahan. Di tengah kondisi ketidaksiapan dalam banyak hal, pembelajaran jarak jauh tentu saja menjadi hal yang baru dikalangan peserta didik dan guru. Tentunya ada kendala dalam mengahadapi situasi seperti ini.

Seperti halnya kendala koneksi yang buruk, sarana dan prasarana yang kurang memadai, sulitnya untuk mengawasi peserta didik, dan tidak semua guru maupun siswa terampil dalam mengoprasikan teknologi. Hal tersebut membuat proses belajar mengajar menjadi tidak efektif.

Adanya pendidikan daring tentunya memberikan dampak bagi perkembangan pendidikan setiap peserta didik. Di antaranya adanya kesenjangan antara pembelajaran di daerah yang akses internetnya mudah dengan daerah yang akses internetnya sulit.

Siswa yang berada di daerah yang akses internetnya mudah akan lebih optimal melakukan pembelajaran daring sedangkan siswa yang berada didaerah yang sulit internet tidak dapat melakukan pembelajaran daring secara optimal.

Selain itu perubahan sistem pembelajran ini juga mempengaruhi psikologis peserta didik. Pemberian tugas yang terlalu banyak dengan jangka waktu yang sedikit dan adanya beberapa guru yang hanya memberikan tugas tanpa adanya penjelasan terlebih dahulu membuat pembelajaran yang dilakukan seakan-akan hanya terjadi dari satu arah saja.

Dengan memberikan tugas tanpa adanya dialog antara siswa dan guru. hal tersebut akan membuat siswa tertekan dan bahkan membuat siswa stress. Dalam hal ini, pembelajaran satu arah karena kurangnya dialaog antar siswa dan guru dan juga kurangnya pemahaman penerapan pembelajaran daring ini menunjukkan pembelajaran yang sesuai dengan kritik Paulo Freire terhadap sistem pendidikan, dalam bukunya yaitu Pendagogy Of The Opperessed.

Menurutnya, pendidikan yang demikian adalah pendidikan gaya bank. Di mana pendidikan menjadi sebuah kegiatan menabung, para murid adalah celengan dan guru adalah penabungnya. Yang terjadi bukanlah proses komunikasi, tetapi guru menyampaikan pernyataan-pernyataan dan “mengisi tabungan” yang diterima, dihafal dan diulangi dengan patuh oleh para murid. 

Secara tidak langsung, pembelajaran daring saat ini hampir sama seperti apa yang diungkapkan Freire di mana beberapa pengajar hanya memberikan tugas saja kepada siswa tanpa adanya penjelasan.

Dalam hal ini pembelajaran dilakukan dengan minimnya ruang diskusi antara guru dengan peserta didik. Sehingga masih ada peserta didik yang merasa tertekan dan merasa tidak bebas mengatakan pendapatnya. 

Freire menekankan, pentingnya komunikasi antara guru dan siswa dalam pembelajaran. Karena dengan adanya dialog pendidikan yang terjadi akan sesuai dengan apa yang dibutukan oleh siswa dan guru juga dapat belajar dari siswa.

Pada konsep pendidikan humanis Freire, di mana dalam pendidikan, pendidik berperan untuk menciptakan proses belajar  bersama dengan siswa, adanya dialog dalam proses pembelajaran, dan pendidikan menjadikan siswa untuk berfikir kritis. Jadi, guru tidak hanya mengajar tetapi juga belajar dari peserta didik.

Oleh karenanya, dialog merupakan hal penting dalam terealisasinya pendidikan yang humanis. Karena pada dasarnya peroses pembelajaran bukan semata-mata hanya memindahkan pengetahuan yang dimiliki guru kepada siswa saja.

Guru di masa pandemi ini dituntut untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam memberikan pembelajaran secara daring, dan memastikan dialog interaktif antara guru dengan siswa tetap terjalin dengan baik. Sehingga terciptanya pendidikan hurmanis seperti yang dikatakan oleh Freire. Guru juga harus memastikan bagaimana tingkat pemahaman anak atas materi materi yang telah diberikan secara daring

Peran anak untuk selalu berpikir kritis dalam mengikuti pembelajaran daring dan juga  menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dalam pembelajaran tersebut secara tuntas. Anak harus belajar secara virtual, di mana dialog interaktif antara guru dan anak harus tetap terjaga.

Sedangkan peran orangtua sangat diperlukan oleh anak, terutama pada anak-anak tingkat SD, orang tua dituntut untuk dapat menjelaskan apa yang dijelaskan oleh pengajar, dan dapat membantu mengerjakan tugas pekerjaan rumah anak-anak. Peran pemerintah juga sangat diperlukan dalam terpenuhnya fasilitas-fasilitas pendidikan daring.

Pendidikan daring atau pembelajaran jarak jauh menjadi tantangan tersendiri bagi siswa, guru, orang tua dan juga pemerintah dalam mengembangkan kreativitas terhadap penggunaan teknologi di dunia pendidikan dan memastikan pembelajaran antara siswa dan guru dapat berjalan dengan lancar.

Kondisi pandemi ini juga memaksa para pelaku pendidikan untuk dapat menyesuaikan diri dalam melaksanakan proses pembelajaran sehingga tercipta pendidikan humanis yang menyenangkan dan siswa dapat menerima pendidikan dengan baik.

 

 


photo
Nurul Mukhlishah

Umur : 19 thn Mahasiswa Univ.Ahmad Dahlan Yogyakarta



0 Komentar


Tinggalkan Balasan