Diantara Dua Hati

Sastra photo Try Agustin 2020-09-13 10:23:19 0 Komentar 334
photo

Sumber: -

“Okey…sampai nanti sayang, I miss u…”

Kupandangi layar handphoneku sambil tersenyum bahagia. Rindu selalu mencurangi aku, karena dia selalu tahu cara menambah, tapi tak pernah memberitahu bagaimana cara mengurangi. Kisah ini berawal saat Grup WhatsApp SLTP memasukkan sebuah nama “Davin” satu bulan lalu. Dengan antusias aku save nomornya dan mengirim pesan jalur pribadi, sebuah nama yang selama sepuluh tahun ini selalu hinggap di pikiran dan mimpi-mimpiku.

“Hai... Vin... aku Key... apa kabar?”

“Key??? Hai…aku baik, gimana kabar kamu?”

“Aku baik. Sekarang tinggal di mana Vin?”

“Jogja... aku dari lulus SLTP di sini sampe sekarang. Tapi keluarga besar ada di Jakarta.”

Dadaku berdegup kencang…jadi, sejak aku pindah 2013 lalu, aku ada di kota yang sama dengannya? Ternyata Jogja, adalah kota yang cukup besar, meski empat tahun berada di kota yang sama kami tidak pernah bertemu sekalipun.

“Vin… bisa kita ketemu?”

Why not? Boleh aja... kamu di Jogja juga memangnya?”

“Ya. Kamu udah tinggi Vin?”

“Ya udahlah… kan udah 10 tahun lalu... masa ganambah tingginya? He he...”

Berawal dari pesan whatsApp itulah kisah kami terurai. Davin, sosok yang mungil, ramah, menyenangkan, pintar dan berbeda dibanding teman-teman seusianya, dia cinta pertamaku. Meskipun terlambat, karena kami sama-sama telah bertunangan, secara jujur pada akhirnya aku memberanikan diri mengakui bahwa aku mencintainya dari dulu. Bahwa saat di SMA dan kuliah, aku selalu mencari tahu di mana dia berada lewat beberapa teman juga medsos.

“Jika kamu mencintai seseorang, kamu harus berani mengungkapkannya, Key. Jika tidak, kamu harus berani membiarkannya bahagia dengan yang lain.”

Please Vin... kasih kesempatan aku untuk temui kamu, untuk mengungkapkan semuanya... agar terlepas semua beban dan penyesalan.” tulisku, aku menunggunya penuh harap, cukup lama. Sampai akhirnya sebuah pesan masuk membuatku bersorak dan tertawa senang.

“Kafe Nirwasita, besok jam 3 sore”. Aku membacanya berulang-ulang. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang selama bertahun-tahun aku cari. Ku ungkapkan semuanya. Davin sesekali bertanya, tapi sosok itu tetap memesona saat dia antusias, saat dia bingung... juga saat dia merasa menyesal. Penyesalannya adalah karena dia tidak tahu bahwa aku sangat memperhatikannya, juga sangat mencintainya. Sejak pertemuan itu, kami bertambah dekat.

 “Setelah menceritakan dan mengungkapkan semuanya, aku berpikir kamu akan melepaskan tanganku. Tapi ternyata, kamu menggenggamnya erat. Jadi aku mohon…jika waktu itu tiba, lepaskan tanganku dengan pelan, jangan dengan sentakan.” Pinta Davin. Sangat di luar dugaan. Aku membacanya berulang-ulang, mencoba mencerna. Tapi entah kenapa aku bahagia, karena sebuah kesimpulan bahwa Davin menginginkan kami menjalaninya dengan perlahan, meskipun dengan status kami masing-masing yang sudah bertunangan.

“Ya Vin… terima kasih... aku janji.”

“Saat kita jatuh cinta dengan dua orang, jangan pernah menyalahkan keadaan dan orang lain Key… yang salah adalah diri kita. Karena tidak mampu tegas dalam memilih. Seperti aku, di satu sisi aku takut bahwa keputusan yang aku jalani selama ini salah, aku takut kalau aku mempertahankan hubungan yang ada bukan karena aku ingin, bukan karena cinta, tapi hanya sekedar tanggungjawab untuk menjaga nama baik keluargaku dan keluarga tunanganku.  Tapi di sisi lain, jika kamu harus kulepaskan, aku akan sangat kesakitan. Aku bahagia dipertemukan dan pada akhirnya menjalin cinta dengan kamu,” Ucap Davin jujur.

Tidak ada keadilan dalam cinta segitiga. Aku tahu dan sadar, bahwa pasti semuanya akan tersakiti. Aku juga tahu bahwa merahasiakan suatu hubungan adalah hal yang sangat meletihkan, seperti memegang bom waktu. Aku juga mengerti bahwa komitmen adalah lambang kesetiaan saat menjalin hubungan, dan aku telah melanggarnya. Aku egois. Tapi aku tahu yang menjadi point penting saat ini bahwa aku harus memilih salah satunya, harus objektif dan rasional. Di saat seperti ini… aku baru menyadari, bahwa hal tersulit dalam hidup bukanlah memilih,  tapi bertahan dan bertanggungjawab pada pilihan.

“Halo Key…ada apa?” Suara lembut Davin, cukup menenangkanku. “Lagi galau ya? He he...”

Aku tersenyum kecut. “Vin... beri tahu aku rahasiamu…tenang menjalani hubungan ini”

“Key…beberapa hari lalu kita adalah dua hati yang berjuang menjadi satu, kita akan saling menjaga hubungan ini. Aku tahu posisiku tidaklah menguntungkan karena aku bagian dari masa lalu kamu. Pada saat aku mengenalmu, aku tak tahu kalau kamu mencintaiku. Tapi saat kita dipertemukan lagi, saat aku mendengarkan semua penjelasanmu, aku jatuh cinta. Aku lebih banyak mengalami konflik batin Key, bahkan dalam berdoapun aku tak tahu siapa yang harus aku sebut, namamu atau nama tunanganku. Aku tahu bahwa suatu saat kamu akan pergi, tapi melepasmu saat ini akan sangat menyakitkan, karena ada unsur keterpaksaan.. Key….kita tersimpul dalam ikatan kasih sayang, hanya saja rasaku dan rasamu tidak ada kepastian, tapi kebimbangan. Aku tak tahu seperti apa aku dalam pandanganmu, sepenting apa aku di hidupmu dan selayak apa aku mendampingimu”.

Davin menarik nafas panjang. “Aku tahu rasanya mencintai tapi bertahan untuk tidak memiliki. Aku pasrah bukan menyerah, tapi karena ada yang lebih berkuasa atas segala sesuatu. Sambil menanti, aku ingin menikmati kebersamaan ini. Belajar untuk melapangkan hati, untuk tidak meminta waktumu lebih banyak, untuk tidak memaksamu memahami, untuk menyiapkan hati bahwa suatu saat kamu akan pergi. Setidaknya jika kita ditakdirkan untuk berpisah, aku bisa mengatakan terimakasih telah singgah.”  Aku terdiam cukup lama setelah mematikan handphone… mencerna semua penjelasan Davin. Sosok yang masih saja tak terduga dengan segala sikap dan pemikirannya.

Aku menatap layar handphone

Dear  ‘Key’  Kaivan Nararya.

Jika kita tidak tahu... serahkan pada yang Maha berhak atas segala sesuatu...

Jika kita tidak mampu memahami maksud semua ini…

Maka serahkan pada yang Maha Mengerti..

With Love,

Dafina Pramesti 

Membacanya berulang, menghadirkan kelegaan, yah…meski aku tak tahu sampai kapan.

 

***


photo
Try Agustin

Pegiat literasi



0 Komentar


Tinggalkan Balasan