Duka Pilu Di Hati Sang Ibu

Tokoh photo Admin Pundi 2020-10-03 10:16:10 0 Komentar 391
photo

Sumber: -

"I WILL COME HOME BECAUSE MOTHER'S BIRTHDAY," said Pierre Tendean, to his beloved mother a few days before October 1, 1965.

Maria Elizabeth Cornet Tendean has a birthday every September 30. She is a woman of Caucasian race, descended from a French man named Pierre Albert Cornet, and comes from the city of Leiden, Netherlands. On vacation to Indonesia in the early 1930s, at the invitation of a friend --Maria Frederika Rademayer Gondokusumo - who later became General AH Nasution's mother-in-law. Not long after, Maria Elizabeth met doctor AL Tendean and married him.

From her womb, was born Pierre Andries Tendean, a child who inherited facial features most similar to him. A Minahasa-French son who has a strong sense of nationalism and a chivalrous spirit towards Indonesia, his mother's new homeland. 

Maria Elizabeth's love for her three children is undeniable. Especially for Pierre, the only boy who has graduated from high school is rarely at home, because he is busy pursuing a career in the military.

The ideal choice she opposed from the start, because she wanted Pierre to be an engineer, to lead a "safe" way of life. But in order to see the son's seriousness and discipline plus independence that was increasingly formed, he also blessed Pierre from becoming a soldier, right at the time of his inauguration as Second Lieutenant in Yogyakarta at the end of 1961.

Tugas-tugas sebagai perwira muda membuat Pierre selalu berjauhan dari Ibu. Ibu terus menerus diliputi kerinduan dan kekhawatiran, cemas Pierre dimana, mengerjakan apa dan apakah selalu selamat. Berpuluh surat dari Pierre belum menentramkan hatinya.

Begitu Jendral Nasution, menantu sahabat yang sudah dikenalnya sejak lama, meminang Pierre sebagai ajudan, terbit harapan Ibu, bahwa kerinduannya terhadap Pierre akan lebih mudah terbalas.

SEJARAH KEMUDIAN MENCATAT: JUSTRU TUGAS MENGAWAL SANG JENDERAL ADALAH PENGABDIAN SELURUH DHARMA BAKTI PIERRE TENDEAN. 

Pierre gugur tepat sehari sesudah hari ulang tahun Ibu. Waktu yang dijanjikan Pierre untuk pulang.

Pasca peristiwa G30S, Maria Elizabeth Tendean mengenang putera terkasih dengan cara mengumpulkan semua foto Pierre semasa hidup dan memperbesar foto-foto tersebut dalam berbagai ukuran. Foto-foto berupa rekaman setiap tingkat pencapaian seorang Pierre Tendean, mulai dari lahir hingga menjabat ajudan menko hankam/kasab, yang dipajang di setiap sudut rumah. Di kamar tidurnya, foto-foto tersebut diletakkan di atas lemari kabinet pendek di samping tempat tidur. 

Ibu Tendean selalu tidur di sisi terdekat lemari. Setiap malam ia akan memandangi dan mengajak bicara foto-foto tersebut sampai bercucuran air mata di pipinya, mengenang anak yang tidak akan pernah bisa kembali padanya. Kadang, di waktu pagi atau siang, ia akan larut dalam kesedihannya menangis mengenang Pierre sambil duduk di kursi yang terdapat dalam kamar.

Beliau selalu merindukan Pierre, menantikan kedatangan sang putera dalam mimpi, yang sayangnya hampir tidak pernah terjadi. Sekali Ibu bermimpi seolah-olah Pierre masuk ke rumah, tetapi tidak lama Ibu segera terbangun. 

Ibu sering bergumam ,"Di mana Tuhan waktu itu?" Tidak pernah terduga Pierre akan gugur dalam lingkungan yang dikiranya aman. Pierre tidak sedang berperang, tidak sedang bertugas di perbatasan. Dia di rumah Jenderal tertinggi AD, di Ibukota. Keluarga tidak bisa merelakan kenapa Pierre yang jelas-jelas bukan Jenderal Nasution yang diincar, masih juga dibunuh secara keji pada 1 Oktober pagi itu. 

Selain foto, surat-surat yang dikirim Pierre selama bersekolah di Bandung, bertugas di Medan, dan Jakarta, dikumpulkan Ibu dan dirunut berdasarkan tanggal penerimaan.

Setiap minggu, Ibu akan menempuh perjalanan darat Semarang-Jakarta dengan bus untuk membayar rindu di tepi makam sang anak di TMP Kalibata. Pada awalnya, kunjungan dilakukan pada siang hari, tetapi karena risih ditonton oleh pengunjung lain, akhirnya Ibu memutuskan berziarah di pusara Pierre pada malam hari, untuk lebih mendapatkan privasi. 

Kunjungan terakhir Ibu adalah pada hari Selasa, 15 Agustus 1967. Ibu memenuhi makam Pierre dengan banyak bunga anggrek. Kunjungan rindu sang ibu malam itu ditemani oleh rintik hujan.

"Pierre, waar ben je nu, mijn jongen?" (Pierre, dimana engkau sekarang anakku? Kau tahu Ibu ada di sini),  bisiknya lirih saat menyandarkan kepala di nisan Pierre.  

The next day, after returning to Semarang, my mother fell ill, not feeling as well as the flu. All night long he spent at Pierre's tomb wet from the rain. He was immediately treated at Elizabeth Hospital. 

On the first night of treatment, Roos heard the mother say, "Pierre, Pierre, ik houd het al niet meer uit." (Pierre, Pierre I can't take it anymore). It was as if Pierre was there.

Friday, August 18, 1967, at noon, mother seemed to be improving and asked Roos to come home and be replaced by Tendean's father. A request that is considered strange by Roos, because Mother has been someone who has been taking care of my father's health. It turned out that this was a sign that the mother had given her daughter that she wanted to be released in the company of her beloved husband.

Because at 2 o'clock in the morning on August 19, 1967, Mrs. Tendean passed away to the Creator forever in her sleep.

Maria Elizabeth Tendean was buried at the Bergota Cemetery, Semarang. Mother's body was covered with a blanket that Pierre had used, according to his long legacy to the family.

SOURCE:

THE PATRIOT: STORY OF A REVOLUTIONARY HERO, PIERRE TENDEAN OFFICIAL BIOGRAPHY


photo
Admin Pundi

Pegiat Pendidikan Indonesia (PUNDI)



0 Komentar


Tinggalkan Balasan