Integritas-Interkoneksi dalam Ilmu Pendidikan dan Agama

Essay photo Miranda Vironika Sari 2021-07-17 06:19:55 0 Komentar 34
photo

Sumber: https://www.pinterest.com/pin/25121710400562969/

Salah satu faktor yang menyebabkan kemunduran pendidikan umat Islam di Indonesia adalah adanya sistem pendidikan sekuler yang mendikotomi ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum.

Paradigma sekuler dalam pendidikan menyebabkan timbulnya anggapan, jika peserta didik berakhlak buruk, dan tidak menjalankan ajaran agama dengan baik maka yang patut disalahkan adalah guru agama, guru matematika, dan guru umum lainnya tidak masalah jika tidak mengerti persoalan agama bahkan juga tidak masalah jika tidak benar-benar taat beragama.

Kondisi ini kemudian membuat sekat yang sangat jelas antara ilmu-ilmu agama dan umum dalam dunia pendidikan Indonesia.

Secara normatif konseptual dalam Islam tidak terdapat dikotomi ilmu. Baik Al-Qur'an maupun hadits tidak memilah antara ilmu yang wajib dipelajari dan yang tidak.

Dikotomi   dalam   Islam   timbul   sebagai   akibat   dari   beberapa   hal. Pertama,  faktor perkembangan   pembidangan   ilmu   itu   berbagai   cabang   disiplin ilmu,   bahkan   anak cabangnya. 

Kedua,  faktor historis perkembangan umat Islam ketika mengalami masa kemunduran sejak abad pertengahan.

Ketiga, faktor internal kelembagaan pendidikan Islam yang kurang mampu melakukan upaya pembenahan dan pembaharuan akibat kompleknya problematika ekonomi, politik,hukum, sosial dan budaya yang dihadapi umat Islam.

Pendidikan merupakan salah  satu kebutuhan  manusia  dalam  mengembangkan potensi diri yang dimilikinya secara utuh, baik potensi jasmaniah maupun rohaniah.

Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 disebutkan bahwa Pendidikan adalah  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan   dalam   pengertian   tersebut   mengharuskan   adanya   pembentukan   dan pengembangan skill dan knowledge yang beriringan, berdampingan, serta menjadi satu kesatuan yang utuh dengan pengembangan nilai-nilai spritual keagamaan yang terwujud dalam akhlak serta  kepribadian yang baik.

Umat Islam perlu meninjau ulang format pendidikan Islam nondikotomik melalui upaya pengembangan struktur keilmuan yang integratif-interkonektif, agar dapat dicapai konsep keutuhan ilmu.

Integratif yang dimaksud di sini adalah keterpaduan kebenaran wahyu (burhan qauli) dengan bukti-bukti yang ditemukan di alam semesta (burhan kauni).

Sedangkan interkonektif adalah keterkaitan satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lain akibat adanya hubungan yang saling mempengaruhi.

Muara   dari   integrasi-interkoneksi  agama   dan   Ilmu merupakan   usaha   untuk menyatukan   dan   menjadikan   sebuah   keterhubungan   antara   nilai-nilai   agama, dengan keilmuan umum dalam upaya untuk membentuk embrio-embrio intelektual yang mampu mebumikan nilai-nilai Al-Quran dan As-Sunnah dalam kehidupan sehari-hari.

Bertolak dari prinsip integrasi-interkoneksi di atas, dapat di garis bawahi  bahwa setiap guru di luar mata pelajaran agama dapat menjadikan mata pelajaran yang diajarkan sebagai medium untuk menanamkan nilai-nilai Al-Quran.

 Sekurang-kurangnya, setiap guru perlu mengungkapkan nilai-nilai yang dikandung mata pelajaran yang dipegangnya untuk menanamkan benih-benih moralitas pada diri siswa.

Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap guru mata pelajaran seharusnya merupakan guru Al-Quran atau sekurang-kurangnya mengetahui nilai-nilai kebaikan di dalam Al-Quran.

Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan   dunia   yang   menghubungkan   manusia   dengan   tatanan/perintah   dari kehidupan.

Banyak agama memiliki narasi, simbol, dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup dan menjelaskan asal usul kehidupan atau alam semesta.

Dalam terminologi Islam agama disebut dengan Ad-Din. Dalam KBBI kata Din merupakan kata benda yang berarti "agama". Contoh; dinul-Islam, agama Islam.

istilah Millah juga digunakan untuk menyebutkan agama yang maknanya hampir serupa dengan Ad-Din .

Kedua istilah tersebut digunakan dalam konteks yang berlainan. Millah digunakan   ketika   dihubungkan   dengan   nama   Nabi   yang   kepadanya   agama   itu diwahyukan, dan Din digunakan ketika dihubungkan dengan salah satu agama, atau sifat agama, atau dihubungkan dengan Allah yang mewahyukan agama itu.

Ilmu dalam bahasa Indonesia dipahami sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang tersebut.

Integratif-interkonektif adalah pendekatan yang berusaha saling menghargai; keilmuan umum dan agama, sadar akan keterbatasan masing-masing dalam memecahkan persoalan manusia, hal ini akan melahirkan sebuah kerjasama, setidaknya saling memahami pendekatan (approach) dan metode berpikir (procces and procedure) antara dua keilmuan tersebut (Abdullah, 2008).

Mengutip pemaparan paper oleh Khoiruddin Nasution, bahwa integrasi menghendaki adanya hubungan atau penyatuan atau sinkronisasi atau saling menyapa atau kesejajaran antar tiap bidang keilmuan yang ada.

Setiap bidang keilmuan tidak dapat berdiri sendiri, tanpa saling menyapa dengan bidang keilmuan yang lain.

Keadaan saling menyapa ini, menurut beliau dapat terjadi/muncul secara induktif, integral (menyatu dalam bahasan), dapat juga dalam bahasan yang komprehensif (kelengkapan aspek tinjauannya), interdisipliner dalam artian dari berbagai tinjauan, holistic (tinjauan menyeluruh) dan tematik (pembahasan sesuai dengan tema) (Nasution, 2014).

Beberapa model pendekatan integrasi-interkoneksi ini misalnya antara ilmu agama dan ilmu umum, Islamic studies dan sainstific dan seterusnya. Sementara interkoneksi menghendaki adanya intersection (persinggungan) antar setiap bidang keilmuan tersebut (Machali, 2014).

Islam tidak pernah mengenal dikotomi Ilmu. Dalam awal perkembanganya,agama Islam memfokuskan para sahabat yang baru memeluk agama Islam untuk mempelajari agama sekaligus juga memotivasi dan menfasilitasi mereka yang tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis.

Mencari, mendalami, dan menekuni Ilmu dalam makna yang luas, merupakan salah satu doktrin Islam yang telah disampaikan oleh Allah dan Rasulnya :

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan   apabila dikatakan:   "Berdirilah   kamu",   Maka   berdirilah,   niscaya   Allah   akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS.Al-Mujadalah:11)

Rasulullah SAW bersabda:

“Menuntut ilmu merupah sebuah kewajiban bagi  setiap individu muslim” (HR.IbnMajah).

Dalam kedua contoh doktrin ilmu di atas, tidak ada dikotomi antara ilmu umum maupun ilmu agama, Islam memandang keduanya sebagai kesatuan yang utuh sebagai Ayat-ayat Allah yang kauliyah maupun Kauniyah.

Pemahaman Ilmu yang ter-integrasi sedemikian rupa dalam bingkai keagamaan yang kuat kemudian yang mendorong para Khalifah dan orang-orang yang berkuasa di masa Daulah bani Umayyah dan Abbasyiahgiat, mengembangkan ilmu dan segala fasilitas pendukungnya tampa melepaskan diri daridasar Islam.

 Paling utama melalui Al-Quran dan As-Sunnah sehingga lahirlah ilmuan-ilmuan yang   fenomenal   seperti   Ibnu   Rusyd,  Al-Kindi,  Al-Farabi,   ibn  Thufail,   jabir   bin Hayyan,Umar Al-Farukhan, Al-Farazi dalam ilmu Filsafat, Kedokteran, matematika dan astronomi (Mukhlis Fahruddin, 2009).

Dikotomi Agama dan Ilmu muncul dikemudian hari akibat kelemahan umatI slam dan pengaruh dikotomi ilmu dan agama yang berkembang di Dunia Barat.

Embrio kelemahan umat Islam dalam menggunakan logika muncul saat timbulnya paham Pintu Ijtihad sudah tertutup yang kemudian diikuti oleh pemakruhan, bahkan pengharaman menggunakan akal dalam beragama yang sebenarnya merupakan reaksi berlebihan terhadap paham Mu’tazilah yang meletakkan akal di atas wahyu.

Dalam kajian sejarah, dikotomi agama dan ilmu pertama kali muncul hampir seiringan dengan masa renaissance dunia barat. 

Saat itu kondisi sosio-relegius maupun sosio intelektual di kuasai oleh gereja. Kebijakan-kebijakannya mendominasi dalam berbagai aspek kehidupan.

Ajaran-ajaran Kristen dilembagakan dan menjadi penentu kebenaran Ilmiah, bahkan semua penemuan hasil dari penelitian ilmiahdianggap sah dan benar jika sejalan dengan doktrin-doktrin gereja.

Sekelompok ilmuan yang masih tetap pada ideologinya, mempertahankan kebenaran penelitian ilmiah yang mereka yakini walaupun bertentangan dengan otoritas gereja, seperti Charles Darwin dengan teori Evolusi atau Galileo Galilei yang berani mengatakan bumi berbentuk bulat di saat gereja meyakini bumi berbentuk datar.

Gerakan-gerakan ini kemudian berkembang secara masif dan membentuk paradigma sekuler yang menetapkan, bahwa ideologi agama tidak boleh dicampur adukkan dengan ideologi ilmiah, dalam artian ilmu-ilmu alam, sosio, humaniora harus berpisah dari agama. Berlawanan dengan perkembangan dunia Barat, Islam mengalami kemunduran dan sebagian besar wilayah Islam mulai dijajah Barat.

Dalam masa penjajahan yang panjang dan hampir merata di seluruh dunia Islam, terjadi alkulturasi budaya, alkulturasi pemikiran   dan   intelektualisme   Barat   dengan   negeri-negeri   Islam   sebagai   daerah jajahannya.

Menurut Azmuyardi Azra (1999) mengatakan, bahwa dikotomi pendidikan agama dan umum kemudian muncul sebagai akibat dari penjajahan Barat yang menyebabkan umat Islam mengalami keterbelakangan dan disintegrasi dalam kemasyarakatan dan keilmuan, sehingga memunculkan intelektual baru yang disebut intelektual sekuler.

Sebagai reaksi dari munculnya para intelektual muslim sekuler yang mewarisi paham dikotomi agama dan ilmu dari dunia barat, para fuqaha mengambil langkah protektif dengan cara memakruhkan bahkan mengharamkan tindakan mengambil apapun yang bersumber dari dunia Barat, termasuk ilmu-ilmu alam, sosial, maupun humaniora.

Imam Ghazali sebagai salah satu tokoh dalam dunia Islam kemudian mengambil langkah protektif yang tidak terlalu ekstrim dengan cara membagi Ilmu itu menjadi Ilmu Fardu‘ain dan Ilmu Fardu Kifayah.

Pembagian ini kemudian yang menjadi dasar dikotomi agama dan ilmu yang amat kontras dalam dunia Islam Indonesia yang termanifestasi dalam prilaku sebagian besar pelajar islam (santri),  dalam bentuk menfokuskan diri pada ilmu-ilmu agama dan mengesampingkan bahkan membuang ilmu-ilmu alam, sosial, dan humaniora.

Dikotomi   ilmu   ini   menambah   kedalam   sitem   pendidkan   Islam, dengan munculnya dikotomi sekolah umum pada satu sisi dan madrasah yang merupakan perwakilan sekolah agama pada sisi lain.

Kondisi ini lebih parah dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama (SKB), Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Agama pada tahun 1975 yang telah mempersamakan kedudukan sekolah umum dengan madrasah yang masih berstatus sekolah agama.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dikotomi dalam Islam timbul sebagai akibat dari beberapa hal.

Pertama, faktor perkembangan pembidangan ilmu itu berbagai   cabang   disiplin   ilmu,   bahkan   anak   cabangnya. 

Kedua,  faktor   historis perkembangan umat Islam ketika mengalami masa kemunduran dan penjajahan sejak abad pertengahan.

Ketiga, faktor internal kelembagaan pendidikan Islam yang kurang mampu   melakukan   upaya   pembenahan   dan   pembaharuan   akibat   kompleknya problematika ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya yang dihadapi umat Islam.

Secara teoritik, dengan mengambil inspirasi dari Ian G. Barbour dan Holmes Rolston, III, ada 3 konsep integrasi-interkoneksi agama dan ilmu, yaitu Semi permeable, Intersubjective Testability  dan Creative Imagination.

Semipermeable konsep yang berasal dari keilmuan biologi,di mana isu Survival   for   the   fittest  adalah yang paling menonjol.

Hubungan antara ilmu yang berbasis  pada “kausalitas” (causality)  dan  agama  yang  berbasis   pada “makna” (meaning) adalah bercorak semipermeable yakni, antara keduanya saling menembus. (The conflicts between scientific and   religious   interpretations   arise   because   theboundary between causality and meaning is semipermeable).

Hubungan antara ilmu dan agama tidaklah dibatasi oleh tembok/dinding tebal yang tidak memungkinkan untuk berkomunikasi, tersekat atau terpisah sedemikian ketat, melainkan saling menembus, saling merembes.

Saling menembus secara sebagian, dan bukannya secara bebas dan total. Masih tampak garis batas antar bidang disiplin ilmu,tetapi ilmuan antar berbagai disiplin tersebut saling membuka diri untuk berkomunikasi dan saling menerima masukan dari disiplin di luar bidangnya.

Intersubjective testability (Keterujian intersubjektif). Rambu-rambu kedua yang menandai hubungan antara ilmu dan agama yang bercorak dialogis dan integratif adalah  inter subjective subjectivity

Pemahaman tentang apa yang disebut dengan objektif harus disempurnakan menjadi intersubjective testability, yakni ketika semua komunitas keilmuan ikut bersama-sama berpartisipasi menguji tingkat kebenaran penafsiran dan pemaknaan data yang diperoleh peneliti dan ilmuan dari lapangan.

Lalu Creative imagination (Imaginasi kreatif). Meskipun logika berpikir induktif dan deduktif telah dapat menggambarkan secara tepat bagian tertentu dari cara kerja ilmu pengetahuan, tapi sayang dalam uraian tersebut umumnya meninggalkan peran imajinasi kreatif dari ilmuan itu sendiri dalam kerja ilmu pengetahuan.

Memang ada logika untuk menguji teori tetapi tidak ada logika untuk menciptakan teori. Tidak ada resep yang jitu untuk membuat temuan-temuan yang orisinal teori baru seringkali muncul   dari   keberanian   seorang   ilmuan   dan   peneliti   untuk  mengkombinasikan berbagai ide-ide yang telah ada sebelumnya, tetapi ide-ide tersebut terisolasi dari yang satu dan lainnya.




0 Komentar


Tinggalkan Balasan