Interpretasi Lain dari Pendidikan

Berita photo Asman 2021-02-19 02:13:29 0 Komentar 294
photo

Sumber: -

Hakikat pendidikan pada dasarnya bukan hanya proses mengtransfer knowledge, tetapi ada nilai yang harus tercapai dalam proses pendidikan.

Menurut Imam Gunawan, pendidikan adalah proses yang dilakukan secara sadar ketika masyarakat mulai menyadari pentingnya membentuk, mengarahkan serta mengatur manusia agar menjadi insan kamil yang dicita-citakan oleh agama dan negara.

Namun, di balik cita-cita yang ingin dicapai, banyak kemudian persoalan pendidikan yang semakin memperparah dunia pendidikan saat ini. Semua orang membicarakan mutu dan karakter pendidikan yang belum mampu merubah dunia pendidikan saat ini.

Sebagian dari mereka sibuk bertanya, “mengapa pendidikan saat ini jauh dari mutu dan karakter?” Jarang orang bertanya, “bagaimana memecahkan masalah ini?” Banyak faktor yang kemudian membuat itu semua menjadi persoalan serius.

Dalam buku yang ditulis oleh M. Arfan Mu’ammar yang berjudul “nalar kristis pendidikan” mencoba memberikan pandangan  (penafsiran) lain dari persoalan pendidikan saat ini.  Mu’ammar mengatakan, ada dekadensi nalar etis, nalar literasi dan nalar ilmiah dalam kehidupan bangsa.

Sehingga ia mengatakan terjadinya anarkisme moral, baik di sekolah maupun di luar sekolah itu semua terjadi karena disebabkan kekurangan nalar etis. Di sisi lain ia mengatakan konsep dari tujuan pendidikan begitu murni, tulus dan luhur.

Namun dalam operasional pelaksanaannya terdapat tirai pembatas yang begitu besar anatar idealitas dan realitas pendidikan. Sehingga penulis mencoba berhipotesa, bahwa pendidikan saat ini bukan kekurangan karakter sehingga terjadinya persoalan dari dunia pendidikan.

Banyak faktor kemudian yang harus kita interpretasikan bersama, apalagi menyangkut komponen yang terdapat dalam pendidikan. Karena pada dasarnya, jika merujuk pada teori tabularas yang dikemukakan oleh Jhon Lock, mengatakan setiap anak lahir dalam keadaan fitrah atau ia ibaratkan sebagai kertas putih yang belum memliki coretan terhadapnya, maka keluarga dan lingkungan yang akan membentuknya.

Maka penulis ingin menyampaikan, bahwa persoalan pendidikan saat ini banyak faktornya, termasuk kompetensi guru dan pengambil kebijakan yang tidak melihat keadaan di seluruh penjuru bangsa ini.

Jika banyak orang menanyakan, “mengapa karakter pendidikan saat ini jauh dari harapan?” Banyaknya kasus yang melibatkan dari pelajar saat ini, tetapi tidak ada orang yang menanyakan “persoalan karakter ini mampu dicarikan solusi?”

Satu hal yang paling mendasar adalah pendidikan saat ini terlalu “behavioristik” . Teori ini pertama kali di populerkan oleh John Broadus Watson, yang mana teori ini menjadi teori dalam mengkaji psikologi di Amerika. Secara umum, teori ini menganggap jika seseorang telah mampu memberikan perubahan perilaku,  maka ia disebut telah melakukan  proses belajar (Mu’ammar, 2019).

Salah satu tokoh behavioristik  yang terkenal, yaitu Ivan Pavlov dengan teorinya classical conditioning ia melakukan percobaan pada seekor anjing yang kelak percobaan tersebut diterapkan kepada manusia. Inti dari teori ini adalah dengan melakukan pembiasaan kepada manusia secara berulang-ulang makan menajdi kebiasaan.

Teori tersebut menginginkan adanya pembiasaan yang dilakukan dalam pendidikan pembiasaan yang baik akan menghasilkan yang baik pula. Tetapi realitas yang terjadi, guru di sekolah sudah memberikan pembiasaan yang baik-baik, di keluarga jugapun seperti itu. Akan tetapi, masih terjadi kasus-kasus yang melibatkan pelajar dan sebagainya.

Sehingga penulis menganggap teori behavioristik terlalu dogmatis, misalkan seorang guru memberikan pelajaran, bahwa berbuat baik kepada teman, orang tua dan guru merupakan tindakan yang terpuji, itu hanya bisa berlaku di dalam ruang kelas, setelah di luar kelas yang terjadi adalah banyaknya perilaku yang menyimpang dari behavioristiknya.

Sehingga di dalam buku nalar kritis pendidikan tersebut, menginginkan adanya kesadaran kolektif semua komponen pendidikan dalam memperbaiki pendidikan saat ini.

Jika meminjam teori pendidikan oleh Paulo Freire, mengatakan jangan mendidik dengan gaya bank, pendidik atau guru sebagai nasabah yang menabung sementara peserta didik atau siswa dijadikan sebagai tabungan. Hanya mendengar dan mengerjakan instruksi guru tanpa di berikan ilmu yang memadai.

Selaras dengan David A. Sousa seorang pakar pendidikan otak (neurosains), mengatakan meskipun guru bukan seorang  pakar otak, tetapi pekerjaan sehari-hari adalah mengubah otak.

Jika dilihat realitas saat ini, berarti pendidikan kita selama ini tidak menggunakan otak, tidak saintifk malahan menjadi dogmatis. Dalam karya Dr. Suyadi seorang pegiat pendidikan asal Yogyakarta, dalam bukunya “Pendidikan Islam dan Neurosain” .

Mengenalkan otak karakter yang berbasis neorusiains, ia beranggapan, bahwa segala perilaku yang dilakukan oleh peserta didik itu semua dikontrol oleh otak, maka jika menginginkan karakter yang baik tanpa dogmatis kita harus menggunakan otak karakter yang terdiri dari otak normal, otak sehat, dan otak cerdas (Suyadi, 2020:164).

Sebenarnya di buku ini mencoba mengkritisi pendidikan yang selama ini kita menjauhi otak, sebagai bagian dari pendidikan akhirnya kita melupakan bahwa otak adalah komponen penting dalam tubuh manusia.

Sehingga realitas yang terjadi, pendidikan hanya fokus mengubah perilaku. Persoalan pendidikan saat ini bukan karena tidak memiliki karakter yang baik dan mutu yang baik, melainkan komponen pendidikan yang tidak memahami potensi pendidikan yang luar biasa.

 

 

 

 

 

-

photo
Asman

nama Asman lahir pada tanggal 16 Oktober 1996 di pelosok Provinsi Sulawesi Tenggara. saat ini sedang melanjutkan Studi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta



0 Komentar


Tinggalkan Balasan