Ironi Konsep Pendidikan Merdeka Belajar

Berita photo Asman 2021-03-10 07:57:56 0 Komentar 162
photo

Sumber: -

Pendidikan pada hakikatnya ialah proses memanusiakan manusia. Proses membentuk manusia yang sebelumnya dianggap memiliki karakter buruk menjadi lebih baik (terpelajar).

Hal ini  didasari oleh undang-undang sisdiknas yang mengharapkan terwujudnya manusia atau peserta didik yang berahlak mulia, kreatif, inovatif, mengembangkan potensi dalam diri, dan berkebudayaan serta berketuhanan yang maha Esa. Selain itu negara berharap agar pendidikan mampu menjadikan siswa  seorang yang cinta dan bangga terhadap tanah air dan bangsanya.

Negara tidak bisa  bekerja sendiri dalam mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut. Keterlibatan semua komponen dalam pendidikan sangat dibutuhkan.Terutama dalam pengambilan kebijakan  harus benar-benar tepat sasaran dan mengena semua lapisan pendidikan di kota maupun di pelosok negeri ini.

Kebijakan yang diambil oleh pemerintah melalui dinas terkait, sangat menentukan arah baru dari proses pendidikan saat ini. Walaupun terkadang dalam pengambilan kebijakan ini tergantung masing-masing pimpinannya. Karena realitas yang terjadi beda pimpinan beda kebijakan.

Penulis tahu betul dan mengikuti perkembangan di era tiga menteri pendidikan mulai dari Anis Baswedan, Muhajir Efendi dan saat ini Nadiem Makarim. Ketiga orang ini saat menjabat sebagai menteri mengeluarkan kebijakan masing-masing yang sampai saat ini masih berlaku.

Persoalan kurikulum, zonasi sekolah atau wilayah, dan saat ini terdapat konsep merdeka belajar. Sehingga, terjadinya kebingungan pada masyarakat dan pendidikan. Hal ini dikarenakan  banyaknya kebijakan yang diambil sehingga terjadinya  ketidak efektifan melihat keadaan tipologi daerah masing-masing.

Pada kebijakan tersebut, secara konsep jika dilihat secara seksama menunjukan bahwa persoalan pendidikan akan terjawab. Namun, realitas yang terjadi justru dari kebijakan tersebut menimbulkan kegaduhan yang luar biasa di tingkatan daerah. Contoh, yaitu penerapan zonasi atau pemerataan kawasan dan pemerataan pendidikan.

Kebijakan ini menurut Mu’ammar hanya berlaku terhadap sekolah yang berada di kota, sementara untuk sekolah di desa hanya sebatas bisa bertahan hidup di tengah kebijakan yang tidak menyentuh sekolah di pelosok. Akhirnya kesenjangan akan terjadi, sekolah yang favorit akan terus menjadi favorit, makin maju dan berkualitas, sementara sekolah di desa-desa akan semakin tertinggal (Mu’ammar, 2019).

Begitupun dengan kebijakan merdeka belajar yang dicanangkan oleh menteri Mas Nadiem Makarim. Jika menurut dari redaksi kalimatnya yaitu “merdeka Belajar” berarti bebas, independen, tanpa ada tekanan dan sebagainya. Maka jika mengikuti pengertian merdeka secara tekstual, kita akan mengartikan bahwa dalam proses pendidikan itu semau dari siswa dan guru. 

Sebenarnya konsep merdeka belajar ini,  sudah lama diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantara saat mendirikan taman siswa. Sehingga, di era Menteri Nadiem Makrim diangkat kembali walaupun dengan pandangan berbeda. Ki Hajar Dewantara dengan konsep tersebut menginginkan pendidikan adanya perubahan terhadap diri sendiri dan bisa bermanfaat terhadap lingkungan keluarga maupun  masyarakat (Ainia, 2020).

Selain itu Ki Hajar Dewantara  juga mengharapkan kepada guru untuk mementingkan kepentingan siswa dari pada pribadi.Hal paling utama  pemamparan dari Ki Hajar yaitu bagaimana membentuk budi pekerti luhur peserta didik (siswa).

Konsep merdeka belajar memberikan kebebasan berpikir kepada siswa dan guru untuk mengeksplorasi pengetahuan di lingkungannya. Sehingga, menurut pandangan penulis secara subyektif konsep merdeka belajar ini hanya menjadi ironi yang tidak terealisasi.

Jika mungkin pemerintah mengambil sampel sekolah di perkotaan, mungkin akan terlaksana konsep merdeka belajar, walaupun sebenarnya merdekanya itu hanya dalam tataran administrasi saja.

Jika ingin merdeka dalam belajar hal yang utama diubah ialah sistem pemborongan mata pelajaran. Jika melihat realitas yang terjadi hari Senin sampai Kamis mata pelajaran itu berkisar 3-4 mata pelajaran .

Terlihat lucu dan tidak logis, sebagai mantan seorang siswa dengan mata pelajaran sangat banyak tiap harinya dapat membuat tertekan dan tidak mampu bereksplorasi diri. Saya senang metode blusukan yang dilakukan oleh pak Jokowi dengan melihat keadaan wilayah di Indonesia. Mungkin ini bisa di adopsi di kemetrian pendidikan untuk melihat realitas pendidikan di pelosok negeri ini.

Sedihnya pendidikan saat ini, bukan mengarahkan pada perbaikan seperti apa yang diharapkan Ki Hajar Dewantara. Namun, lebih ke proses persaingan kecerdasan antara satu yang lain

Pada akhirnya, budi pekerti yang luhur seharusnya terwujud malahan dengan metode kompetesi menjadikan siswa saling bersaing untuk mendapatkan nilai tertinggi dan mendapatkan pujian dari guru. Tetapi, siswa yang memiliki nilai rendah menjadi bahan ejekan bahkan menjadi bahan percontohan.

Dalam pengalaman pribadi, penulis melihat secara langsung masih terdapat  oknum kepala Sekolah mencaci dan menghina serta mengatakan bodoh kepada siswa tersebut di depan teman-temannya yang lain ketika saat apel pagi.

Menurut Eko Prasetyo, pendidikan saat ini selain dipaksa berkompetisi tetapi  juga dipaksa menjadi keluaran yang siap dijual dipasaran pekerjaan. Padahal menurut UU sisdiknas, pemikiran para tokoh pendidikan, dan konsep merdeka belajar seharusnya pendidikan model kompetisi dan siap dijual di pasaran industry pekerjaan itu tidak ada.

Realitas yang terjadi, yaitu di pelosok negeri masih terdapat guru yang datang terlambat dan pulang lebih awal, guru dan kepala sekolah mengancam orang tua siswa karena pilihan politik, guru terlibat kampanye politik praktis, kepala sekolah menangani proyek, dan masih terdapat kasus lainnya. 

Sehingga kami sebagai pendidik berharap pengambilan kebijakan ini tidak hanya mengambil sample di sekolah perkotaan tetapi bisa mengunjungi  daerah-daerah terpencil agar  mengtahui  keadaan pendidikan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Karena pendidikan adalah suatu ukuran kemasan peradaban bangsa.

 

-

photo
Asman

nama Asman lahir pada tanggal 16 Oktober 1996 di pelosok Provinsi Sulawesi Tenggara. saat ini sedang melanjutkan Studi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta



0 Komentar


Tinggalkan Balasan