Jalan Sunyi Sarjana Muda

Essay photo M. Adam 2021-02-26 11:23:44 0 Komentar 217
photo

Sumber: -

Persepsi orang tentang Mahasiswa

Merasakan bisa kuliah saja merupakan suatu hal yang patut disyukuri. Ditambah bisa lulus jadi sarjana muda, menjadi kebahagian yang berlipat-lipat. Kesempatan untuk bisa kuliah menjadi moment spesial bagi banyak orang, untuk belajar banyak hal tentang ilmu dan pengalaman baru.

Penulis menyadari dan merasakan langsung betapa nikmatnya kehidupan mahasiswa itu, serasa menjadi Iron Man, ungkap kata bang Ade Londok (iklan odading mang oleh). Apa yang membuat bisa bahagia? Tentu banyak hal yang dirasakan.

Pertama¸saat kita kuliah sudah mendapatkan point spesial dari masyarakat, terutama persepsi mahasiswa itu sendiri. Persepsi atau penilian itu macam-macam, ada yang menilai  mahasiswa itu keren, hebat, pintar, mampu, bersahaja dan  berwibawa. Banyangkan saja, kalau mahasiswa berasal dari desa, perkampungan atau pelosok,d isitu hanya segelintir orang yang bisa kuliah.

Dijamin, di antara kita terkadang mendapatkan perlakuan spesial, entah itu  disanjung-sanjung, diharapkan banyak orang dan tentu menjadi sorotan utama jadi orang yang terpandang.

Kedua, ruang belajar yang tak terbatas. Di dalam kampus kita akan jumpai subjek dan objek belajar. Objek belajar, seperti perpustakaan dengan pernak pernik model buku yang bisa kamu baca sepuasnya ditambah ruangan yang nyaman dengan segala fasiltasnya secara gratis,membaca buku di taman, tepi danau serasa menjadi angin segar yang menyejukan pikiran.

Di ruang kuliah  bertemu dengan para manusia hebat dengan gelar akademik Prof, Doktor, Dosen-dosen keren dengan segala pengalaman prestasi dan para  aktivis dengan berbagai atribut organisasi yang terkadang mengiasi ruang kuliah serta kecakapannya dalam berargumentasi.

Tentu semua objek dan subyek itu menjadikan peluang dan kesempatan untuk belajar, berdiskusi dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. ketiga, dunia yang bebas. Di sinilah terkadang keimanan dan kesungguhan kuliah kita diuji,digoda banyak warna.

Gaya penampilan sebelum jadi mahasiswa masih klasik, tradisional, lokal belum tau soal merk make up, arti glowing berubah seketika tau soal dunia kosmetikan, cara berpakaian menjadi hitz dan gaya makan dan minum yang dulu mungkin hanya satu rasa, satu menu, sekarang  menjadi banyak  variasi menu menghiasi meja makannya, serasa menjadi juri perlombaan masak ( mencicipi banyak menu).

Budaya nongkrong sambil ngopi, sampai larut pagi memenuhi kursi-kursi warung kopi, Caffe dan Burjo dengan berbagai alunan musik dan obrolan renyah sampai berat. Moment-moment itu menjadi kerinduan tersendiri bagi seorang mahasiswa. Terlena atau tidak akan itu, semua memiliki remote control, yaitu your self

Karier Sarjana, mencari atau dicari ?

Setelah kurang lebih 4 tahun mengarungi bahtera perkuliahan, dengan berbagai corak warna warni kehidupanya, tentu ada hal yang paling dinanti-nanti setelah lulus kuliah. Ada yang langsung kerja, lanjut studi, segera melangsungkan pernikahan dengan si doi , bisa beli rumah dan kendaraan sendiri.

Itu impian mulia yang direncanakan sebagain banyak orang setelah lulus. Tapi, apa daya ketika impian itu tidak sesuai harapan ? Setelah jadi sarjana bukannya dimudahkan mencari pekerjaan, justru harus lebih kerja keras lagi, mencari-cari  lowongan pekerjaan (loker) digroup WhatsApp, Instagram, bertanya kepada kawan, kerabat dan keluarga belum juga ada loker.

Di situasi tengah pandemi menambah beban,depresi dan penuh tekanan untuk segera mendapatkan pekerjaan. Mau mendirikan usaha juga tidak punya modal, mau membuka lahan perkebunan tidak punya ilmunya, akhirnya gelar dan Ijazah hanya menjadi sebuah nama dan kertas yang tak bernilai.

Alhasil persepsi orang yang dulu menyebut kita sebagai orang yang spesial menjadi buah bibir yang pahit di masyarakat. Ada yang bilang, “sarjana kok nganggur ? rebahan ? nggak punya kegiatan apa-apa ? “

Tidak sedikit yang mendapatkan ucapan itu di tengah masyarakat. Hal tersebut menjadi psikologis atau kejiwaan seorang sarjana terganggu.  Keluar dari cengkraman buah bibir pahit tentang masa depan (karier) sarjana, tentu harus ada pembuktian yang nyata, jika memang sarjana itu bisa mengantarkan kesuksesan.

Apa yang harus dilakukan untuk mendekatan kesuksesan pasca lulus ? Yang harus dilakukan pertama, merencakan planing pasca lulus. Kenapa itu perlu dilakukan ? Sebab banyak di antara kita ketika ditanya “besok mau kemana setelah lulus ?”.

Jawabanya masih meraba-raba alias tidak ada rencana. Hal tersebut sudah menjadi point penghambat mendapatkan karir. Perlu diketahui, di Indonesia banyak sekali  lulusan lulusan sarjana muda  yang siap berebut karier. Tentu dengan banyaknya sarjana lulusan kalian harus mempersiapkan diri dengan segenap kemampuan dibidang masing masing.

Kedua, selama  kuliah tentu sudah banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan, gunakan semua aset itu sebagai power untuk bisa menggerakan perubahan-perubahan kecil yang ada disekitar,misal lulusan pendidikan (Guru) belum mendapatkan sekolah, maksimalkan untuk membuka bimbingan belajar, taman baca atau les privat secara kolaborasi. 

Ketiga, manfaatkan segala bentuk informasi pekerjaan yang kita dapat walaupun itu tidak sesuai dengan gelar yang didapat alias jangan memilah milih. Empat, koneksikan semua jaringan yang dimiliki dan didapatkan sebagai central pendekatan personal karir. 

Sarjana bukan hanya kita

Perguruan tinggi di Indonesia yang berjumlah 2.136, menjadi sebuah anugerah tersendiri bagi bumi pertiwi Indonesia. Dengan banyaknya perguruan tinggi tentu menjadi  optimisme membuka pintu  kemajuan untuk mewujudkan generasi emas 2045. 

Sebuah perhatian terhadap paradoks di Indonesia yang memiliki Sumber Daya Alam melimpah, tetapi masih banyak jumlah pengangguran. Salah satu penyumbang pengangguran disebutkan juga berasal dari kalangan sarjana.  Berdasarkan berita resmi statistik No.92/11/Th.XXI, 5 Nopember 2018 – Agustus 2018 ada sebanyak 124,01 Juta penduduk bekerja dan 7 juta tidak bekerja alias menganggur, sumbangsih sarjana dalam angka pengangguran sebanyak 5,89 %. 

Besarnya angka sarjana  yang menganggur menjadi fenomena prihatin tersendiri. Bukankah seorang sarjana lebih mudah mendapatkan pekerjaan ? Hampir semua pekerjaan sekarang mensyaratkan gelar sarjana.

Karena itu, mari reflesikan dengan serius yang menjadi  sarjana bukan hanya kita, tapi ribuan bahkan jutaan sarjana. Mereka semua siap berkompetisi merebutkan peluang karir masa depan mereka masing-masing. Sarjana dari perguruan tinggi berkualitas, ataupun tidak. Semua akan bertemu pada satu titik tujuan, menempatkan diri pada dunia pekerjaan. 

Pada dasarnya, menjadi seorang sarjana tujuan utama bukan untuk pemenuhan penghidupan pribadi, tetapi ada tujuan yang mulia menjadi sarjana, yaitu untuk mewariskan ilmu dan pengalamanya  agar lebih banyak lagi generasi yang bisa mendapatkan hak  pendidikan lebih tinggi darinya.

Kegalauan akan karir masa depan seorang sarjana, bisa ditepiskan dengan  mencurahkan dan memaksimal potensi (kemampuan yang ada dalam dirinya.

So, jangan galau wahai sarjana muda, mari lakukan perubahan kecil yang bisa kita lakukan, kurangi rebahan, kurang tongkrongan yang kurang bermanfaat, akankah kita menjadi sumbangsih angka pengangguran ? Atau kita akan menjadi sumbangsih kebaikan untuk negeri ini ?

 

-

photo
M. Adam

Magister Administrasi Pendidikan UMS



0 Komentar


Tinggalkan Balasan