Juara Kata Dan Juara Kumite

Essay photo Bambang Udoyono 2021-01-05 09:31:05 0 Komentar 103
photo

Sumber: -

Juara kata dan juara kumite Keduanya berasal dari bahasa Jepang. Kata adalah rangkaian gerak dasar dalam olahraga karate. Seorang guru besar karate pernah mengatakan, bahwa kata is the grammar of Karate.  Maksudnya kata adalah idealnya gerakan karate. 

Dalam olahraga karate gerakan dasar pukulan, tangkisan, tendangan, sapuan, dirangkaikan menjadi kata yang dimainkan secara individual maupun beregu.  Fokusnya adalah pada kerapihan teknik. Ada pakem tentang teknik.  Bagaimana menendang, memukul, dan berbagai macamnya memiliki tata caranya yang rinci.

Dalam kejuaraan karate, nomor kata juga dilombakan.   Maka juara kata memiliki gerakan yang sangat rapi. Teknik dasarnya sangat unggul, cepat, kuat, indah.  Apalagi ketika dimainkan dalam regu, biasanya tiga orang, nomor kata sangat memukau sehingga seringkali mendapat tepuk tangan meriah dari penonton.

Kumite adalah pertarungan.  Awalnya tidak ada klasifikasi berdasar berat badan, tapi sekarang sudah ada.  Ada aliran yang menganut ’full contact’, sehingga pukulan dan tendangan bisa mengakibatkan knock out, dan ada aliran yang  melarang full contact untuk melindungi  karateka dari cedera. 

Hampir tidak ada orang yang mampu menadi juara kumite dan sekaligus kata.  Biasanya juara kata kalau ikut dalam kumite tidak akan menjadi juara meskipun tekniknya unggul.  Sebaliknya, juara kumite tidak memiliki teknik serapi juara kata.  

Dalam dunia literasi ada kemiripan. Sebagian penulis ibarat pemain kata dan sebagian lain, seperti pemain kumite. Para penulis buku perguruan tinggi mirip pemain kata.  Mereka harus mentaati setiap rincian aturan teknis.  Para penulis buku umum dan novelis mirip dengan pemain kumite.  Aturan teknisnya lebih longgar.    

Agaknya memang sudah sifat manusia untuk membanggakan dirinya atau profesinya atau karyanya.  Pemain kata merasa dirinyalah yang seharusnya patut dibanggakan.  Demikian juga pendapat pemain kumite. Semuanya punya alasan.

Konon salah satu kriteria buku bagus adalah memiliki daya gugah.  Tidak ada yang salah dengan kriteria ini.  Hanya saja kita kesulitan menemukan tolok ukurnya. Buku jenis apa, atau lebih spesifik lagi, judul apa buku di Indonesia yang paling tinggi daya gugahnya?  Bagaimana mengukurnya?  Apakah buku terlaris identik dengan memiliki daya gugah terkuat?  Walahualam.

Kalau menengok dunia politik, pernah ada buku yang menyebabkan pergerakan politik di Amerika Serikat.  Tepatnya buku berjudul “Uncle Tom’s cabin”. Ini bukan karya ilmiah, tapi karya fiksi, yang tentu saja berdasarkan fakta juga.  Konon karya Kartini yang berjudul, “Habis gelap terbitlah terang” juga menjadi pemicu gerakan kesetaraan jenis kelamin di Indonesia. 

Ini juga bukan karya ilmiah.  Ini adalah kumpulan surat antara Kartini dengan seorang Belanda.  Sebagian orang mungkin susah melihat hubungan antara buku kumpulan surat dengan gerakan kesetaraan jenis kelamin.

Dulu di jaman Orba ada larangan terhadap karya Pramudya Ananta Toer. Barangkali didasari kekhawatiran akan penyebaran ideologi komunisme. Ternyata sekarang setelah bebas dibaca, para pembacanya tidak lantas menjadi komunis.   Jadi kecurigaan itu ternyata meleset.

Buku memang bisa memotivasi orang untuk berbuat sesuatu.  Meskipun demikian mengukur dampak sosialnya terbukti sulit.  Mungkin sudah ada teori atau metoda ilmiah untuk mengukurnya, tapi belum terbukti kehandalannya. 

Buku juga bisa mencerahkan,  tapi lagi lagi ukurannya sangat samar. Apalagi kalau diterapkan ke dalam masyarakat.  Setelah judul tertentu terjual sekian ribu lantas bagaimana pengaruhnya kepada masyarakat. Bagaimana mengukurnya masih kurang jelas. 

Mungkin hanya pengalaman pribadi yang bisa menjelaskan pencerahan yang didapat.  Sesudah saya membaca judul tertentu saya jadi paham, atau menguasai, atau mampu melakukan sesuatu ketrampilan tertentu.  Buku ajar, atau modul atau apalah namanya.  Mereka memang memiliki lesson objective.

Lantas ada paparan, ada juga latihan lalu ada asessment.  Tapi seberapa jauh diserap pembaca ?  bagaimana mengukurnya?  Sedangkan metoda penilaian tidak mutlak akurasinya. 

Ambil contoh di bidang bahasa asing.  ETS sendiri selalu memutakhirkan perangkat ujinya.  Awalnya mereka memiliki paper based test lalu berkembang menjadi computer based test dan sekarang menjadi internet based test atau yang lazim disebut TOEFL IBT. 

Mengukur kemampuan orang dalam sebuah bidang saja ternyata sangat rumit.  Apalagi di banyak bidang.  Apalagi dampak sosialnya untuk masyarakat.  Judul apa yang paling mempengaruhi kemajuan ekonomi dan politik yang sudah dicapai masyarakat Indonesia saat ini?  Jawaban terbaik adalah tidak tahu. 

Jadi buku jenis apa, apakah buku ilmiah, buku ajar, atau buku umum, referensi, atau novel yang paling berpengaruh, sangat susah diketahui karena banyak sekali faktor yang berpengaruh.

Apakah anda seorang pemain kata atau pemain kumite, agaknya memang  memiliki kelebihan dan kelemahan masing masing. Membandingkan keduanya sama susahnya dengan membandingkan antara musik dangdut dengan musik jazz.  Hanya perdebatan tiada ujung yang terjadi.

Di dunia pariwisata mirip juga kejadiannya.  Di sana ada tour leader dan pramuwisata yang mirip seperti pemain kata dan kumite. Mana yang lebih baik, jadi perdebatan abadi. Bagaimana gagasan anda?

 

-

photo
Bambang Udoyono

Pegiat Literasi



0 Komentar


Tinggalkan Balasan