Korelasi Pendidikan Al-Ghazali Dengan Pendidikan Indonesia

Essay photo Muhammad Yusni 2021-07-22 08:04:24 0 Komentar 26
photo

Sumber: google

Imam Al-Ghazali merupakan seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat islam yang memberikan banyak sumbangsihnya bagi kemajuan manusia serta karyanya sangat banyak diberbagai ilmu pengetahuan.

Beliau juga mendapatkan berbagai macam gelar sehingga bisa mengharumkan namanya, seperti gelar Hujjatul Islam (Pembela Islam), Syaikh as-Sufiyyin (Guru Besar dalam Tasawuf), dan Imam al-Murabin (Pakar Bidang Pendidikan).

Al-Ghazali lahir pada tahun 450 H di Ghazaleh yang merupakan kota kecil yang terletak di Tus, wilayah Kurasan dan Wafat pada tahun 505 H di wilayah Tabristan Provinsi Tus.

Pemikiran Al-Ghazali terkait dengan pendidikan secara umum bersifat religius. Kemungkinan besar di pengaruhi oleh pengusaannya di bidang sufisme.

Menurut pandangannya pendidikan adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta bisa menghantarkan manusia untuk menggapai kebahagian di dunia dan akhirat.

Hakikat pendidikan menurut Ghazali adalah untuk mengikis ahklak mazmumah  dan  membentuk akhlakul karimah.

Kemudian, pendidikan diarahkan pada penanaman moral yang di landasi dengan nilai-nilai agama tanpa mengabaikan keurusan dunia sebab aspek-aspek duniawi disifati sebagai sarana pencapaian tujuan pendidikan.

Tujuan pendidikanya adalah untuk mencapai keutamaan dan kedekatan diri kepada Allah SWT serta bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau kemewaan di dunia.

Jika tujuan selain itu, maka akan menimbulkan kemudharat bahkan akan tersesat.

Menurut Prof. Dr. Sharique Ali Khan di dalam bukunya yang berjudul filsafat pendidikan Al-Ghazali, bahwa Al-Ghazali menyebutkan dua sumber utama bagi ilmu pengetahuan, yaitu sumber yang subjektif dan objektif.

Sumber subjektif terdiri atas wahyu (dialami oleh nabi), ilham (dialami selain nabi) dan intuisi. Sedangkan sumber objektif dengan bantuan panca indra yang bersifat material, logis dan masuk akal.

Dalam risalah filsafatnya, Ghazali tidak menyebut guru dan murid apa yang dipahami dalam konteks sekarang. Namun, ia menyebutkan bahwa orang yang memberikan hal apapun yang bersifat bagus, positif, kreatif, atau bersifat membangun kepada manusia dalam menginginkan dengan tingkat kehidupannya manapun atau jalan serta cara apapun, tanpa mengharapkan balasan uang kontam setimpal adalah guru atau ulama.

Seorang pelajar adalah orang yang mempelajari ilmu pengetahuan berapa usianya, dari mana, siapa, dalam bentuk apa, dengan biaya berapa untuk meningkatkan intelek dan moralnya dalam rangka mengembangkan, membersihkan jiwanya, dan mengikuti jalan kebaikan.

Dalam undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, yaitu pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran.

Menciptakan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Kemudian, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.

Menurut undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Pengertian dan tujuan pendidikan menurut undang-undang memiliki korelasi dengan pemikiran dari Al-Ghazali, yaitu menanamkan kekuatan spiritual agama di dalam proses pembelajaran ilmu pengetahuan.

Dari pernyataan tersebut, hasil dari pendidikan bisa menjadi manusia yang mendekatkan diri kepada Allah SWT dan bisa menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang baik atau berakhlak mulia.

Untuk guru dan peserta didik secara pengertian ada korelasi dengan pemikiran Al-Ghazali. Namun, secara makna yang dimaksud oleh Al-Ghazali tentang guru dan murid adalah tidak terpaku sama lembaga pendidik dan mencakup luas.

Semua orang bisa menjadi guru dengan memberikan hal yang positif untuk membangun manusia lebih baik dan peserta didik bisa belajar dimana saja selain di lembaga pendidikan.

Berbeda dengan menurut undang-undang secara makna, karena lembaga pendidikan saja yang dimaksud sebagai wadah untuk memberikan dan menerima ilmu pengetahuan.

Secara umum pemikiran Al-Ghazali ada korelasinya dengan pendidikan di Indonesia, dimana pendidikan  adalah untuk memperkuat keyakinan kepada Allah SWT dan menjadi manusia yang berkarakter baik dan manusia yang beradab.


photo
Muhammad Yusni

Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan



0 Komentar


Tinggalkan Balasan