Kritik Paulo Frieri Mengenai Pendidikan

Mahasiswa photo adam kusuma 2021-07-21 16:07:03 0 Komentar 25
photo

Sumber: amp.kaskus.co.id

Paulo Freire seorang  tokoh filsafat pendidikan berasal dari Brazil, lahir pada tahun 1921. Pada saat beliau kecil pernah mengalami krisis ekonomi, dimana berada dalam kondisi kelaparan.

Kondisi tersebut melahirkan tekad dalam diri Paulo Freire agar tidak ada lagi yang kelaparan seperti dia.  

Paulo mengambil jurusan hukum dan belajar sendiri tentang ilmu filsafat dan sosiologi. Objek awal penelitiannya, yaitu isterinya yang berprofesi sebagai guru.

Jadi, gagasan-gagasan pendidikanya terinspirasi dari cara mengajar isterinya yang berprofesi sebagai guru. Sampai dia berhasil, tetapi terdapat suatu kejadian kudeta sehingga Paulo ditangkap, dipenjara selama 70 hari, dan diasingkan.

Kemudian, dia  pergi ke negara-negara diantara lain adalah Bolivia dan Chili. Menetap di Chili sampai dikenal karena sudah menghapus buta huruf di Negara Chili.

Paulo kembali lagi ke negara asalnya, yaitu Brazil dan ia membuat perguruan tinggi di negaranya.  

Terdapat kritikan yang disampaikan Paulo Freire salah satunya tentang pendidikan, dimana mengkritik bahwa pendidikan yang ada di Indonesia ini lebih cenderung melatih untuk bekerja.

Contoh, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jika saja melatih untuk bekerja tanpa sekolah sebenarnya hal tersebut sudah bisa dilakukanseperti pekerjaan menjadi petani.

Justru petani yang lebih paham bagaimana kondisi lingkungannya, karena mereka langsung terjun untuk bekerja di lingkungannya. Kita jangan memandang rendah petani, mereka paham akan situasi yang akan dihadapi saat menjalani pekerjaannya.  

Pandangan masyarakat tentang Sekolah Menengah Kejuruan, yaitu setelah lulus sekolah langsung bisa kerja.

Padahal, semua sekolah atau pendidikan masih bisa berlanjut ke jenjang pendidikan selanjutnya. Semua pendidikan itu sama tidak ada yang membedakan, kecuali tingkatannya.

Contoh pada jenjang SD, SMP, SMA berbeda karena dominan usianya atau bisa juga kemampuannya dalam belajar.

Selanjutnya, pendidikan di Indonesia masih seperti gaya kolonial, dimana pemikirannya dapat mmenghambat jalannya kreatifitas yang dimiliki oleh peserta didik. Karena gaya pendidikan kolonial selalu diarahkan atau diatur sehingga pada jangka panjang kreatifitas yang dimiliki oleh peserta didik akan hilang.

Inilah gaya pendidikan kolonial sekolah di Indonesia lebihmerefleksikan kepentingan penjajah. Dahulu, banyak sekolah-sekolah yang dibuat oleh penjajah. Mengapa penjajah membuat sekolah di Indonesia?, karena untuk mendapatkan tenaga terdidik  yang murah agar bisa menjalankan sistem yang dirancang dan programnya.  

Selain itu, ada juga yang dinamakan dengan banking education. Pendidikan sebagai kegiatan menabung dimana para murid adalah celengan dan guru adalah penabungnya.

Proses belajar mengajar bukan seperti proses komunikasi, tetapi guru menyampaikan pernyataan-pernyataan dan “mengisi tabungan” yang diterima seperti dihafal dan diulang dengan patuh oleh murid.

Praktik pendidikan hanya dipahami sebatas sarana pewarisan ilmu. Pendidikan tidak peduli pada proses pendewasaan pemikiran dan tidak mampu mengkritisi realitas sosial yang lingkungan sekitar.

Dalam konsep pendidikan gaya bank, pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang pengetahuan kepada mereka dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa.

Ciri-ciri pendidikan banking education guru mengajar, murid belajar. Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa. Guru berpikir, murid dipikirkan. Guru bicara, murid mendengarkan. Guru mengatur, murid diatur.

Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti. Guru bertindak, murid meniru tindakan gurunya. Guru memilih apa yang akan diajarkan, murid menyesuaikan diri

Guru mengedepankan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya, dan mempertanykannya dengan kebebasan murid-muridnya. Guru adalah subyek proses belajar, murid objeknya.

Sekolah seharusnya paham terkati potensi yang dimiliki setiap peserta didik. Paulo Freire menggambarkan pendidikan seperti kebun binatang. Maksudnya, yaitu dimana setiap binatang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan beragam.

Diilustrasikan,  di dalam kebun binatang tersebut ada sebuah ujian. Kategori ujiannya, yaitu memanjat pohon. Peserta ujiannya terdiri dari beberapa yaitu burung, monyet, pinguin, gajah, ikan, anjing laut, dan seekor domba.

Ujian tersebut sudah tentulah mudah bagi burung yang bis terbang dan monyet sudah lihai dalam memanjat. Namun, bagi binatang lainnya seperti gajah, pinguin, ikan, anjing laut dan domba akan sangat sulit dilakukan.

Ilsutrasi tersebut sudah mengambarkan bahwa sekolah atau pendidikan di Indonesia harus mengoptimalkan potensi peserta didik. Dengan menempatkan peserta didik pada keahliannya masing-masing.

Jadi, dari kritik Paulo Freire yaitu guru mampu membimbing dan memfasilitasi peserta didik menjadi seseorang yang mampu membuat potensi miliknya berkembang dan sukses di masa depan.

Guru juga harus membangkitkan potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik pada  lingkungan sekitar.


photo
adam kusuma

gagal itu urusan nanti yang terpenting itu mencoba dan terus mencoba



0 Komentar


Tinggalkan Balasan