Literasi Nasional Dalam Program Prioritas Nadiem

Berita photo Luluk Latifah 2021-01-10 20:55:11 0 Komentar 124
photo

Sumber: -

Banyak dari masyarakat Indonesia yang belum mengetahui bahwa, perliterasian di Indonesia memiliki pedoman dan panduan. Keduanya masuk dalam tolak ukur gerakan literasi nasional.

Berdasarkan Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti, dilahirkan gerakan literasi nasional yang bertujuan menggencarkan literasi dalam ekosistem pendidikan.

Gerakan literasi nasional sendiri memiliki arti berupa usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan yang dibutuhkan pada abad ke-21. Gerakan ini terbagi dalam lingkup sekolah, keluarga, dan lingkungan.

Juga masih disayangkan, masyarakat Indonesia banyak menganggap berliterasi hanyalah sebatas kebiasaan membaca buku. Padahal berliterasi sendiri tebagi menjadi enam point yang menyeluruh dalam bidang kehidupan.

Di antaranya adalah literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi kewargaan. Tentunya enam point tersebut dapat terpenuhi dengan gerakan dan prasarana penunjang.

Menggalakkan gerakan literasi selalu menjadi program pemerintah setiap tahunnya. Mengingat data dari World’s Most Literate Nation oleh Central Connecticut State University di mana tingkat literasi Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 Negara di Asia Tenggara pada tahun 2016.

Peringkat 74 dari 79 negara pada 2018 oleh Survei PISA. Peringkat kedua dan keenam dari bawah sangat memprihatinkan bagi Indonesia dengan sumber daya manusia yang melimpah. 

Sudah seharusnya data tersebut menjadi bahan evaluasi kinerja pemerintah dalam mencanangkan literasi nasional. Karena kualitas manusia di suatu tempat tergantung pada tingkat literasi di dalamya.

Pada tahun 2021 literasi nasional menjadi salah satu poin dalam program prioritas nomor 7 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program tersebut, yaitu pemajuan budaya dan bahasa yang disampaikan oleh Nadiem Makariem (Menteri pendidikan dan kebudayaan) dalam rapat virtual kerja komisi X DPR RI di channel youtube resmi DPR RI bersama mentri pendidikan dan kebudayaan pada 3 September 2020.

Anggaran dana yang diberikan sebesar 622,6 M dikerahkan dalam meningkatkan SDM, lembaga kebudayaan, program publik, acara kebudayaan, fasilitas bidang kebudayaan, penguatan desa, pengelolaan warisan budaya, cagar budaya, layanan masyarakat adat, kepercayaan, gerakan penerjemah dan literasi nasional, serta uji kecakapan bahasa Indonesia.

Angka tersebut bukanlah angka yang kecil. Anggap saja negara tidak miskin dalam menyediakan anggaran untuk permasalahan yang urgent ini.

Ditindaklanjuti pada rapat virtual komisi X DPR RI, pada 22 September 2020 melalui kanal Youtube resmi DPR RI. Kemendikbud menggandeng Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dalam pelaksanaan program ini.

Langkah awal yang akan diambil Perpusnas adalah pengembangan perpustakaan Proklamator Bung Karno  dan Bung Hatta sebagai wisata sejarah yang edukatif. Dilansir dari laman resminya, Perpusnas juga menaruh perhatiannya pada masyarakat daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Antusiasme masyarakat daerah 3T begitu tinggi. Hanya saja belum terjangkau oleh prasarana dan penunjang literasi itu sendiri. Daerahnya sangat terbatas dalam mengakses informasi dengan teknologi dan layanan perpustakaan, seperti komputer dan internet.

Mengingat literasi sendiri tidak hanya meliputi kemampuan baca tulis, seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya. Pengalokasian juga diarahkan untuk peningkatan kompetensi pustakawan dan tenaga perpustakaan ribuan orang. 

Difokuskan dalam menjangkau daerah 3T, Perpusnas akan berupaya membagi-bagikan buku dan mengadakan mobil perpustakaan keliling. Tentu, perpustakaan sekolah-sekolah di sana juga perlu ditingkatkan dan dilayakkan keberadaannya. 

Setelah dikurangi 30,9 % karena dampak pandemi Covid-19 di tahun 2020, anggaran dana Perpusnas pada tahun 2021 dinaikkan menjadi Rp.252.566.276.500. Gerakan literasi inovatif, pembangunan perpustakaan di tempat-tempat keramaian, dan menerima masukan masyarakat terkait pengembangan layanan perpustakaan digital  maupun non digital menjadi usulan Ketua Komisi X syaiful Huda dalam rapat tersebut. 

Maka, fakta yang menarik mengenai pembangunan literasi disini adalah daerah atau tempat. Daerah 3T disoroti karena sulitnya keterjangkauan sarana dan prasarana. Sedangkan tempat-tempat keramaian yang strategis dianggap dapat mempermudah orang-orang mendatangi perpustakaan. Seperti pepatah “Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”.

Di manapun diharapkannya peradaban yang maju, maka di tempat tersebut literasi harus digencarkan. Karena banyak negara yang akan terus memberikan kehidupan yang maju untuk warganya.  Dan Indonesia jangan menutup mata akan hal itu.

Dengan segala upaya yang akan dilaksanakan pemerintah tersebut. Baik dari Kemendikbud, Perpusnas, kerjasama kementerian dan lembaga lain semoga dapat mengatasi rendahnya literasi di tengah masyarakat.

Tentu selain pemerintah semua upaya tersebut juga perlu disinergikan dengan masyarakat. Masyarakat jangan sampai malas dalam mengedukasi dirinya dengan beliterasi.

Hingga dapat kita temui, orang orang yang mau berliterasi bukan hanya pelajar, mahasiswa dan profesi-profesi akademisi saja. Tetapi menyeluruh di berbagai bidang.

Sehingga atas sinergitas tersebut dapat tercapai hasil yang sesungguhnya. Hasil dalam artian, melebihi posisi peringkat negara Indonesia atas negara-negara lain. Yaitu terciptanya sumber daya manusia yang berkompeten di segala kehidupan.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa, Indonesia perlu khawatir atas rendahnya tingkat literasi sebagai kepedulian terhadap kualitas hidup masyarakat, baik sekarang maupun diwaktu yang akan datang.

Semua pihak diharapkan turut serta dalam melaksanakan upaya pemajuan literasi nasional, agar hal tersebut tercapai di tahun 2021 dan terus berlanjut di tahun-tahun seterusnya. 

Baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Pengalokasian anggaran perlu dikerahkan dan pelaksanaan program-program perlu dibuktikan. Tentunya yang paling penting, prasarana dan penunjang yang diberikan harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

 

-

photo
Luluk Latifah

Mahasiswi PAI UAD | Content writer @literaksi



0 Komentar


Tinggalkan Balasan