Memantik Profesionalitas Industri Perbukuan

Essay photo Bambang Trim 2020-10-22 18:27:46 0 Komentar 371
photo

Sumber: -

Sejak Mei 2019, upaya membangun fondasi mutu buku pendidikan tengah dilakukan. Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor Profesional (LSP PEP) melaksanakan uji kompetensi/sertifikasi untuk para penulis buku nonfiksi dan editor. LSP PEP memperoleh kepercayaan dari BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) untuk melaksanakan Program Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Kerja (PSKK) dengan target asesmen 2.000 orang.

Di antara penyelenggaran tempat uji kompetensi (TUK), terdapat dua penerbit besar di Jawa Tengah yang bergerak di industri perbukuan. Respons dua penerbit ini yang memfasilitasi ratusan penulis dan editor untuk disertifikasi patut diberi apresiasi. Hal ini memantik kesadaran untuk menyiapkan SDM yang kompeten menangani buku pendidikan.

Penjaminan mutu buku sendiri sudah termuat dalam UU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Adapun penyiapan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) dan sertifikasi di bidang perbukuan sudah diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Sistem Perbukuan yang saat ini sedang menanti tanda tangan Presiden RI. Secara langsung maupun tidak langsung, amanat ini mendorong pelaku perbukuan mengukuhkan idealisme dalam menghasilkan buku-buku pendidikan yang bermutu.

Pasca diberlakukannya UU Nomor 3 Tahun 2017 memang belum terlihat geliat industri perbukuan yang berarti. Situasi masih sama dalam beberapa tahun ini. Pelaku perbukuan masih menantikan terbitnya PP dan Peraturan Menteri untuk mengatur hal-hal lebih teknis sehingga dapat digunakan dalam pemajuan industri perbukuan.

Walaupun demikian, kerap juga terdapat pandangan bahwa sertifikasi dan akreditasi berpengaruh terhadap pengembangan daya kreatifitas pelaku perbukuan dan para penerbit. Di satu sisi, buku-buku tidak bermutu makin banyak terbit dan dinilaikan ke institusi pemerintah, seperti Pusat Perbukuan. Terlalu banyak orang yang dengan mudah menyatakan profesinya sebagai penulis atau editor tanpa batasan kompetensi. Demikian pula terlalu gampang bagi seseorang untuk masuk ke industri yang sangat menentukan pendidikan bangsa, yaitu industri buku pendidikan.

Sertifikasi profesi pelaku perbukuan juga harus dipandang sebagai langkah menyehatkan iklim perbukuan dengan mengandalkan mutu buku, bukan lagi mengandalkan praktik-praktik tidak baik ketika sebuah buku dinilai dan dinyatakan layak untuk digunakan di lingkungan pendidikan. Dengan demikian, sertifikasi memantik profesionalitas para pelaku perbukuan yang berkarya berdasarkan standar, kaidah, dan kode etik profesi. Hal ini yang sebelumnya kurang terperhatikan terkait dengan pendidikan dan pelatihan pelaku perbukuan, penyusunan standar perbukuan, dan pembinaan terhadap asosiasi profesi perbukuan.

Jika becermin pada sejarah, industri perbukuan di Indonesia sudah ada sejak zaman sebelum kolonial Belanda. Industri ini menjadi penopang bangkitnya intelektualitas bangsa Indonesia, termasuk budaya literasinya. Ungkapan bahwa bangsa Indonesia lebih terpapar budaya atau tradisi lisan sejatinya tidak sepenuhnya demikian karena perbukuan juga melatari kelahiran bangsa ini. Bayangkan jika para pendiri bangsa kita bukanlah seorang kutu buku atau penulis buku, mungkin kemerdekaan Indonesia sulit terjadi.

Jejak sejarah panjang ini semestinya menjadi modal bangsa Indonesia membangun kembali kekuatan daya literasinya untuk menyongsong perubahan zaman: apakah itu Revolusi Industri 4.0, Bonus Demografi, atau lahirnya generasi baru. Sebelum hal itu dihadapi, dalam konteks industri perbukuan, maka yang perlu dibenahi adalah kompetensi dan profesionalitas pelaku perbukuan untuk menghasilkan buku-buku bermutu. Gairah perbukuan juga perlu dibangkitkan pemerintah dengan mengeluarkan regulasi-regulasi yang ditetapkan dengan pertimbangan profesionalitas, contohnya terkait penetapan harga buku yang dibeli dengan proyek-proyek pemerintah.

*) Praktisi perbukuan nasional, tim ahli penyusunan RPP tentang Pelaksanan Sistem Perbukuan

 


photo
Bambang Trim

Direktur Institut Penulis Indonesia dan Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia



0 Komentar


Tinggalkan Balasan