Menanti Dimulainya Zaman Baru

Motivasi photo Rendi Herinarso 2021-07-21 08:49:55 0 Komentar 44
photo

Sumber: google.com

Ketidakmampuan manusia memahami nilai, proses dan tujuan kehidupan menyebabkan kesimpangsiuran makna dasar kemanusiaan.

Kegagalan menafsirkan nilai kehidupan dasar ini, berdampak pada berubahnya cara pandang. 

Cara pandang melahirkan paham, sikap, dan tindakan. Sesuatu yang seharusnya dimaknai dengan serius, justru tidak disikapi secara serius.

Hal yang harus dipatuhi malah diingkari, yang mesti dilaksanakan justru ditinggalkan. 

Sesuatu yang tidak wajar, dianggap hal yang lumrah. Bahkan, dalam beberapa kondisi situasi ini sudah tidak dipersoalkan. Ketidakpatuhan itu menjelma menjadi ihwal umum karena telah mendarah daging dilestarikan menjadi budaya.

Indikasi terjadinya bencana kemanusiaan yang lahir dari kegagalan memahami nilai dasar itu, bisa kita lihat dalam konteks budaya Indonesia kawari.

Koruptor yang harus malu ketika di bui, malah tertawa bahagia seolah merasa kelakuannya itu benar. 

Aparat negara tiada henti menyengsarakan rakyat, yang dengan seenak jidat menandatangi kertas tanpa terlebih dahulu dibaca. 

Hakim-hakim di pengadilan semakin menggila saja, melegalkan pembabatan hutan dengan dalih pohon akan ditumbuhkan kembali oleh Tuhan. 

Pemerintah yang dituntut memberi solusi, malah menghadirkan buzzer dan influencer sebagai badut untuk membenarkan kebijakan yang banyak mudarat itu. 

Membiarkan berbagai kondisi tersebut, mengantar kita pada kiamat kemanusiaan. Kiamat yang kita maknai dengan semakin jauh nilai hakiki dari kehidupan nyata. Nilai keadilan, nilai kesejahteraan, nilai kemanusiaan, dan berbagai nilai fundamental kemanusiaan. 

Padahal, sedari duluTuhan telah menciptakan berbagai nilai dasar itu. Namun, adanya berbagai hal pemahaman terkait nilai tersebut bergeser sehingga menjadi kabur pemaknaan atas nilai tersebut. 

Penyebab paling utama, yaitu ketidakbecusan pemerintah dalam memahamkan kembali nilai dasar itu kepada masyarakat.

Apa yang sebelumnya merupakan makna dasar atau denotasi, berubah menjadi konotasi atau ditambahkan. 

Pengkonotasian makna denotasi ini, cenderung dilegitimasi sebagai landasan untuk bertindak. Contohnya,  ialah simbolisasi ‘status sosial masa kini’. 

Orang lebih dianggap mempunyai status sosial dengan derajat tinggi ketika dia bisa membeli rumah mewah, mempunyai kendaraan berkelas, dan tanah berhektar-hektar. 

Padahal, belum tentu semua itu diperoleh dengan kerja keras dari keringat sendiri. Intinya kaya. 

Status sosial itu berkaitan dengan peranan diranah sosial. Seberapa besar perjuangan yang dilakukan untuk kebaikan orang banyak. 

Misal, seseorang yang berstatus sebagai pengajar membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. Orang  itu statusnya sebagai outsider, ikut menggerakkan masyarakat yang tertindas bangkit melawan tirani kekuasaan. Hal ini yang dikatakan ‘status sosial’. 

Perihal banyak sedikit harta, hanya sebagai penanda keadaan saja. Bukan status sosial. 

Celaka lagi, pemerintah sering mengaminkan kondisi sosial yang serba terbalik itu. Pemerintah saat ini lebih memandang tinggi orang berpangkat, mempunyai ijazah. 

Sadar atau tidak, pengakultusan itu  berdampak pula pada kalangan masyarakat umum. Gelar yang berderet rapi dibelakang nama, ijazah yang berlembar-lembar lebih dihargai ketimbang sebuah karya. Karya orisinil, ciptaan sendiri. 

Seakan semua ihwal baru dianggap benar, ketika telah dilegitimasi melalui kredensi versi penguasa.  

Alih-alih kembali pada makna asal, sejumlah pihak justru membuat situasi semakin kacau dengan pandir ikut melebihkan makna konotasi.

Kondisi yang carut-marut ditambah rezim yang bebal membuat lengkap kaburnya makna denotasi. Tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk menyambut kiamat. Kondisi sekarang ini sudah melebihi makna dari kiamat itu sendiri. 

Sekarang, kondisinya sudah kiamat terus dan belum ada tanda-tanda dimulai zaman yang baru. Perubahan yang mampu mengembalikan makna konotasi kepada makna denotasi. 

Memulai Zaman Baru

Nilai yang telah berubah makna harus dikembalikan lagi. Re-denotasi nilai. Karena saya yakin, Tuhan memberikan panduan terhadap nilai itu pasti. Yang berubah hanya pemahaman atas nilai saja. 

Nilai itu telah digariskan Tuhan pada catatan abadi-Nya, tetap akan berlaku sepanjang zaman. Tidak perlu susah payah menunggu Imam Mahdi,  Juru Selamat atau istilah lain dalam berbagai agama. 

Kita mulai dari diri masing-masing. Kembali introspeksi dan terus evaluasi. 

Perlu diingat, kekacauan zaman tidak disebabkan karena telah digariskan Tuhan seperti ini. Memang kita belajar dari sesuatu yang telah terjadi. 

Tuhan tidak ingin seorang hamba egois dengan hanya berpangkutangan saja. Pelajaran yang diberikan oleh Tuhan, tidak membuat kita untuk berpasrah tanpa tindakan nyata. 

Setidaknya ada rasa kegelisahan, yang menuntut kita bergerak dan berbenah. Kegelisahan akan semua fenomena-fenomena. Saya yakin kegelisahan ini telah banyak hinggap pada sebagian orang, tetapi  nyaris, belum ada pioner gagah berani bertindak. 

Jika terdapat satu pioner bergerak bermain api menantang kekuasaan, selalu saja kalah dengan minimnya dukungan. Ditambah kezaliman telah terlampau solid bersatu sehingga membentuk kejahatan tersistematis.

Kejahatan yang tersistematis, hanya bisa dilawan dengan kebaikan yang tersistematis pula. Kebaikan ini, tidak bisa diciptakan satu orang. Perlu banyak orang berkonsolidasi. 

Membentuk kekuatan baru. Poros kekuatan penantang kezaliman. Poros baru dengan persiapan matang, terorganisir dan terukur. Poros yang siap hidup dalam ketidaknyamanan. 

Disitulah alasan kenapa ada negara atau organisasi. Orang perorang hanya bisa memproteksi diri mereka masing-masing. Sejak zaman baheula, kekuatan besar, berhadapan dengan kekuatan besar pula. 

Berkaca pada sejarah revolusi Prancis, Revolusi Bolshevik, dan Reformasi 1998 dilakukan bersama-sama dan berhasil. Berhasil menentang kekuatan besar,nyaris tiada tanding. 

Memang selalu diperlukan perkumpulan orang untuk mengatur kehidupan bersama. Bekerja dan berbuat bersama. Demi kepentingan hajat hidup orang banyak, memberanikan memulai zaman yang baru. 



photo
Rendi Herinarso

Kontributor Komunitas Oemah Kader Jogja



0 Komentar


Tinggalkan Balasan