Mendidik Karakter dengan Belajar Sejarah

Essay photo Luluk Latifah 2021-01-18 13:27:04 0 Komentar 132
photo

Sumber: -

Pendidikan karakter merupakan sebuah point penting dalam konsep pendidikan. Pendidikan karakter akan menentukan cara seseorang bersikap dan menjalankan kehidupan.

Namun, adakah yang memahami bahwa mempelajari sejarah dapat menyelamatkan karakter penerus bangsa? Bagaimana hal tersebut dalam perspektif pemikiran K.H Ahmad Dahlan? Tokoh pembaharuan yang berperan besar dalam pembangunan pendidikan di Indonesia.

Tentu persoalan tersebut dirumuskan secara berdasar. Pentingnya pelajran sejarah, hingga sejarah dijadikan salah satu mata pelajaran di sekolah sampai saat ini. 

Tulisan dari Sholikul Hadi pada laman kompasiana.com (22/12/2020) cukup menarik untuk diulas lebih dalam. Dengan judul “Pendidikan Watak atau Karakter”.

Pembelajaran sejarah menjadi benang merah dalam tulisan tersebut. Perlu kita telusuri terlebih dahulu, kebenaran kabar penghapusan pelajaran sejarah yang disebutkan dalam artikel tersebut.

Tertulis “ Adanya gosip, katanya pelajaran sejarah mau dihilangkan dalam kurikulum yang disederhanakan”. Menteri pendidikan dan kebudayaan Nadiem Makarim dalam rapat kerja dengan komisi X DPR pada kamis 27 Agustus 2020 menegaskan dan meluruskan hal tersebut.

Sampai dengan 2022 penyederhanaan kurikulum tidak akan dilakukan. Tidak ada kebijakan apapun yang akan dikeluarkan pada tahun 2021, dalam skala kurikulum nasional. Juga penghapusan pelajaran sejarah tidak akan dilakukan dalam jangka waktu tersebut. 

Sebelum menelusuri lebih lanjut peran pelajaran sejarah dalam membangun karakter perspektif pemikiran K.H Ahmad Dahlan.  Penting bagi kita untuk mengetahui pengertian karakter itu sendiri.

Karakter menurut Kamus Bahasa Indonesia (KBBI), disebut juga tabiat yang berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.

Belum banyak kita ketahui, ternyata Kementerian Pendidikan Nasional telah memiliki desain induk pendidikan karakter. Yaitu, “karakter dimaknai sebagai nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang”

Kemudian mengenai keberadaan pembelajaran sejarah di Indonesia.  Pembelajaran sejarah terbagi menjadi dua. Pembelajaran sejarah yang pertama adalah pembelajaran yang bersifat ilmiah akademik. Pembelajaran ini disajikan dalam pendidikan profesional di perguruan tinggi.

Kemudian yang kedua bersifat pragmatis. Pembelajaran sejarah pragmatis ini digunakan sebagai sarana pendidikan di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Dalam tulisan Sholikul disebutkan sejarah, dapat menjadi renungan manusia dalam menjalani hidup.

Memahami bagaimana manusia dulu mengelola resiko. Ia juga mengatakan, bahwa sejarah menceritakan bagaimana generasi masa lalu berjuang mempertahankan martabat yang seringkali gagal. 

Pemikiran K.H Ahmad Dahlan telah menerobos berbagai resiko dalam membangun pendidikan. Tak luput dari jerih payah beliau, pendidikan karakter diusung menjadi salah satu konsep dalam pendidikan.

Pendidikan karakter K.H Ahmad Dahlan dilahirkan sebagai ajaran akidah untuk umat muslim. Walau banyak umat agama lain yang juga terinspirasi dan menerima hasil dari pemikiran tersebut.

Dengan landasan konsep welas asih (cinta kasih) dari penafsirannya terhadap Q.S Al-Maun yang melahirkan nilai kemanusiaan.  Welas asih merupakan kesediaan menahan nafsu dan tidak malas memperjuangkan kebaikan juga kebenaran (Munir Mulkhan:2010). 

Atas dasar tersebut terdapat dua materi pendidikan karakter dari K.H Ahmad Dahlan menurut Sucipto(2010) yang dapat dikorelaskan dengan pembelajaran sejarah. Yang pertama adalah kemajuan dan peradaban.

Peran kegagalan dan keberhasilan di masa lampau dalam kemajuan dan peradaban begitu penting. Penting dalam artian membawakan pembelajaran sejarah sebagai evaluasi.

Dari berbagai lini kehidupan, tentunya terus menerus diupayakan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Walau terdapat tantangan tersendiri bagi sebuah bangsa untuk bergerak maju.

Melangkah dengan stagnan atau berlari mengejar bangsa-bangsa lain yang melaju pesat. Menjadikan peradaban yang dicatat oleh waktu sebagai sejarah di masa yang akan datang. Apalagi telah kita ketahui sosok K.H Ahmad Dahlan adalah seorang tokoh pembaharuan. 

Kedua adalah dinamika kehidupan dan peran manusia di dalamnya. Erat kaitannya dengan materi pertama. Karena yang dimuat dalam pembelajaran sejarah pasti kejadian-kejadian dan kondisi yang berpengaruh.

Tentu sejarah mencatat sosok-sosok yang membawa dinamika dalam kehidupan di setiap zamannya. Pembelajaran karakter tidak hanya mengetahui sikap dan perilaku tauladan mereka.

Namun murid-murid di sekolah mampu mencontohnya. Pembelajaran sejarah seumpama pembacaan dan penafsiran cerita. Menunjukkan tindakan tokoh-tokoh yang perlu dan tidak perlu dilakukan dalam kehidupan. 

Kedua materi pendidikan karakter K.H Ahmad Dahlan tersebut tidak jauh dari fungsi sejarah. Fungsi termudah sejarah adalah menjadi bahan evaluasi atas sikap dan keputusan-keputusan yang dipilih.

Kemudian melahirkan kondisi yang berpengaruh dalam kehidupan. Hingga lahirlah perbaikan-perbaikan dari evaluasi. Begitu dan seterusnya bahkan di masa depan nanti.

Namun perlu di ingat. Sejarah tidak dapat mengerjakan semua itu sendirian. Seperti yang tertulis pada artikel Sholikul. “Memang banyak yang menganggap pelajaran sejarah tidak bermanfaat, karena mereka jadi korban (yang tak mau menolong sendiri) dari kesalahan metode dalam pembelajaran sejarah”.

Bahwa memang, murid-murid di sekolah menjadi malas belajar sejarah karena cara penyampaiannya tidak tepat. Diperlukan metode yang menarik dan tidak membosankan untuk mempelajari sejarah. Dan hal tersebut menjadi PR untuk para pengajar sejarah. 

Dapat disimpulkan bahwa sejarah memiliki peran yang besar dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Dan pembelajaran sejarah di sekolah sekolah memiliki tujuan membangun kepribadian generasi penerus bangsa.

Pembelajaran sejarah juga harus menjadi sorotan pemerintah seperti pembelajaran-pembelajaran lain. Tentunya juga mengubah pandangan masyarakat, bahwa sejarah dan pembelajarannya tidak begitu penting menjadi sesuatu yang bermanfaat.

 Karena nilai-nilai luhur dalam sejarahlah yang dapat menentukan bagaimana orang orang bersikap dan menjalankan kehidupan, di masa sekarang dan yang akan datang.

 

 

-

photo
Luluk Latifah

Mahasiswi PAI UAD | Content writer @literaksi



0 Komentar


Tinggalkan Balasan