Meningkatkan Efektivitas Proses Pembelajaran Di Masa Pandemi Covid-19 Dari Sudut Pandang Para Filsuf

Mahasiswa photo Silvia Laeli 2021-01-11 00:47:12 0 Komentar 809
photo

Sumber: -

Di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini proses pembelajaran dilaksanakan secara daring. Tidak dipungkiri bahwa pembawaan bahan ajar dalam pembelajaran online tidaklah mudah. Banyak terdapat kendala-kendala yang bisa terjadi pada proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang mengakibatkan efektivitas dan kualitas proses serta hasil belajar tidak maksimal.

Dalam masa pandemi Covid-19 seperti ini, tentunya terjadi perubahan sistem Pendidikan. Di mana proses pembelajaran diganti dengan sistem daring selama pandemi ini masih melanda Indonesia. Hal ini menjadi tantangan bagi para dosen dan guru untuk tetap memastikan tujuan pembelajaran bisa tercapai selama pandemi.

Sekarang kita akan menggali lebih dalam mengenai solusi yang relevan dengan permasalahan tersebut. Kita dapat menelaah solusi-solusi yang disampaikan oleh para filsuf pendidikan, kemudian memodifikasi agar solusi tersebut dapat diimplementasikan di masa pandemi Covid-19.

Ivan Illich

Ivan Illich merupakan salah satu filsuf pendidikan yang terkenal di dunia. Beliau memberi kritik terhadap pendidikan, yaitu deschooling society. Yang mana beliau juga memberi solusi-solusi yang menarik untuk kita kupas. Di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini dibutuhkan gagasan agar efektivitas pembelajaran tetap stabil.

Ivan Illich menawarkan solusi pendidikan yang berguna yang mana untuk menciptakan kemampuan berfikir kritis dapat dirangsang dengan kenyataan-kenyataan di sekelilingnya serta berbekal. Dengan segala keterbatasan yang ada, proses pembelajaran tetap bisa mengimplementasikan hal tersebut.

Caranya, yaitu dengan mengaktifkan forum group disscusion melalui beberapa platform video conference atau bisa menggunakan whatsApp group dan mengontrol agar proses diskusi berjalan dengan semestinya.

Untuk dapat menstabilkan efektivitas belajar mengajar, kita bisa melakukan suatu inovasi baru dengan memasukan selingan pada proses pembelajaran dengan metode gamifikasi atau pembelajaran berbasis game. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membangkitkan semangat belajar siswa karena gamifikasi itu sangat menarik dan menyenangkan.

Hal ini sangat relevan dengan peran guru menurut filsuf Ivan Illich, salah satu peran guru adalah sebagai ahli terapi. Di situasi seperti sekarang ini para siswa rentan sekali mengalami kecemasan akademik. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu metode serta model pembelajaran yang sesuai agar mampu menstabilkan serta meningkatkan hasil belajar siswa meskipun pembelajaran dilaksanakan secara daring.

Jean Piaget

Menurut pandangan seorang psikolog asal Swiss Jean Piaget, tujuan pendidikan bukanlah untuk menambah banyaknya pengetahuan, melainkan optimalkan potensi manusia untuk menciptakan hal-hal baru.

Pemahaman pedagogi dikritik oleh Malcolm Shephedr Knowles, yang memperkenalkan prespektif “andragogi” untuk peserta didik yang lebih dewasa. Andragogi akan menempatkan peserta didik sebagai insan yang dewasa dan seharusnya menjadi fokus pembelajaran, bukan pada guru atau dosennya.

Paradigma pedagogi yang menjadikan dosen atau guru sebagai simber pengetahuan utama justru membuat pembelajaran daring menjadi kurang dinamis dan tidak optimal bagi kedua belah pihak. Pembelajaran dalam metode andragogi ini harus dirancang aktif dua arah, keterlibatan dan partisipasi peserta didik sangat diutamakan.

Disinilah seharusnya pembelajaran daring bisa jadi momentum guru dan dosen memperkenalkan andragogi bahwa belajar bisa dari segala arah dan yang lebih penting lagi mengajak peserta didik mengidentifikasi masalah yang ada di sekitarnya.

Pembelajaran daring seharusnya juga menjadi momentum traksi bagi program merdeka belajar yang dicanangkan Kemendikbud untuk mengubah budaya mengajar kita. Tiada kemerdekaan tanpa kebebasan dan kedaulatan.

Peserta didik diiberi kebebasan untuk belajar dari segala arah, juga kedaulatan untuk berkontribusi pada masyarakat sesuai dengan passion dan penggali hatinya. Terlepas dari keterbatasan akses teknologi dan infrastruktur, pembelajaran daring seharusnya bisa menjadi gerbang bagi kemerdekaan itu.

Penulis : Silvia Laeli dan Elvine Heranita

 

 

 


photo
Silvia Laeli

Mahasiswa Pendidikan Fisika Angkatan 2019 Universitas Ahmad Dahlan



0 Komentar


Tinggalkan Balasan