Meningkatkan Mutu Pendidikan Menggunakan Metode Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning)

Mahasiswa photo Fajri Alifah 2021-01-10 22:56:38 0 Komentar 934
photo

Sumber: -

Masalah terbesar yang sering di perbincangkan dalam dunia Pendidikan salah satunya yaitu kurangnya mutu Pendidikan yang dapat tercermin dari rendahnya rata-rata hasil belajar peserta didik. Sekolah-sekolah yang ada di Indonesia belum menerapkan pembelajaran secara tuntas sehingga banyak peserta didik yang tidak menguasi materi pembelajaran secara menyeluruh.

Masalah lain, yaitu metode yang digunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar masih menggunakan metode teacher centered, di mana guru menempatkan peserta didik sebagai objek bukan sebagai subjek didik, sehingga peserta didik tidak dapat mengembangkan kemampuannya secara maksimal. Oleh karena itu, tidak heran apabila mutu Pendidikan masih terbilang rendah.

Pendekatan kompetensi perlu di terapkan sebagai upaya memperbaiki kondisi Pendidikan di Indonesia dengan alasan peserta didik memiliki potensi yang berbeda, potensi tersebut dapat berkembang baik apabila stimulusnya tepat; rendahnya mutu Pendidikan dikarenakan mengabaikan aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni dan olahraga, serta life skill; persaingan global yang sangat ketat; persaingan sumber daya manusia dalam Lembaga Pendidikan; perlunya rumusan yang jelas mengenai standar kompetensi lulusan.

Pendekatan pembelajaran diarahkan dalam upaya membangun dan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengelola materi pembelajaran sesuai dengan kondisi masing-masing peserta didik, dimana proses kegiatan belajar mengajar lebih mengacu pada bagaimana peserta didik itu belajar bukan apa yang di pelajari oleh peserta didik. Pendekatan secara pembelajaran secara tuntas (Mastery Learning) merupakan salah satu upaya atau usaha dalam Pendidikan dengan tujuan meningkatkan motivasi peserta didik untuk mencapai pemahaman terhadap kompetensi tertentu.

Asumsi yang mendasari pembelajaran tuntas yaitu peserta didik memiliki latar belakang dan karakteristik yang berbeda-beda sehingga menjadi ciri khas peserta didik tersebut, karakteristik yang dimliki peserta didik dapat memengaruhi bagaimana proses belajar peserta didik, dari proses belajar peserta didik dapat mempengaruhi bagaimana proses belajar peserta didik lainnya.

Pendekatan pembelajaran tuntas dimaksudkan agar seluruh peserta didik dapat menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun standar dasar mata pelajaran tertentu. Dalam model pembelajaran ini, peserta didik akan mencapai tingkat pemahaman jika peserta didik diberikan waktu yang diperlukan untuk memahami suatu materi, apabila peserta didik menghabiskan waktu yang di perlukan, kemungkinan besar peserta didik dapat mencapai tingkat pemahaman suatu kompetensi.

Tetapi apabila peserta didik tidak diberikan waktu untuk memahami suatu materi, maka tingkat pemahaman peserta didik tidak bisa mencapai hasil yang optimal. Peningkatan pemahaman kompetensi ditentukan seberapa banyak waktu yang dibutuhkan peserta didik untuk menguasai materi tertentu.

Pembelajaran tuntas menciptakan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran sehingga dalam kegiatan belajar mengajar tidak terjadi peserta didik yang memiliki kelebihan untuk memahami materi dengan cepat akan mencapai semua tujuan pembelajaran sedangkan peserta didik yang membutuhkan waktu lebih untuk memahami materi hanya mencapai Sebagian dari tujuan pembelajaran bahkan tidak mencapau tujuan sama sekali.

Pembelajaran secara tuntas merupakan metode untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mencapai hasil pembelajaran yang optimal, pembelajaran tuntas ini merupakan kerangka berpikir untuk merencanakan rangkaian instruksional yang di rumuskan oleh John B.Carrol dan Benjamin Bloom. Gagasan teoritis pada pembelajaran tuntas didasarkan pada prespektif John carrol mengenai bakat.

Semakin banyak bakat yang dimiliki oleh peserta didik, semakin peserta didik itu belajar. Agar pembelajaran tuntas dapat dilaksanakan dengan baik, harus dilakukan persiapan yang sangat matang seperti mempersiapkan alat evaluasi, setiap peserta didik harus menemukan kesulitan sendiri dalam mempelajari suatu materi, mengembangkan pembelajaran alternatif, menyusun tes untuk memperoleh informasi peserta didik mengenai hasil pembelajaran.

Pembelajaran secara tuntas menekankan apabila peserta didik belum mencapai ketuntasan pada suatu kompetensi maka peserta didik tidak diperkenankan untuk melanjutkan ke kompetensi berikutnya, dengan catatan guru harus memberikan remidial kepada peserta didik yang belum mencapai ketuntasan.

Dengan kondisi seperti ini, potensi yang dimiliki oleh peserta didik akan semakin terasah dan berkembang, minat masing-masing peserta didik juga akan optimal sehingga dapat memudahkan peserta didik untuk ke tahap kompetensi berikutnya.

Dalam pembelajaran tuntas suatu tes diberikan untuk menjadi tolak ukur guru dalam menentukan apakah peserta didik sudah siap melangkah ke kompetensi berikutnya atau masih harus dilakukan perbaikan sehingga belum bisa untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.

Maka dalam pembelajaran tuntas remidial dan pengayaan sangat diperlukan dah harus dilakukan untuk mengukur seberapa jauh peserta didik memahami sebuah kompetensi, remidial dan pengayaan juga harus dilakukan dengan baik sampai pada peserta didik tuntas dan lulus dari sebuah kompetensi yang sudah ditetapkan oleh kurikulum.

Dapat disimpulkan bahwa, dengan mengimplementasikan metode pembelajaran tuntas diharapkan peserta didik mampu meningkatkan hasil belajarnya, karena setiap usaha peserta didik dalam mencapai ketuntasan sangat dihargai dan diapresiasi. Peserta didik yang cepat dalam menguasai materi akan diberikan pengayaan, sedangkan peserta didik yang kurang cepat dalam memahami materi akan diberikan remidial.

Guru yang bertindak sebagai fasilitator dan peserta didik yang bertindak sebagai objek, sehingga dalam hal ini peserta didik harus lebih banyak bekerja di bawah bimbingan dari guru.

Guru yang bertindak sebagai fasilitator dalah hal ini harus mampu memahami karakteristik setiap peserta didik sehingga guru dapat melakukan pendekatan individual dan memberikan bantuan kepada peserta didik apabila dibutuhkan. Apabila ini terus dilakukan maka minat peserta didik akan semakin bertambah dalam memahami suatu kompetensi dan akan berpengaruh terhadap prestasi dan mutu belajarnya.


photo
Fajri Alifah

Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Pendidikan Fisika



0 Komentar


Tinggalkan Balasan