Menjadi Editor Naskah

Essay photo Bambang Trim 2020-09-19 00:01:12 0 Komentar 1160
photo

Sumber: -

Suzanne Gilad, Presiden PaidToProofread.com, penulis buku "Copyediting & Proofreading for Dummies" menyebut bahwa copyediting atau mengedit naskah adalah membaca yang dibayar.

Ada yang bertanya kepada saya, "Apakah editor atau penyunting dapat bekerja secara lepas (freelance)?" Ya, tentu saja karena editor itu tipikal profesi yang fleksibel, apalagi untuk zaman kini sehingga dapat dilakukan dari mana pun.

Editor jelas sebuah profesi--setara dengan profesi lainnya. Ciri khas profesi, yaitu memiliki standar prosedur operasional; memiliki standar tarif; dan memerlukan keterampilan untuk menjalankannya.

Ilmu editing atau penyuntingan hampir tidak pernah diajarkan di pendidikan dasar dan menengah sekolah-sekolah kita. Namun, di perguruan tinggi jurusan bahasa dan sastra atau ilmu komunikasi diajarkan sebagai mata kuliah pilihan.

Saya belajar ilmu editing secara formal di Prodi D-3 Editing dan S-1 Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran. Lalu, belajar ilmu editing secara praktik di berbagai penerbit dan lembaga selama lebih dari 20 tahun.

Editor sebagai profesi tentu berbeda dengan keterampilan mengedit tulisan sendiri. Mengedit tulisan sendiri atau swasunting termasuk keterampilan standar bagi para penulis agar ia menghasilkan karya tulis minim kesalahan.

Editor sebagai profesi dibedakan atas lingkup kerja dan jabatannya. Dalam lingkup kerja, dikenal editor akuisisi, editor naskah, editor pengembang, dan editor gambar. Ilmu dasar dari editing/penyuntingan adalah copyediting atau dalam istilah yang saya pelajari di Prodi D-3 Editing Unpad disebut editing nas--nas bermakna teks.

Komponen utama dari naskah adalah bahasa, baik itu bahasa teks maupun bahasa gambar. Karena itu, fokus utama editing adalah bahasa. Namun, ketika sebuah naskah diproses menjadi sebuah materi publikasi maka editing menjadi tidak sesederhana hanya mengurusi bahasa.

Saya agak tersenyum kecut ketika seseorang yang sudah mengikuti pelatihan daring dan memiliki sertifikat pelatihan editing menyebut PUEBI dan KBBI sebagai dasar keterampilannya. Tidak salah, tetapi tidak cukup baginya menjadi seorang editor hanya paham soal PUEBI dan KBBI. Pada kenyataannya ada banyak perkara bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh PUEBI dan KBBI.

PUEBI dan KBBI hanya mengandung salah satu aspek penyuntingan bahasa yaitu ejaan. Di luar ejaan, seorang editor masih akan bertemu dengan perkara diksi, tata bentuk, tata kalimat, dan paragraf. Belum lagi menelusuri tingkatan dari setiap unsur bahasa: kata-frasa-klausa-kalimat-paragraf.

Ada 7 aspek yang disunting dari sebuah naskah:

1. keterbacaan dan kejelahan (readability dan legibility);

2. ketaatasasan (penerapan kaidah dan gaya selingkung);

3. kebahasaan;

4. kejelasan gaya bahasa;

5. ketelitian data dan fakta;

6. kelegalan dan kepatutan; dan

7. ketepatan perincian produksi.

Untuk menyunting ketujuh aspek tersebut, editor harus kompeten dalam hal desain komunikasi visual (terutama tipografi); penerapan gaya selingkung (terutama pada naskah KTI); bahasa tulis; gaya penulisan (stilistika); pengetahuan umum dan pengetahuan spesifik; hak cipta dan kode etik; penerbitan destop; serta ilmu grafika.

Karena itu, editing berkembang sebagai bidang ilmu spesifik yaitu ranting dari ilmu penerbitan (publishing science). Adapun ilmu penerbitan adalah cabang dari ilmu komunikasi. Adapun ilmu komunikasi adalah batang dari ilmu bahasa.

Ada tiga ilmu editing:

1. copyediting;

2. substantive editing: developmental editing, structural editing, comprehensive editing; dan

3. pictorial editing.

Satu bagian kecil dari copyediting disebut proofreading. Beberapa pendapat menyebutkan proofreader (korektor) bukan profesi dan bukan bagian dari copyediting.

Jadi, ranah kerja editor terdapat pada semua teks, tidak peduli itu teks di dalam naskah buku, naskah jurnalistik, naskah legal/regulasi, naskah pribadi, atau naskah bisnis.

Sebagai editor profesional, saya pernah bekerja untuk lembaga dan ranah-ranah berikut ini:

1. editor naskah di beberapa penerbit nasional;

2. editor dokumen asuransi di PT Prudential Indonesia;

3. editor dokumen laporan di Pusat Kajian Strategis TNI;

4. editor Peraturan MA di Mahkamah Agung;

5. editor Peraturan Kapolri di Baharkam Polri;

6. tenaga ahli penyusunan RUU, RPP, dan R-Permendikbud Sistem Perbukuan;

7. anggota Panitia Penilaian Buku Nonteks di Puskurbuk;

8. penilai buku bacaan liiterasi di Badan Bahasa;

9. pengembang soal UKBI untuk penulisan di Badan Bahasa;

10. dan sebagainya.

Sebagai editor buku, saya pernah membidani kelahiran buku-buku laris, seperti

1. Aa Gym Apa Adanya: Sebuah Qolbugrafi;

2. Step-by-Step Manajemen Qolbu;

3. The True Power of Water;

4. Setengah Isi Setengah Kosong;

5. Api Sejarah I dan II;

6. dan sebagainya.

Saya pernah menjadi narasumber/pemakalah tentang editor pada Seminar Editor yang diselenggarakan oleh Persatuan Editor Malaysia di Selangor. Selain itu, saya pernah menjadi partisipan dalam REX-Ikapi Editor Forum di Filipina.

Tahun 2006, saya merintis terbentuknya Forum Editor Indonesia. Deklarasinya di Bandung dihadiri oleh 200 orang editor dari berbagai penerbit. Namun, organisasi ini urung terwujud menjadi organisasi profesi.

Saya menulis beberapa buku tentang editing, yaitu

1. Copyediting diterbitkan oleh Ikapi DKI;

2. Tak Ada Naskah yang Tak Retak diterbitkan oleh TrimKom;

3. Taktis Menyunting diterbitkan oleh Maximalis;

4. Solusi Editing diterbitkan oleh Bumi Aksara; dan

5. Editingpedia diterbitkan oleh Inkubator Penulis Indonesia.

Pelatihan editing yang pernah saya isi di berbagai lembaga atau kegiatan sudah tidak teringat lagi berapa kali.

Saya merintis tersusunnya SKKK (Standar Kompetensi Kerja Khusus) pada jabatan kerja Editor Buku yang disahkan Kemnaker dan skemanya disahkan oleh BNSP. Inilah yang menjadi titik awal sertifikasi profesi editor buku di Indonesia.

Saya berguru tentang editing di Unpad dari banyak guru (pakar bahasa, sastrawan, dan praktisi penerbitan), di antaranya Bapak Syofyan Zakaria, Bapak Emping Rusmana, Bapak Ade Kosmaya, Bapak Dadang Suganda, Bapak Muchtar, Bapak Kusman K. Machmud, Bapak Abdul Hamid, Ibu Sofia Mansoor, Bapak Dadi Pakar, Bapak Dendi, Ibu Lanny Hardhy, Bapak Wilson Nadeak, dan Ibu Yetty.

Saya juga berguru dari guru-guru nonformal: Bang Mula Harahap, Mas Hernowo, Bang Semch (N. Syamsuddin Haesy), Pak Bambang Wasito Adi, Mas Zaim Uchrowi, dan banyak lagi.

Saya mengkritik keras mereka yang mengaku sebagai editor atau mengaku paham ilmu editing, tetapi tak dapat menunjukkan kompetensinya sebagai editor secara utuh. Mungkin hanya editor jadi-jadian.

Begitupun dengan pelatihan-pelatihan editing naskah dan layanan editing naskah yang tidak dilakukan sebagaimana sejatinya. Alhasil, banyak yang salah kaprah soal editing naskah.

Menjadi editor naskah adalah sebuah panggilan hidup. Hanya orang-orang terpilih yang kuat menjalaninya. Beberapa dari para editor itu secara optimal mengembangkan diri sehingga menjadi pengusaha penerbitan. Di tangan mereka penerbitan buku menjadi lebih terjaga dan bertenaga daripada mereka yang menjadi bos penerbit tanpa pengetahuan ilmu penerbitan dan ilmu editing sama sekali.

H.B. Jassin dan Sutan Takdir Alisjahbana adalah contoh literator yang menjalani peran hidup sebagai editor, selain mereka juga menjadi kritikus sastra dan sastrawan.

Jadi, jangan bilang editing itu gampang dan menjadi editor itu semudah membalikkan taplak meja.


photo
Bambang Trim

Direktur Institut Penulis Indonesia dan Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia



0 Komentar


Tinggalkan Balasan