Pandemi Covid-19 : Kesimpangsiuran Hingga Persoalan Efektivitas Vaksin

Essay photo Adena Wps 2020-10-04 13:12:17 0 Komentar 3907
photo

Sumber: -

Dunia seketika berubah dengan kemunculan Covid-19. Dari Kota Wuhan di Tiongkok, menjalar ke seluruh penjuru dunia.  Satu per satu orang terpapar diikuti dengan gejala demam, batuk, kesulitan bernapas, nyeri otot, hingga tubuh yang gampang lelah. Bahkan, banyak dari kasus pasien Covid-19 mengalami tanpa gejala sedikitpun atau biasa disebut sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG). Hari ke hari kasus Covid-19 terus bertambah hingga menyebabkan kematian, sampai dengan tulisan ini dibuat, sudah mencapai angka 34.7 juta kasus di seluruh penjuru dunia. Negara-negara di seluruh dunia dibuat bingung oleh kemunculan pandemi tersebut. Belum ada negara yang memiliki skema efektif untuk membuat masyarakatnya aman dari virus tersebut.

Pandemi global Covid-19 seakan menunjukkan bahwasanya tatanan dunia saat ini belum sangat mapan. Kemajuan teknologi dan pengetahuan yang selalu dibanggakan oleh kebanyakan orang, tidak mampu memberikan kepastian bagaimana cara yang paling efektif untuk menghentikan pandemi Covid-19. WHO (World Health Organization) yang memiliki otoritas dalam menjawab segala persoalan kesehatan, tidak mampu memberikan kepastian bagaimana cara mencegahnya ataupun bagaimana cara menyembuhkanya.

Bahkan WHO cenderung labil dan harus mengubah kebijakannya. Awalnya, merekomendasikan penggunaan masker hanya untuk orang sakit dan orang yang merawat pasien, kini mendukung penggunaan masker untuk semua orang di tengah penyebaran pandemi Covid-19.  Di tengah segala kesimpangsiuran yang terjadi saat ini, barangkali kepastian adalah hal yang amat sangat diharapkan.

Beberapa negara berjibaku melakukan berbagai cara guna mengatasi pandemi Covid-19. Swedia misalnya memilih menjalani kehidupan normal di tengah pandemi dengan mengandalkan herd immunity. Sementara, negara lain seperti China justru menggunakan skema lockdown. Namun, Skema lockdown tidak bisa memberikan jaminan yang efektif. Lockdown berimbas pada aspek lain, salah satunya adalah aspek ekonomi yang lumpuh total. Orang mungkin akan terhindar dari kematian karena Covid-19, tapi akan mati karena kelaparan.

Sama halnya dengan beberapa negara lain, melihat angka kasus covid-19 yang semakin tinggi, Pemerintah Indonesia melakukan berbagai cara, salah satunya adalah dengan mempercepat hadirnya vaksin. Tindakan tersebut bukan tanpa alasan, vaksin digadang-gadang menjadi solusi yang paling efektif untuk menghentikan pandemi Covid-19. Melihat hal ini, menarik untuk membahas lebih lanjut bagaimana kesiapan Pemerintah Indonesia menyiapkan vaksin tersebut dan bagaimana polemik-polemik terhadap penyediaan vaksin yang disinyalir sebagai solusi paling efektif untuk menghentikan pandemi Covid-19.

Kelanjutan Vaksin di Indonesia : Polemik Siapa yang Harus di Dahulukan ?

Pengembangan vaksin covid-19 di Indonesia dilakukan bekerja sama dengan beberapa pihak, antara lain PT Biofarma dengan Sinovac, PT BCHT dengan China National Biotech Group Company Limited, PT Kalbe Farma dengan Genexine, dan PT Biofarma dengan CEPI.

Vaksin yang dikembangkan merupakan vaksin Sinovac produksi asal China dan G42 dari Uni Emirat Arab. Pemerintah lewat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan akan meluncurkan 36 juta vaksin covid-19 pada kuartal IV tahun ini. Total, pemerintah menargetkan vaksinasi untuk 160 juta orang dengan kebutuhan vaksin Covid-19 mencapai 370 juta dosis. Penyuntikan calon vaksin covid-19 buatan Sinovac di Indonesia dilakukan secara bergelombang.

Pemerintah saat ini tengah menyiapkan Perpres yang mengatur pemberian vaksin di Indonesia. Perpres tersebut mengatur siapa saja yang akan didahulukan untuk menerima vaksin. Pemerintah telah memutuskan dua jenis vaksin yang akan diberikan kepada masyarakat. Yaitu, vaksin bantuan pemerintah yang sifatnya gratis, dan vaksin mandiri yang harus dibeli masyarakat yang mampu. Namun, sampai dengan saat ini belum ada kejelasan mengenai masyarakat dengan penghasilan minimal berapa untuk bisa mendapatkan vaksin gratis.

Menariknya, ramai usulan agar dosen dan guru bakal masuk kelompok pertama yang mendapatkan suntikan vaksin Covid-19. Hal itu disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Patut menjadi pertanyaan apakah tenaga pendidik perlu diutamakan di tengah sistem pembelajaran yang masih menggunakan sistem daring.

Mempertanyakan Efektivitas Vaksin Covid-19, Benarkah Tanpa Masalah?

Para pakar kesehatan mengkhawatirkan adanya ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap vaksin virus covid-19 karena virus ini merupakan kasus baru yang berbeda dengan pandemi-pandemi sebelumnya. Vaksin virus covid-19 sejauh ini belum ada yang terbukti tanpa persoalan. Lebih lanjut, setiap upaya untuk membuat vaksin adalah prosedur coba-coba di mana selalu ada kemungkinan berhasil dan tidak berhasil.

Ada beberapa alasan mengapa hal itu perlu dipercaya. Pertama, kesimpangsiuran terkait dengan berapa lama kekebalan yang diberikan vaksin mampu bertahan. Dilansir dari Business Insider dalam Kompas  (2020), sejumlah  penelitian menemukan indikasi bahwa antibodi virus corona hanya bertahan selama beberapa minggu atau bulan.  Ini artinya vaksinasi harus dilakukan secara teratur dan berulang.

Kedua, mengenai bagaimana mekanisme kekebalan setelah terinfeksi Covid-19. Sejauh ini, virus corona jenis lain pada manusia dikenali sebagai flu biasa. Seseorang bisa tertular kembali meski sebelumnya pernah terinfeksi. Fenomena serupa juga tengah dikhawatirkan akan terjadi pada virus corona jenis baru penyebab Covid-19. Ilmuwan mengatakan, ada kemungkinan seperti beberapa vaksin lain, manusia memerlukan suntikan penguat setelah beberapa waktu untuk mempertahankan kekebalan.

Ketiga, masalah lain yang tengah menjadi kekhawatiran adalah orang-orang yang nantinya enggan divaksinasi. Hal ini berkaitan dengan keraguan terhadap vaksin tersebut.

Keempat, respons kekebalan yang dipicu oleh vaksin terlihat sedikit lebih lemah pada orang tua dibandingkan orang dewasa muda. Dilansir dari laman ReutersJumat (2/10), Ahli kesehatan meragukan kemampuan vaksin eksperimental ini untuk melindungi para orang tua dengan aman, karena sistem kekebalan tubuh mereka biasanya bereaksi kurang kuat terhadap virus corona yang sudah menyebabkan lebih dari 896.000 kematian di seluruh dunia. 


photo
Adena Wps

Pegiat social entrepreneurship



0 Komentar


Tinggalkan Balasan