Pembentukan Karakter dalam Pendidikan Islami

Essay photo Gian 2021-06-26 08:10:08 0 Komentar 125
photo

Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ4vk8aaxBjx7QPF3vXIvyKQD3CQIP39_0rPw&usqp=CAU

Pendidikan Agama Islam merupakan sesuatu yang sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang.

Bimbingan dan arahannya adalah ajaran agama yang ditujukan agar manusia mempercayai dengan sepenuh hati akan adanya Tuhan. Patuh dan tunduk melaksanakan perintah-Nya dalam bentuk beribadah, dan berakhlak mulia. 


Karakter adalah moralitas, kebenaran, kebaikan, kekuatan, dan sikap seseorang yang ditunjukkan kepada orang lain melalui tindakan.

Baik atau buruknya karakter tergambar dalam moralitas yang dimiliki. Begitu pula dengan kebenaran yang merupakan perwujudan dari karakter. 

Karakter dapat dimaknai sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan Islam adalah usaha sadar untuk membimbing manusia menjadi pribadi beriman yang kuat secara fisik, mental, dan spiritual.

Serta cerdas, berakhlak mulia, juga memiliki keterampilan yang diperlukan bagi kebermanfaatan dirinya, masyarakatnya, dan lingkungannya.

Maka Pendidikan Islam ialah suatu usaha untuk mengarahkan manusia menjadi bermanfaat, beradab, dan bermartabat dalam menjalankan kehidupan sesuai dengan ajaran Islam, serta menghasilkan output yang berkarakter baik.

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab penyimpangan karakter, sehingga pemerintah merasa perlu untuk ‘membangkitkan kembali’ pendidikan karakter di sekolah: 

Pertama, karena metode pembelajaran yang tidak sesuai. Tidak dipungkiri, metode pembelajaran dengan ceramah paling banyak dipakai oleh para pendidik kita.

Kedua, kebanyakan para pendidik menitik beratkan kepada nilai-nilai kognitif, sedangkan nilai-nilai afektif diabaikan. Ketiga, peserta didik lebih banyak menghafal daripada memahami. 

Peserta didik akan mengingatnya sepanjang masa sebagai suatu pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Keempat, serbuan budaya asing yang begitu dahsyat sehingga mampu menghancurkan benteng moral dan agama para generasi kita.

Budaya asing yang belum tentu sesuai, dipakai dan ditiru begitu saja tanpa melalui filter. 

Pendidikan Agama merupakan salah satu materi yang bertujuan meningkatkan akhlak mulia serta nilai-nilai spiritual dalam diri anak.

Hal ini menunjukkan, bahwa Pendidikan Agama mempunyai peranan yang penting dalam melaksanakan pendidikan karakter di sekolah.

Oleh karena itu Pendidikan Agama menjadi salah satu mata pelajaran wajib baik dari sekolah tingkat dasar, menengah dan perguruan tinggi. 

Muatan kurikulum Pendidikan Agama dijelaskan dalam lampiran UU no 22 tahun 2006, termasuk di dalamnya kurikulum Pendidikan Agama Islam, dengan tujuan pembelajarannya adalah menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat.

Selanjutnya ruang lingkup dari Pendidikan Agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut: Al-Qur‟an dan Hadis, Aqidah, Akhlak, Fiqih, Tarikh dan Kebudayaan Islam.

Pendidikan Agama, khususnya Pendidikan Agama Islam (PAI) mempunyai posisi yang penting dalam sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan Agama menjadi materi yang wajib diajarkan pada setiap sekolah. 

Konsep pendidikan karakter sebenarnya telah ada sejak zaman rasulullah SAW. Hal ini terbukti dari perintah Allah bahwa tugas pertama dan utama Rasulullah adalah sebagai penyempurna akhlak bagi umatnya.

Pembahasan substansi makna dari karakter sama dengan konsep akhlak dalam Islam, keduanya membahas tentang perbuatan prilaku manusia. 

Sedangkan arti dari karakter adalah nilai-nilai yang khas, baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpatri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.

Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah raga, serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang. 

Konsep pendidikan di dalam Islam memandang, bahwa manusia dilahirkan dengan membawa potensi lahiriah, yaitu:

1). Potensi berbuat baik terhadap alam.

2). Potensi berbuat kerusakan terhadap alam.

3). Potensi ketuhanan yang memiliki fungsi-fungsi non fisik.

Ketiga potensi tersebut kemudian diserahkan kembali perkembangannya kepada manusia. Hal ini yang kemudian memunculkan konsep pendekatan yang menyeluruh 


Penulis : Muhammad Farhan Febrian, Aghtia Larasati, Gian Slamet Gumilar


photo
Gian

Gian Slamet Gumilar



0 Komentar


Tinggalkan Balasan