Pemikiran Pendidikan Paulo Freire Dan Integrasi Teknologi Pendidikan Saat Ini

Mahasiswa photo Ulfiana Nurul Hikmah 2021-01-10 19:37:45 0 Komentar 171
photo

Sumber: -

Paulo Freire merupakan seorang tokoh yang berasal dari Brazil, beliau memperjuangkan pendidikan demi sebuah harapan yang menurut orang lain ilusionis.

Pendidikan merupakan suatu hal penting dalam kehidupan manusia untuk mengenal eksistensinya. Pendidikan yang digagas oleh Paulo Freire adalah sebuah pendidikan yang membebaskan, karena dalam pendidikan kita mengharapkan pendidikan yang humanis, artinya kita kita ingin memanusiakan manusia dan menjadikan pendidikan sebagai proses pembebasan.

Saat kita menginginkan pendidikan humanis, maka artinya kita juga sedang melawan pendidikan dehumanis. yaitu pendidikan yang menjadikan guru sebagai objek utama dan siswa harus menerima apapun yang disampaikan oleh gurunya seperti robot.

Manusia merupakan makhluk yang senantiasa berkembang dari masa ke masa, tidak dapat dipungkiri, berbagai hal dapat mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia.

Di masa digital ini, teknologi memungkinkan perkembangan kehidupan manusia, dalam pengetahuann, berkomunikasi dan berinteraksi dapat dengan cepat dilakukan tanpa dibatasi oleh ruang maupun waktu.

Orang yang menguasi pengetahuan dan teknologi akan mampu bersaing pada era sekarang ini, karena tekonolgi saat ini sangat berpengaruh dalam kehidupan, termasuk di bidang pendidikan.

Integrasi teknologi merupakan hal yang sangat mempengaruhi sistem pendidikan di dunia saat ini. Hal ini dikarenakan pembelajaran berbasis teknologi memiliki aspek daya tarik, efisiensi, dan efektivitas.

Penggunaan teknologi juga mempunyai kelebihan dalam proses pembelajaran, yaitu dapat mempermudah dan membantu siswa menangkap berbagai pengetahuan dari suara, video, maupun sesuatu yang tersedia di dalam media.

Hal ini memberikan kenyamanan bagi siswa dan  sangat esensial untuk mencapai efektifitas belajar siswa. Pendidikan berkepentingan untuk membangun filsafat hidup agar bisa dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, ini menjelaskan bahwa filsafat memberikan sebuah arahan dalam pendidikan

Pendidikan saat ini dirasa sebuah ujung tombak peradaban masa depan, dapat dikatan pendidikan sebagai faktor manusia mendapatkan eksistensi atau keberadaan.

Pendidikan yang menggunakan teknologi saat ini dapat menjadikan manusia mendapat eksistensi dan menjadikan pendidikan humanis, yaitu pendidikan yang menjadikan peserta didik mendapat kebebasan.

Lembaga pendidikan dapat berfungsi untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki individu, kreativitas dan inovasi, serta nalar kritis. Derasnya kemajuan teknologi memang tidak bisa dipungkiri akan semakin memanjakan manusia dan memudahkan manusia, seperti dalam hal berkomunikasi.

Manusia akan berkembang dengan adanya teknologi saat ini, sama hal-nya dengan penggunaan teknologi dalam pendidikan. Jika teknologi dalam pendidikan digunakan dengan “tepat guna” maka kekhawatiran mengenai kemunduran dan memanjakan manusia dapat dielakkan.

Karena, perkembangan teknologi yang pesat ini harus dimanfaatkan dengan maksimal agar menghasilkan manusia-manusia yang berpikir luas, berilmu tinggi, dan berkemanusiaan namun tetap dapat menciptakan pembelajaran atau pendidikan yang bebas.

Dalam arti lain, teknologi ini dapat dimanfaatkan agar pendidikan tidak lagi menciptakan pendidikan yang dehumanis namun menciptakan pendidikan yang humanis.

Bagaimana penggunaan teknologi yang dapat menciptakan hubungan lebih humanis, dengan adanya yang hampir semua kegiatan manusia menggunakan teknologi ?

Ditambah lagi dengan kondisi darurat Covid-19 yang mengharuskan untuk menjaga jarak?  Ini mungkin yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, apa bisa? Melihat bahwa hampir semua kegiatan manusia ada penggunaan teknologi, bahkan karena begitu canggihnya teknologi sekarang ini sampai-sampai muncul slogan bahwa, “Teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”.

Bagaimana tidak? Kita sebagai pengguna teknologi terkadang sibuk dengan “gadget” sampai melupakan hal-hal yang ada disekitar kita dan sibuk berselancar di dunia maya.

Inilah yang menjadi kekhawatiran dari guru dan orang tua selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) akan kehilangan sisi humanismenya, karena kondisi memaksa murid dalam proses pembelajaran menggunakan teknologi.

Dalam dunia pendidikan pembentukan karakter peserta didik sungguh sangat diperlukan. Pendidikan bukan hanya melulu menjadi alat transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi alat transfer untuk membentuk manusia menjadi lebih manusiawi.

Pembangunan karakter dalam dunia pendidikan akan mempersiapkan peserta didik mempunyai dasar yang kuat, dalam mengambil keputusan untuk pilihan hidupnya sehingga mereka akan menjadi lebih bebas.

Pendidikan harus menjadikan manusia semakin bermartabat, dalam hal ini pendidikan akan membangun karakter anak bangsa menjadikan bangsa mereka menjadi makin bermartabat.

Untuk itu diperlukan pendidikan yang berinovasi dengan teknologi. Pendidikan bermartabat adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kehidupan, dengan demikian manusia akan menjadi semakin bernilai dan berharga.

Karena manusia dalam hal ini, membuat peserta didik merasa berharga dan timbul rasa dicintai. Karena merasa dicintai itulah peserta didik akan semakin antusias dalam proses belajar mengajar.

Pembelajaran yang menyenangkan, di mana proses belajar mengajar akan menentukan arah dan tujuan pendidikan yang kita lakukan. Bagaimana seni menguasai kelas, menerangkan materi pembelajaran.

Dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah yang bernama pedagogik, pedagogik sendiri berasal dari kata pedagogia, yang berarti pergaulan dengan anak, pedagogik yang merupakan praktek pendidikan anak dan kemudian muncullah istilah pedagogik yang berarti ilmu mendidik anak.

Selain itu bahwa, pedagogik akan menjadi standar atau kriteria keberhasilan praktek pendidikan anak. Kedua, manusia memiliki motif untuk mempertanggungjawabkan pendidikan bagi anak-anaknya, karena itu agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, praktek pendidikan anak memerlukan pedagogik sebagai landasannya agar tidak jadi sembarangan.

Dalam dimensi profesionalitas, guru dituntut untuk memotivasi dan melibatkan siswa dalam proses belajar dengan menggunakan gaya, strategi serta teknik pengajaran yang sesuai dengan konteks pembelajaran.

Tugas-tugas pembelajaran disusun demi kebutuhan-kebutuhan belajar individu, dan perbedaan-perbedaan latar belakang siswa serta mengoptimalkan waktu belajar. Perlunya memperhitungkan efek-efek perbedaan kemampuan fisik, intelektual, dan ketersediaan alam selama proses belajar dengan mengingat, bahwa siswa mempunyai potensi untuk bertumbuh.

Proses untuk menjadi manusia disebut dengan humanisasi, humanisasi menurut pengertian Freire bukanlah pencarian kebebasan individu. Tujuan humanisasi adalah tujuan sosial, dan  kebutuhan manusia untuk menjadi makhluk bagi dirinya sendiri tercapai saat masyarakat mampu menjadi sesuatu untuk dirinya sendiri.

Akan sulit untuk membahas finalitas menurut pemikiran Freire, tanpa memperlihatkan bahwa tujuan yang dikejar dalam pross humanisasi bukanlah tujuan pada dirinya.

Namun pada nilai-nilai yang menganjurkan dan menunjuk pada tujuan-tujuan yang lebih tinggi. Setiap tindakan sebagai langkah menuju humanisasi adalah sebuah nilai, dan inilah yang disebut proses humanisasi.

Pembenaran atas pernyataan, bahwa filosofi pendidikan Freire bersifat humanistik dicontohkan dan di sokong dengan begitu cemerlang dalam tulisannya yang mencirikan tindakan-tindakan kultural sebagai pada dasarnya dialogis.

Peran dialog dalam pengajaran, dalam pembelajaran, dalam politik, adalah suatu tema yang mulai dibahas dalam Education as the Practice of Freedom, dikembangkan begitu luas dalam essay Sobre La Acction Cultural, dan merupakan topik yang khusus dibahas dalam BAB terakhir Pedagogy of The Oppressed.

Metode belajar abad 21 di mana murid menjadi fokus dalam pembelajaran, bukan lagi guru sebagai sumber belajar satu-satunya, melainkan murid bisa menjadi sumber belajar di antara sesama murid saling belajar dengan saling berkolaborasi antara murid dan guru.

Berbeda halnya dengan model pembelajaran sebelumnya, yang mengedepankan nilai daripada proses dan ranking menjadi tolak ukur keberhasilan pembelajaran. Sehingga untuk pembelajaran abad 21 ranking tidak menjadi penting lagi, karena dianggap bahwa ranking tidak dapat menentukan murid dapat bersosialisasi dan berkolaborasi dengan baik.

Tetapi yang diharapkan adalah bagaimana murid dapat berkolaborasi sehingga perlu adanya penilaian autentik. Sebuah metode pembelajaran yang menarik untuk diterapkan oleh para guru, yakni Metode Belajar Flipped Classroom.

Flipped Classroom adalah metode belajar yang diberikan kepada murid, di mana murid sudah mengetahui (belajar sebelumnya) materi yang akan dibahas di dalam kelas dari berbagai sumber yang murid peroleh, berbeda dengan tradisional class murid mengetahui materi atau belajar ketika sudah berada di dalam kelas.

Pendidikan merupakan sarana untuk menghasilkan pengetahuan, di mana pengetahuan tersebut dapat merubah kehidupan manusia ke peradaban yang lebih baik. Manusia memerlukan pendidikan untuk mengembangkan kehidupan, dalam hal ini pendidikan menjadikan manusia menjadi berkembang dengan berbagai pembelajaran.

Di mana pendidikan tidak memanusiakan manusia, seperti peserta didik hanya dijadikan sebagai investasi yang akan berguna di masa depan. Pendidikan yang menggunakan teknologi saat ini dapat menjadikan manusia mendapat eksistensi dan menjadikan pendidikan humanis, yaitu pendidikan yang menjadikan peserta didik mendapat kebebasan.

Lembaga pendidikan dapat berfungsi untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki individu, kreativitas dan inovasi, serta nalar kritis. Dalam dunia pendidikan pembentukan karakter peserta didik sungguh sangat diperlukan.

Pembangunan karakter dalam dunia pendidikan akan mempersiapkan peserta didik mempunyai dasar yang kuat dalam mengambil keputusan dalam pilihan hidupnya.

Proses belajar mengajar akan menentukan arah dan tujuan pendidikan yang kita lakukan. Dalam dimensi profesionalitas, guru dituntut untuk memotivasi dan melibatkan siswa dalam proses belajar dengan menggunakan gaya, strategi serta teknik pengajaran yang sesuai dengan konteks pembelajaran.

Proses untuk menjadi manusia disebut dengan humanisasi, humanisasi menurut pengertian Freire bukanlah pencarian kebebasan individu. Akan sulit untuk membahas finalitas menurut pemikiran Freire, tanpa memperlihatkan bahwa tujuan yang dikejar dalam pross humanisasi bukanlah tujuan pada dirinya, tetapi pada nilai-nilai yang menganjurkan dan menunjuk pada tujuan-tujuan yang lebih tinggi.

Berbeda halnya dengan model pembelajaran sebelumnya yang mengedepankan nilai, daripada proses dan ranking menjadi tolak ukur keberhasilan pembelajaran. Tetapi yang diharapkan adalah bagaimana murid dapat berkolaborasi sehingga perlu adanya penilaian autentik.


Penulis : Chyntia Afnilamsari, Irfan Rosyadi , Siti Zahra Helmalia Putri, dan Ulfiana Nurul Hikmah

 

 

-

photo
Ulfiana Nurul Hikmah

Ulfiana Nurul Hikmah. Mahasiswi S-1 Pendidikan Fisika Universitas Ahmad Dahlan.



0 Komentar


Tinggalkan Balasan