Pendidikan Instansi Mobilitas dan Liberasi Sosial

Essay photo Michael Scofield 2021-05-10 11:30:36 3 Komentar 173
photo

Sumber: pixabay

Pada fenomena kapitalisme dalam sektoral pendidikan yang awal mulanya adalah liberalisasi pendidikan menjadi rahasia umum bagi semua kalangan pemerhati pendidikan.

Persoalan ini selain dilanggengkan oleh instansi negara juga dilanggengkan oleh organisasi-organisasi ataupun akademisi yang lebih menfokuskan dirinnya pada sektoral lain untuk diselesaikan ketimbang sektoral pendidikan. Padahal, pendidikan adalah hal yang sakral bagi negara-negara di dunia untuk memajukan bangsa dan negara.

Pendidikan dewasa ini mengarah pada pemenuhan kebutuhan industri kapitalis, kalaupun tidak diarahkan untuk menunjang industri kapitalis maka biasanya ia hanya sibuk berkutat pada pengembangan keilmuan yang tidak mengkaitkan dan berkontribusi banyak pada mobalitas sosial dan liberasi.

Realitas ini menjadi kesadaran bersama, tetapi tidak pernah ada pengawalan yang serius dalam mengaungkan kontra narasi dari out-put pendidikan sedewasa ini. Walaupun ada hanya sebatas tulisan-tulisan, diskusi-diskusi, kritik auto kritik belaka.

Sebenarnya, jika sepanjang pendidikan hanya berkutat pada realitas di atas, kemudian dosen-dosen membahas metode dan teknik pengajaran bagi mahasiswa, maka tujuan dan out-put pendidikan semacam ini memperparah realitas yang terjadi saat ini.

Antithesis dari persoalan-persoalan seperti ini, adalah menciptakan pendidikan alternatif atau pendidikan politik untuk lebih jauh memandang dunia, karena ketika out-put pendidikan hanya mengarah pada basis industri dan pengembangan diri, tanpa melihat secara komprehensif, maka gugurlah nilai filosofis pendidikan itu.

Sebagai contoh, karena kita menempatkan pendidikan hal yang paling sakral dalam mengembangkan dan memajukan bangsa-negara, seperti yang termaktum dalam UUD 45 alinie ke IV, maka pendidikan seharusnya menjadi pisau analisis realitas sosial (objek) sedangkan mahasiswa dan dosen sebagai subjek untuk menganalisis objek.

Sudah seharusnya, kita membangun persatuan dan terlibat aktif untuk membangun pendidikan alternatif sebagai instansi mobilitas dan liberasi sosial. Karena, kita tahu betul bahwa tidak hanya membangun diskusi-diskusi formal, turun kejalan (demonstrasi) untuk mengubah pendidikan yang cacat hari ini, tetapi membangun persatuan, yang diikuti dengan taktik dan strategis perjuangan.

Ketakutan paling besar bagi penulis, “jangan-jangan yang sangat pedas dalam mengkritik dan memberi solusi terhadap  kebijakan pendidikan, karena mungkin mereka tidak dapat kursi kekuasaan dan ingin mentenarkan nama instansinya belaka”, maka untuk menguji kesadaran dan solusi itu butuh pengawalan bersama untuk membangun pendidikan politik yang out-putnya adalah basis kesadaran massa dan paham akan kontradiksi kelas kekuasaan dengan rakyat hari ini yang semakin kompleks.

Namun, yang ingin saya tekankan sekali lagi bahwa membangun sekolah alternatif tidak bisa dilakukan sebatas kesadaran internal organisasi atau instansi pemerhati pendidikan lainnya. Proses ini harus dilakukan dalam konteks historis dan persatuan. Tidak ada dalam historis, kesadaran organisasi mengubah suprastruktur atau instansi pendidikan, tanpa persatuan dan kesadaran massa yang terdidik dan terorganisir.

Akan tetapi, sekarang banyak bermunculan komunitas-komunitas, organisasi-organisasi, jurnalistik-jurnalisitik, media-media dan instansi lainnya mengaku sebagai pemerhati pendidikan, tapi nyatanya tidak ada komitmen secara komprehensif untuk menyelesaikan persoalan disektoral pendidikan.

Penulis tidak mengesampingkan persoalan-persoalan sektoral lainnya atau hanya memperjuangkan sektoral pendidikan saja, melainkan, seperti kita tahu bersama bahwa pendidikan adalah hal yang sakral bagi basis pembebasan nasional atau revolusi. Karena revolusi tidak akan hadir tanpa kesadaran kontradiksi kelas, kesadaran kontradiksi kelas tidak akan turun dari langgit tanpa ada pendidikan (proses penyadaran) massa.

Dalam proses ini, kekejaman kaum penindas diarahkan terus menerus menekan pada kelompok-kelompok pekerja dan intelektual yang tidak punya komitmen dan pendirian untuk membersamai mereka dalam melanggengkan liberalisasi pendidikan.

Maka jangan heran hari ini banyak orang akan mengalah, memilih diam, atau menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Sebagian yang lain akan bereaksi dengan berpegang teguh pada perjuangan revulusioner melalui sektoral pendidikan (penyedaran massa).

Perbedaan paling mendasar yang harus kita analisis dan ketahui bersama realitas manusia hari ini, yaitu antara  memilih historis atau masa depan, antara kematian dan kehidupan, antara stagnan atau lebih maju, antara membangun atau tidak, antara menyampaikan pendapat atau diam, antara harapan dan keputusasaan, antara ada dan tiada.

Menurut penulis sendiri, ini adalah omong kosong untuk memilih di antara dua pilihan ini, karena hari ini di sektoral pendidikan kita tidak bisa memilih apapun, melainkan menggikuti arus pendidikan kapitalisme.

Oleh karena itu, seharusnya kita tidak boleh lagi memunculkan ego-organisasi dalam drama pendidikan kapitalisme hari ini, apalagi memunculkan kehidupan individualistik.

Dalam kenyataanya, jika kita kehilangan jati diri (humanisme) maka pada saat yang sama pendidikan akan terus mendehumanisasi (visi, makna manusia dan keberadaan manusia dalam instansi pendidikan tidak dipedulikan lagi).

Dengan demikian, jika setiap organisasi, instansi lainnya hanya berkutat pada kritik, menawarkan solusi di bawah naungan sistem kapitalisme hari ini, maka organisasi dan instansi tersebut hanyalah ideologi dan idealisme kosong belaka serta menyesatkan.

Pendidikan alternatif yang dibangun secara bersama  dalam tawaran dan yang sering saya gaungkan dalam tulisan ini, bukan hanya membangun kesadaran , karena kita tahu bahwa kesadaran itu tidak cukup dibangun dengan pendidikan dan kata-kata setiap subjek, tanpa disertai dengan tindakan objektif untuk membantu mereka mengalami sendiri apa arti menjadi manusia dan ketertindasan manusia.

Memang tidak selamanya mudah seperti apa yang saya tuliskan dengan entengnya ini, tetapi mau tidak mau untuk memecahkan masalah pendidikan kapitalistik hari ini, maka perlu untuk melakukannya. Membangun pendidikan alternatif (pendidikan politik) seperti ini jelas bertentangan dengan elit kekuasaan (konsep negara yang sebagai kaki tanggan kapitalisme hari ini).

Namun lagi-lagi perlu kita pahami bagaimana relasi negara dengan pendidikan, relasi pendidikan dengan realitas sosial hari ini yang tumpang tindih. Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya ingin bertanya kepada semua pembaca, sampai kapan kita menulis dan omong kosong dalam diskusi tanpa ada pengawalan yang jelas apa yang kita diskusikan dan tuliskan? Sampai kapan terus menerus membenturkan ego-ideologis?

Sudah seharunya kita membaca realitas dengan objektif kemudian kita kawal dan bangun persatuan pendidikan politik rakyat untuk menyelsaikan persoalan nasional hingga menuju tatanan baru.

Kabarkan kepada kawanmu, organisasimu, bahwa penulis mengajak seluruh elemen organisasi, instansi yang peduli terhadap persoalan negara hari ini untuk duduk bersama membahas taktik dan strategis pendidikan politik sebagai instansi mobilitas dan liberasi sosial.

 

 

 


photo
Michael Scofield

Anggota Komunitas Ruang Chandu, Kader IMM Angkatan 18



3 Komentar

Asip Hamdi
Komentar dihapus
Asip Hamdi
bagus
2021-05-25 11:31:03 · Balas
Asip Hamdi
test
2021-05-25 11:33:24

Tinggalkan Balasan