Pendidikan Transformatif; Membaca Kecenderungan Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat

Essay photo Michael Scofield 2021-06-24 15:06:33 0 Komentar 273
photo

Sumber: Google

Pendidikan transformatif hadir sebagai antitetis praktek pendidikan kontemporer yang menjadikan pendidikan sebagai praktek logika pasar.

Pendidikan logika pasar, yaitu “jika seseorang mempunyai uang, maka ia bisa berproses dalam pendidikan, jika tidak mempunyai uang jangan pernah menggencam pendidikan, karena itu hanyalah tindakan sia-sia”.

Kemudian output pendidikan logika pasar hanya menciptakan buruh murah, bukan pada keterampilan, pemahaman secara objektif terhadap persoalan yang terjadi di sosial, agama, ekonomi dan politik.

Pendidikan transformatif memandang peserta didik sebagai historical beings, yaitu mahkluk praksis yang hidup secara otentik ketika terlibat dalam transformasi dunia.

Pendidikan transformatif membentuk dan mengontrol kehidupan orang yang terlibat dalam instansi pendidikan. 

Pendidikan transformatif membentuk manusia, bahwa dunia bukan sesuatu yang “given”, tetapi sebagai dunia yang secara dinamis berada dalam proses “menjadi”.

Dunia adalah hasil kontruksi dan kontestasi antar manusia untuk mewujudkan ambisi, idealisme, dan kepentingan mereka.

Pendidikan transformatif membantu peserta didik untuk memahami realitas dunia, seperti mempersiapkan (manusia) untuk hidup dalam dunia yang penuh kontestasi kepentingan.

Pendidikan transformatif meyakini, kemampuan peserta didik untuk berpartisipasi dalam penciptaan sejarah manusia.

Pertanyaan yang senantiasa ditanamkan kepada peserta didik adalah, kalau manusia mampu memproduksi sejarah dunia, kenapa mereka tidak bisa merubahnya?. 

Keterlibatan peserta didik dalam transformasi dunia tergantung sejauh mana mereka mampu membedakan antara yang natural dan kultural.

Ketidak mampuan seseorang untuk membedakan keduanya berakibat kepasrahan diri total, seolah-olah semua peristiwa di dunia adalah semata-mata takdir, bukan hasil perbuatan (kepentinggan) manusia.  

Pendidikan transformatif senantiasa menghadapkan teks-teks normatif yang tertuang dalam kurikulum dengan realitas sosial yang terjadi di luar ruang kelas.

Mengkaitkan “membaca kata” dengan “membaca realitas” dimaksudkan agar pendidikan anti realitas.

Ketika teori dan praktek pendidikan hanya bergulat dimensi normative seperti mengkaji metode, teknik belajar mengajar dan tidak dihadapkan pada persoalan-persoalan empiris sosiologis yang akan mereka hadapi, maka pendidikan bisa terjebak pada ideologi positivisme yang cenderung manafikan arti penting kritik atas realitas sosial.

Ideologi positivisme

Positivisme adalah bentuk baru yang paling efektif dari ideologi kapitalisme dan ia mempunyai investasi jangka panjang dalam menciptakan keadaan manusia pada tataran pemikiran kesadaran naif.

Seringkali budaya posistivisme fakta dipisahkan dari nilai dan penemuan harus diisolasi dari kepentingan manusia.

Ini adalah sesuatu yang mencoba menguburkan nilai, sehingga fakta didesain seakan-akan itulah yang sebenarnya terjadi.

Karena manusia ketika memahami dan menafsirkan realitas tidak bisa dipisahkan dari dan dibimbing oleh kepentingan, paradigma, keinginan, dan harapan tertentu.

Bias-bias manusia kemudian melekat di dalam dirinya. Apalagi yang dihasilkan dari penelitian atau penggamatan sebetulnya representasi dari realitas sesungguhnya, tetapi hanyalah representasi bahasa manusia atas realitas.

Positivisme menurut Lucacs A. Feenberg (1981), positivism adalah bentuk ideologi represif yang mempunyai karakteristik “penyerahan realitas sosial kepada bentuk-bentuk yang dapat dikalkulasikan dan dikontrol”, dan mereduksi dunia sosial menjadi pola-pola sebab-akibat.

Hasilnya, paradigma seperti ini menggeneralisasikan fakta-fakta tanpa membedakan antara apa yang penting dan apa yang tidak penting, antara penampilan dan substansi, dan akhirnya gagal mengganalisa aspek realitas yang lebih dalam.

Positivisme pada dasarnya “mengabaikan nilai kesadaran historis dan kosekuensinya membahayakan sifat alami itu sendiri”. 

Berbeda dengan pandangan di atas, dalam perspektif teori kritis untuk memahami sifat alami suatu teori atau paradigma diperlukan ketelitian untuk melihat relasi dielektis antara paradigma, realitas dan peneliti.

Dengan kata lain, teori atau penggetahuan diletakkan dalam konteks sosio-historis yang membentuk perkembangannya.

Teori penggetahuan harus dilihat dari perspektif yang lebih makro, karena ia tidak hadir dalam ruang hampa dan tanpa kepentingan. 

Teori kritis menolak pemisahan antara pengetahuan dan kepentingan seperti apa yang diajukan oleh kaum positivis, karena pengetahuan selalu didasarkan pada suatu kepentingan.

Memisahkan pengetahuan dan kepentingan dicurigai oleh pendukung teori kritis sebagai upaya melanggengkan, mereproduksi status que dan mendorong umat manusia untuk menyesuaikan dengan realitas sosial, pada akhirnya menjauhkan manusia dari nilai realitas yang terjadi.

Dominasi dan hegemoni

Pertanyaan yang sederhana tentang dominasi dan hegemoni, namun menguraikannya cukup melelahkan.

Sumber timbulnya dominasi dan hegemoni? Menurut Herbert Marcuse, sumbernya adalah adanya kesadaran satu dimensi yang dihasilkan oleh rasionalitas teknologis yang menekankan pada keseragaman dan konformitas.

Ini adalah bentuk baru kontrol atas kehidupan manusia, suatu sistem yang merampas kesadaran dan individualitas manusia.

Corak berpikir ini, dalam bahasa Marcuse (1972), mempunyai “bentuk dominasi politik tertentu yang tidak disadari”. Rasionalitas teknologis selalu berkaitan dengan masalah dominasi, baik dalam alam maupun manusia, karena ia hanya dapat dikembangkan jika dihubungkan dengan control teknis.

Rasionalitas teknologis telah menjadi media yang efektif untuk melakukan dominasi secara lebih canggih.

Model rasionalitas ini bisa ditelusuri melalui tradisi dielektis Hegelian dan Marxian, yaitu menyangkut hubungan antara subyek dan obyek.

Manusia pada awalnya tampil sebagai subyek yang membuat dan mengontrol teknologis (objek). 

Namun, ketika obyek (teknologi) berkembang sedemikian rupa posisinya terbalik, obyeklah yang justru menguasai dan mengontrol subyek.

Di sinilah manusia telah terkontrol dan terdominasi oleh buatanya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, tidak hanya rasionalitas manusia telah ternegasikan dan terjerembab ke dalam satu titik dimana manusia menerima secara tidak kritis struktur material di hadapannya.

Eksistensi manusia sebagai subyek terancam oleh rasionalitas, dengan demikian, tidak mengabdi untuk kepentingan liberasi dan humanisasi (sebagaimana ide awal pencerahan), tetapi justru malah mendukung proses dehumanisasi.

Tak dapat di elakkan, kondisi ini memperkuat proses dominasi yang muncul akibat adanya kombinasi, antara eksploitasi eksternal dan terdegradasinya fakultas akal yang memungkinkan eksploitasi eksternal itu diterima secara tidak kritis.

Setelah mengetahui secara historis-dielektis, lalu apa itu dominasi dan hegemoni? Hegemoni adalah sebuah dominasi oleh satu kelompok yang lain, tanpa ancaman, kekerasan, sebagai ide-ide yang dituntun oleh kelompok dominasi terhadap kelompok yang didominasi atau dikuasai.

Istilah hegemoni sendiri berasal dari bahasa yunani, hegeisthai yang berarti kepemimpinan. 

Namun, seiring berjalannya waktu hegemoni kemudian dimanfaatkan sebagai upaya untuk menindas manusia secara tidak sadar.

Hegemoni adalah suatu dominasi kekuasaan suatu kelas sosial atas kepada kelas sosial lainya melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantu dengan dominasi atau penindasan.

Upaya-upaya hegemoni dan kekuasaan dalam pendidikan telah nampak jelas, bagaimana seorang murid hanya dijadikan alat produksi uang, yang ketika bertanya secara mendalam (kritis) dianggap tidak mempunyai moral dan etika terhadap guru atau dosennya.

Kemudian, ketika mahasiswa terlambat masuk ruangan, ditegur dan bahkan mengeluarkanya di dalam kelas.

Namun ketika dosen terlambat bahkan hampir setenggah jam, tanpa ada rasa bersalah duduk manis dan menjelaskan materi normative yang tidak ada kaitanya dengan realitas sosial.

Arkeologi kesadaran manusia

Arkeologi kesadaran manusia adalah studi tentang bentuk-bentuk fundamental kesadaran manusia. Paulo Freire (1971), berpendapat bahwa “kesadaran itu dibentuk dalam dielektika obyektifikasi dan aksi manusia terhadap dunia”.

Ada hubungan dialektis antara realitas material dan kesadaran manusia. Dunia sosial-material memberikan kontribusi dalam menentukan struktur kesadaran seseorang, dan pada saat yang sama kesadaran manusia juga punya kontribusi dalam membentuk dunia sosial-material. 

Kesadaran manusia akan dunia dapat dilihat dari cara mereka memahami realitas eksistensialnya, apakah realitas itu dipahami secara magis, naif atau kritis?.

Pertanyaan penting yang perlu dikemukakan adalah, apakah manusia mampu membedakan antara yang natural dan yang kultural?.

Freire menegaskan, bahwa “satu poin penting dalam konsientasi adalah mendorong orang untuk mengenali dunia bukan sebagai sesuatu yang “given”, tetapi sebagai dunia yang secara dinamis berada dalam proses “menjadi””. 

Karakteristik dari kesadaran magis adalah penerimaan yang tidak kritis dan reflektif akan dunia.

Orang dengan kesadaran seperti ini melihat kehidupan mereka sebagai sesuatu yang tidak terelakkan, natural, dan sulit untuk diubah.

Mereka mempunyai sikap yang cenderung mengkaitkan kehidupan mereka dengan takdir dan menyerahkan kesejahteraan hidupnya kepada kekuatan-kekuatan superior.

Kesadaran ini menganggap kemiskinan dan penindasan sebagai takdir yang tidak bisa dielakkan yang tentunya sebagai hal yang normal.

Mereka menganggap bukan sebagai produk kepentingan, inilah memandang kondisi sosial-historis sebagai sesuatu yang “given” sehingga mereka acuh untuk menginvestigasi kontradiksi-kontradiksi sosial-ekonomi di dalam masyarakat.

Tipe kesadaran naif atau semi-intrasitif, dikatakan intrasitif karena pada tingkatan kesadaran ini telah mulai bisa menjadi subyek yang mampu berdialog dengan yang lain.

Tapi belum pada tahap memahami realitas dalam tru act of knowing. Ini adalah proses kemunculan dari budaya bisu dengan mengajukan dan menginterogasi realitas eksistensial. 

Orang dengan kesadaran seperti ini mulai memahami masalah-masalah yang ada dalam kehidupan mereka, tetapi mereka cenderung untuk melakukan simplikasi dan tidak mengujinya secara cermat.

Apa yang mereka butuhkan hanyalah penjelasan sederhana. Meskipun bentuk kesadaran ini dalam masyarakat transisi potensial untuk memberikan kontribusi munculnya manusia yang berkesadaran yang mampu menganalisis realitas dunia yang membentuk mereka.

Namun menurut Freire, masih sangat rentan untuk dimanipulasi oleh elit politik lewat propaganda, slogan atau mitos.

Tipe kesadaran kritis, yaitu manusia dengan tingkat kesadaran memahami realitas secara makro, bukan mikro maupun mezzo.

Manusia yang berkesadaran kritis mampu menghindari pemahaman yang simplistik akan teks dan realitas, mampu memahami struktur terdalam dari realitas dimana mereka melakukan dekodifikasi, promlematisasi dan transformasi. 

Orang yang berkesadaran kritis telah bergerak meninggalkan sikap-sikap pesimis, fatalistik, menuju sikap optimis, dinamis dan aktif.

Freire berpendapat bahwa kesadaran kritis dihasilkan lewat konsientasi, di mana agennya harus sebagai obyek, bukan sekedar orang yang punya kesadaran. Konsientasi adalah perkembangan dan bangkinya kesadaran kritis (Freire, 1976).

Upaya praksis dan strategis mengembalikan fakultas kritis manusia melalui pendidikan

Pendidikan kritis adalah pendidikan yang mengacu pada pemahaman bahwa pendidikan adalah proses penyadaran.

Seseorang seharusnya sadar apa yang dipelajarinya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada prinsipnya, pendidikan kritis adalah cara pandang melihat realitas melalui pendidikan (akademisi). 

Pendidikan kontemporer memberikan pelajaran yang tidak bermakna bagi kehidupan sosial yang riil.

Seolah-olah pendidikan menjauhkan diri pada kondisi sosial masyarakat.

Teori dan praktek pendidikan yang diajarkan tidak berangkat dari realitas sosial yang terjadi, sehingga output pendidikan hanya membicarakan pada taraf mitos.

Seperti ketika berpendidikan, mendapatkan pekerjaan yang layak, terhormat. Namun ketika kita bertanya lagi, standarisasi terhormat dan layak dalam dunia pekerjaan seperti apa? 

Desain dan rencana strategis pendidikan dibangun atas argumentasi, bahwa hanya manusia berkualitas yang akan dapat menjadi penggerak pembanggunan ekonomi Indonesia.

Nah orang berkualitas kemudian didefinisikan sebagai orang yang pintar, orang yang pintar di standarisasikan cakap akan ilmu-ilmu eksakta, kemudian lulus SD, SMP/MTS, SMA/SMK/MA. 

Pertanyaan yang menarik untuk diajukan, apakah pendidikan mampu menjadi media praksis dan strategis untuk mengembalikan fakultas kritis manusia (media untuk memproduksi struktur sosial yang baru atau menjadi media untuk mereproduksi sosial kutur yang ada)? 

Ada sebuah teori yang bisa dipakai untuk melihat keterkaitan pendidikan dan praktek reproduksi sosial (korespondensi).

Salah satu penggagas utama teori ini adalah Samuel Bowles dan Herbert Gintis, dalam bukunya Schooling in Capitalist America(1976) Teori reproduksi berargumen, bahwa nilai-nilai dan praktek sekolah pada dasarnya adalah cerminan dari organisasi ekonomi.

Dengan kata lain, relasi sosial di sekolah merefleksikan relasi sosial sebuah produksi.

Misalnya dosen memiliki otoritas untuk menentukan tujuan dan aktifitas kelas muridnya, sebagaimana manager perusahaan yang punya otoritas untuk menyusun agenda dan tujuan produksi ekonomi bagi para buruhnya.

Jika kita melihat realitas pendidikan di Indonesia, nampak jelas bahwa pendidikan menjadi sebatas kekuatan reproduktif, belum menjadi produktif.

Ini terlihat jelas adanya perbedaan yang tajam antara sekolah yang bagus dan mahal (dihuni oleh kelas atas atau borjuasi) dengan sekolah yang kualitasnya pas-pasan dan murah (dihuni oleh kelas proletariat). Standariasainya diukur dari guru yang berkualitas, fasilitas memadai dan tersedia.

Upaya praktis dan strategis untuk mengembalikan fakultas kesadaran kritis manusia dalam pendidikan, segala teori normatif berangkat dari realitas sosial, mahasiswa bukan dianggap sebagai obyek. 

Namun subyek, adanya metode pengajaran berbasis hadap masalah sebagai upaya keterlibatan teori dan praktek terhadap objek (masalah) yang sedang terjadi.

Kajian pertentangan ideologis, pertentangan kelas dan paradigma akademis menjadi kajian rutin setiap minggu bagi semua elemen instansi pendidikan yang terlibat.

Mahasiswa-mahasiswi mengekspresikan dirinya melalui organisasi-organisasi sebagai basis kajian ideologis dan perjuangan pertentangan kelas. 

Daftar Pustaka

Nuryatno, M. Agus (2011), Mazhab Pendidikan Kritis, Resist Book

Paulo Freire; The Politik of EducatioN; Eulture, Power, and Liberation. Kemudian diterjemahkan oleh Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudirtanto dengan judul “Politik Pendidikan; Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan”.


photo
Michael Scofield

Anggota Komunitas Ruang Chandu, Kader IMM Angkatan 18



0 Komentar


Tinggalkan Balasan