Peran Keluarga Terhadap Peserta Didik Dalam Pendidikan Karakter

Motivasi photo Ical 2021-07-03 06:50:04 0 Komentar 49
photo

Sumber: http://banjarmasin.tribunnews.com

Jika pendidikan karakter tidak ditanamkan kepada peserta didik akan lebih berdampak buruk kepada meraka disebabkan karena pentingnya sebuah pendidikan karakter. Namun, apabila meraka sudah ditanamkan pendidikan karakter akan menjadikan peserta didik dapat patuh kepada orang tua, menghormati gurunya, berbuat baik kepada teman-temannya, dan tidak suka berbohong.

Pendidikan karakter dipahami sebagai upaya penanaman kecerdasan dalam berfikir, penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengalaman dalam bentuk prilaku.

Sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, antar sesama, dan lingkungannya.

Nilai-nilai luhur antara lain, kejujuran, kemandirian, sopan santun, kemuliaan sosial, kecerdasan berpikir termasuk kepenasaran intelektual, dan berfikir logis. Oleh karena itu, penanaman pendidikan karakter tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pendidikan atau melatih suatu keterampilan tertentu.

Pendidikan karakter secara perinci memiliki lima tujuan sebagai berikut:

Pertama, mengembangkan potensi hati nurani/efektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa.

Kedua, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religious.

Ketiga, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa yang memiliki jiwa sosial.

Keempat, mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif dan berwawasan kebangsaan.

Kelima, mengembangkan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan. Harus memiliki rasa kebangsaan yang sangat tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

Proses pendidikan karakter atau pendidikan akhlak dipandang sebagai usaha sadar dan terencana serta bukan usaha yang sifatnya terjadi secara kebetulan.

Pendidikan karakter sebagai usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami, membentuk, memperbaiki nilai-nilai etika, baik diri sendiri maupun semua masyarakat atau warga negara cara keseluruhan.

Pendidikan karakter sebagai bagian dari upaya membangun karakter bangsa mendesak untuk diterapkan. Menjadi vital dan tidak ada pilihan lagi untuk mewujudkan Indonesia baru, yaitu Indonesia yang dapat menghadapi tantangan regional dan global.

Diantara karakter yang perlu dibangun adalah karakter berkemampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik (giving the best) sebagai prestasi yang dijiwai nilai-nilai kejujuran.

Inti dari karakter adalah kejujuran. Karakter dasar seseorang adalah mulia. Namun, dalam proses perjalanannya mengalami modifikasi atau metamorfosis (pengembangan) sehingga karakter dasarnya dapat hilang.

Istilah karakter juga memiliki kedekatan dan titik singgung dengan etika. Karena umumnya orang dianggap memiliki karakter yang baik setelah mampu bertindak berdasarkan etika yang berlaku di tengah-tengah masyarakat.

Etika berasal dari bahasa yunani ethikos  yang diambil dari kata dasar ethos yang berarti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, watak, akhlak, perasaan, sikap atau cara berpikir. Namun, etika dalam perkembangannya lebih cenderung diartikan sebagai adat istiadat.

Pengembangan karakter merupakan proses seumur hidup. Pengembangan karakter anak merupakan upaya yang perlu melibatkan semua pihak, baik keluarga inti, keluarga (kakek-nenek), sekolah, masyarakat maupun pemerintah. Oleh karena itu, koridor ini(keluarga, sekolah, masyarakat, maupun pemerintah) ini harus berjalan secara terintegrasi.

Pemerintah, lembaga sosial, tokoh masyarakat/tokoh agama pemuka adat, dan lainnya memiliki tanggung yang sama besarnya dalam melaksanakan karakter.

Keluarga sebagai basis pendidikan karakter sehingaa tidak salah jika krisis karakter yang terjadi di Indonesia pada saat ini. Dapat dilihat sebagai salah satu cerminan gagalnya pendidikan di keluarga.

Keluarga adalah komunitas pertama dimana manusia, sejak usia dini belajar mengenai konsep baik dan buruk, pantas dan tidak pantas, benar dan salah. Dengan itu, dikeluarga dan lingkungannya sejak dia sadar akan belajar mengenai tata nilai atau moral. 

Keluarga merupakan tempat untuk mengembangkan sebuah konsep awal mengenai suatu keberhasilan dalam hidup atau pandangan mengenai apa yang dimaksud dengan hidup berhasi, sukses, dan wawasan mengenai masa depan.

Menempatkan seorang bapak-ibu sebagai agenda utama seorang anak. Bapak-ibu yang baik secara sadar akan merencanakan dan memberikan waktu yang cukup untuk tugas sebagai orang tua (parenting). Mereka akan meletakkan sebuah agenda pembetukan karakter yang baik sebagai prioritas utama.

Dengan menggunakan bahasa karakter baik, anak-anak akan dapat mengembangkan karakternya jika bapak-ibu menggunakan bahasa yang lugas dan jelas tentang tingkah laku mana baik dan mana yang buruk.

Bapak-ibu perlu menjelaskan pada anak tentang perbuatan yang boleh dilakukan maupuntidak boleh dilakukan. Karena jika bapak-ibu tidak menjelaskan hal tersebut maka seorang anak akan leluasa melakukan tindakan-tindakan yang tidak wajar.

Tidak mendidik karakter melalui kata-kata saja. Bapak-ibu meskipun mempunyai kesibukan setidaknya meluangkan waktu untuk makan bersama anak, meskipun hanya sekali dalam sehari maupun itu hanya makan pagi atau malam saja.

Dengan makan bersama merupakan sarana yang baik untuk berkomunikasi dan menanamkan nilai yang baik. Melalui percakapan ringan saat makan, anak tanpa sadar akan menyerap berbagai peraturan dan perilaku yang baik.

Bapak-ibu juga perlu membantu anak dalam mengembangkan karakter yang baik melalui contoh bersikap santun kepada orang, kedisiplinan, hormat, dan tolong menolong. Karakter anak tidak daoat berkembang baik jika hanya melalui nasihat bapak-ibu saja.

Fondasi dalam pengembangan karakter adalah perilaku yang di berperilaku yang baik sehingga dapat langsung di contoh oleh anak itu sendiri.

Proses pendidikan karakter anak pada lingkungan keluarga tidak dapat mengabaikan peran kakek-nenek. Kakek-nenek memiliki peran-peran vital (vital roles) dalam kehidupan cucu. Mereka memiliki tugas spesifik yang vital bagi kahidupan cucu.

Menurut Ruth Wertheimer, oeran kakek-nenek terhadap kehidupan cucu dilaksanakan dengan menjalankan tugas-tugas instrumental dan simbolik.

Satu dari hadiah terbesar yang dapat diberikan para kakek-nenek kepada cucu adalah suatu model yang dapat dipelajari dan ditiru. Suatu model vital yang diberikan oleh mereka yaitu mengenai kebanggaan kita terhadap warisan agama dan etnik kita sendiri.

Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadikan peserta didik menjadi yang lebih baik terhadap masa depan meraka dengan di tanamkan nya pendidikan karakter sejak masih kecil.


photo
Ical

Mahasiswa Ilmu Hadis 2019, asal Luwu Utara Sulawesi Selatan



0 Komentar


Tinggalkan Balasan