Rausyanfikr, Membaca Gagasan Intelektual Ideal Ali Syariati

Essay photo Rendi Herinarso 2021-07-07 08:49:41 0 Komentar 71
photo

Sumber: google.com

Rausyanfikr diambil dari kata Persia, bermakna “pemikir yang tercerahkan”. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini sering kita sebut sebagai intelektual. Intelektual berasal dari kata intelectus yang berarti cerdas (mengerti dan memahami).

Dalam bahasa Inggris, intelektual disebut dengan intelegensia yang seringkali disamakan maknanya, yaitu mengerti dan memahami.

Istilah Rausyanfikr populer sejak abad ke-20 di Iran. Secara historis, istilah Rausyanfikr merujuk kepada kaum intelektual sekuler. Karena, istilah tersebut mulai dipakai bersamaan dengan berkembangnya kaum intelektual sekuler di Iran.

Kaum intelektual sekuler di Iran merupakan orang yang dididik oleh barat dan mengagumi para filosof Eropa abad pencerahan.

Rausyanfikr yang mulanya diartikan sebagai intelektual modernis dan cenderung sekuler, mengalami pergeseran makna. Mereka tidak lagi diartikan secara sempit ketika mulai terpanggil untuk melakukan transformasi sosial.

Awalnya, istilah Rausyanfikr berbanding terbalik dengan agamawan karena intelektualnya bersifat sekuler, sedangkan agamawan tidak sekuler. Namun, setelah kaum agamawan ikut aktif mengawal revolusi dan menentang kekuasaan zalim rezim Syah Pahlevi, istilah Rausyanfikr menjadi lebih luas. Karena, sejak menjelang revolusi istilah ini sudah mencakup para ulama dan agamawan.

Intelektual Dalam Berbagai Perspektif

Menurut Julian Benda (1927), intelektual adalah seorang pejuang kebenaran serta keadilan. Intelektual melandasi perjuangannya bukan karena ditunggangi semangat materi dan kepentingan sesaat, melainkan ia yang siap menderita untuk menyuarakan keadilan dan memprotes ketidakbenaran.

Kemudian, diskursus mengenai pemaknaan intelektual, menurut Regis Debray terbagi dalam tiga tahap generasi.

Tahap pertama, pada awal tahun 1900-an intelektual dimaknai sebagai seorang pengajar atau guru. Baik guru yang ada disekolah atau lembaga pembelajaran lainnya. Termasuk di dalam konteks Indonesia terdapat kiai, ustadz, dan berbagai makna yang sama dengannya.

Pada tahap kedua, diawal tahun 30-an, pemaknaaan intelektual sudah sedikit bergeser kepada satu profesi, yaitu penulis. Siapapun yang menulis, baik ia adalah essais, novelis, dan lainnya dapat disebut sebagai seorang intelektual.

Terakhir, tahap ketiga mulai dari tahun 60-an sampai sekarang makna intelektual sudah bergeser jauh. Seseorang akan disebut sebagai intelektual, ketika ia mampu tampil dimedia masa.

Intelektual generasi ketiga ini, seringkali mengabaikan standar atau nilai seorang intelektual, yaitu keilmuan dan kejujuran. Bahkan, dalam beberapa situasi intelektual generasi ketiga tidak segan melacurkan dirinya kepada penguasa. Menjual keahliannya untuk memenuhi “pesanan” penguasa yang zalim.

Membahas mengenai Intelektual, tidak lengkap jika belum melihat sudut pandang dari pemaknaan Antonio Gramsci.

Perlu diketahui, bahwa Gramsci membagi intelektual menjadi dua macam, yaitu Intelektual Organik dan Intelektual Tradisional.

Intelektual Organik adalah mereka yang mampu menggunakan keahliannya untuk kebaikan masyarakat banyak. Terdapat kontribusi yang jelas terhadap kaum intelektual klasifikasi ini.

Pada Intelektual Tradisional adalah mereka yang tidak membumi. Tidak membawa misi perbaikan sosial serta senantiasa hidup dalam ilusi dan utopia belaka.

Profil Rausyanfikr

Rausyanfikr Ali Syariati, agaknya memiliki kemiripan definisi dari konsep Intelektual Organik Gramsci, yaitu mereka yang tetap menebarkan kemanfaatan kepada lingkungan sekitarnya.

Menurut Ali Syariati, Rausyanfikr merupakan seseorang yang lebih dari seorang sarjana, bahkan ilmuwan. Berkaitan dengan hal tersebut, Jalaludin Rahmat ikut membedakan antara seorang sarjana, ilmuwan, dan intelektual.

Sarjana adalah gelar yang diraih seseorang setelah menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Beberapa lulusan yang bergelar sarjana, tidak banyak menjadi ilmuwan.

Sedikit dari mereka yang memperdalam keilmuannya dan tidak banyak dari mereka (ilmuwan) menjadi intelektual yang tercerahkan, yaitu memberikan kontibusi praktis kepada masyarakatnya.

Menurut Ali Syariati, tidak semua yang bergelar sarjana adalah orang yang tercerahkan. Begitupun sebaliknya,bukan berarti semua ilmuwan adalah orang tercerahkan.

Rausyanfikr atau pemikir yang tercerahkan sadar akan kondisi lingkungan sekitar, kesejahterahan dan kemasyarakatannya, sehingga secara tidak langsung memberikan rasa tanggung jawab sosial.

Individu yang sadar dan bertanggungjawab membawa misi Tuhan dapat meningkatkan kesadaran rakyat yang tertindas.

Hanya dengan kesadaran sajalah yang mampu merubah kondisi masyarakat terpuruk menjadi masyarakat yang dinamis dan mampu berdaya kreasi.

Kesadaran Transformasi Sosial

Kesadaran transformasi sosial akan sedikit demi sedikit muncul ketika terjadinya kesenjangan sosial. Rausyanfikr akan lahir sebagai transformator masyarakat ketika terjadi berbagai faktor yang melahirkan kesenjangan.

Misalnya, kesenjangan antara kaum terpelajar dengan rakyat jelata. Kesannya, apa yang dibicarakan kaum terpelajar tidak memiliki kesinambungan dengan kondisi rakyat.

Terdapat pula, kesenjangan antara kaum terpelajar dengan agamawan. Biasanya dilatarbelakangi atas kepentingan mereka masing-masing.

Kaum terpelajar membuat pernyataan yang berkebalikan dengan apa yang dibuat kaum agamawan. Sama-sama menanggapi satu hal, tapi dengan cara yang berkebalikan.

Hal ini akan timbulnya kesenjangan antara teori yang ideal dengan tindakan atau praksis yang diperbuat. Terdapat kesalahan antara teori dan praktek yang terjadi. Kondisi inilah yang melatarbelakangi lahirnya seorang Rausyanfikr.

Kelahiran Rausyanfikr di tengah-tengah masyarakat yang terbelakang, membuatnya dijuluki sebagai pewaris perjuangan nabi.

Perjuangan yang juga dilakukan oleh Qabil sebagai orang yang tertindas melawan Habil sebagai penindas.

Tentu bukan hanya persoalan penindas, tetapi penguasa korupsi yang merasa benar sendiri, ilmuwan pendukung tirani dengan melacurkan dirinya, pemilik modal yang rakus, dan agamawan yang melegitimasi agama untuk kepentingan kaum zalim.

Sudah menjadi tugas Rausyanfikr untuk memberantas hal-hal tersebut.

Oleh karena itu, Rausyanfikr bertanggungjawab atas keadaan sosial masyarakatnya. Menentukan sebab keterbelakangan yang terjadi.

Menemukan penyebab sebenarnya kejumudan masyarakat dalam lingkungannya.

Rausyanfikr hadir ditengah masyarakat dan menjadi pendorong rakyatnya untuk berubah sehingga mempunyai tugas mendidik masyarakatnya yang masih tertidur.

Tidak hanya menemukan, Rausyanfikr juga pemberi solusi atas apa yang terjadi.

Mendiagnosis sebab tumbuhnya penyakit sosial kesengsaraan dengan berbagai faktor internal dan eksternal serta memberi pemahaman perubahan kepada masyarakat secara keseluruhan.



photo
Rendi Herinarso

Kontributor Komunitas Oemah Kader Jogja



0 Komentar


Tinggalkan Balasan