RESESI : Apakah lebih menakutkan dari Covid-19?

Essay photo Rahmat Saleh 2020-09-19 06:13:46 0 Komentar 1903
photo

Sumber: -

Pendemi Covid-19 terhitung sejak 15 Maret 2020. Sampai saat ini, Covid-19 di Indonesia masih menjadi tantangan terberat yang dihadapi oleh pemerintah. Bagaimana tidak? Dampak pendemi tersebut tidak hanya terjadi pada aspek kesehatan, tetapi juga berimbas pada aspek ekonomi, sosial bahkan pendidikan.

Berdasarkan data statistik Community Mobility Reports yang dirilis oleh Google Mobility menyebutkan, bahwa jumlah kasus baru terus mengalami peningkatan yang amat tajam. Terhitung sampai saat ini jumlah total kasus di Indonesia mencapai 237 ribu. Namun belakangan ini, perilaku masyarakat pada umumnya mengalami penurunan rasa takut atau cemas terhadap pendemi Covid-19.

Hal ini ditunjukkan dengan aktivitas masyarakat yang mulai padat bahkan memenuhi tempat keramaian. Dan juga diikuti oleh kebijakan pemerintah yang relatif renggang terkait menyikapi kasus Covid-19. Seperti secara bertahap pemerintah membuka kembali daerah serta sektor-sektor publik lainya. 

Disisi lain, akhir-akhir ini masyarakat Indonesia ramai membicarakan berita bahwa Indonesia mengalami ancaman resesi ekonomi. Sampai memunculkan stigma cemas dan ketakutan. Mengapa demikian? Sebenarnya, yang memicu ramai fenomena itu terkadang hanya kepentingan elit politik saja untuk dimanfaatkan.

Namun, yang harus dipahami oleh masyarakat bahwa resesi itu tidak perlu ditakuti. Maka perlu juga sekiranya, kita mengetahui sebenarnya dikalangan para akademisi ekonomi misalnya. Kita membicarakan inflasi, suku bunga, pengangguran, sampai fluktuasi pertumbuhan ekonomi itu merupakan bahasa ekonomi dan besaran ekonomi saja yang mesti harus diketahui.

Namun pertanyaannya, “Apakah menjadi masalah?”  Ya belum tentu, yang menjadi masalah itu adalah jika persoalan besaran ekonomi tersebut menjadi negatif yang membesar. Seyogyanya kita tidak harus sindrom terhadap hal tersebut. Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa resesi itu merupakan bagian indikator dalam suatu perekonomian.

Secara teori dan praktisnya resesi tersebut bisa terjadi kapan saja, sama seperti indikator ekonomi lainnya. Misalnya inflasi, pada saat harga mengalami peningkatan secara terus-menerus, hal tersebut disebut sebagai inflasi. Pertanyaanya, kapan terjadi? Ya terjadi bisa kapan saja.

Praktisnya, tergantung bagaimana kita menghitung dengan cara seperti apa? Apakah kuartal per kuartal? Yaitu tiga bulan per tiga bulan atau tahun per tahun (YoY). Pada aspek pertumbuhan ekonomi misalnya, terdapat presentase pada perubahan output (produksi), jika positif maka disebut pertumbuhan ekonomi, jika sebaliknya mengalami negatif maka disebut kemunduran ekonomi yang sebenarnya.

Makna resesi juga demikian, bisa terjadi dalam suatu perekonomian. Namun, secara teori dan praktis sebenarnya yang terjadi ketika, dalam dua kuartal berturut-turut dimana GDP (Gross Domestic Product) atau keseluruhan nilai komoditas (barang dan jasa) yang dihasilkan oleh suatu negara termasuk di dalamnya orang-orang dan perusahan asing, yang beroperasi di lingkungan domestik suatu negara mengalami penurunan maka itu disebut resesi.

Jika kita sadar secara obyektif, tidak hanya Negara Indonesia yang merasa kesulitan dalam menghadapi resesi di Era Global akibat pendemi Covid-19 saat ini. Bahkan, sekalipun beberapa Negara Maju seperti Amerika Serikat, Singapura, Hongkong serta Negara Berpenghasilan Tinggi lainya juga ikut mengalami resesi ekonomi.

Apa yang harus dilakukan? Perlu beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti muncul beberapa pertanyaan, dari mana sumber pemulihan ekonomi beberapa tahun kedepan? Tentu satu-satunya sektor yang masih mempunyai mesin untuk bergerak saat ini ialah pemerintah, bukan swasta.

Disinilah berbagai alternatif peran kebijakan pemerintah baik berupa kebijakan fiskal untuk mendorong daya beli ataupun kebijakan moneter untuk stimulus perekonomian sektor riil dari sisi keuangan.

Menurut Milton Friedman seorang ekonom Amerika Serikat dalam bukunya Capitalism and Freedom : The Rule of in a Free Society, untuk menghadapi tantangan resesi global pada saat ini bahkan jika kondisinya akan lebih parah (depressions) kedepan.

Maka perlu intervensi pemerintah, diantaranya : Pertama, pada saat merumuskan kebijakan atau solusi, diharapkan lebih dari satu alternatif yang dibuat dan pilih salah satu kebijakan tersebut yang terkecil biaya uang dan non uang-nya (Opportunity Cost).

Kedua, perhatikan kepentingan masyarakat yang lebih luas, jangan sampai mengabaikan kepentingan umat, bangsa dan negara demi kepentingan golongan tertentu.

Ketiga, gunakan moral dan estetika logis dalam memutuskan suatu kebijakan. Persoalnya apakah resisi ini akan bertahan di bawah seperti kurva hurul L? Atau lama di bawah, seperti kurva huruf U? Namun yang pasti kita ingin bahwa pemulihan resisi ini akan cepat terjadi, seperti kurva huruf V, dan itu menjadi harapan kita bersama.

 

-

photo
Rahmat Saleh

Mahasiswa Magister Ekonomika Pembangunan FEB UGM



0 Komentar


Tinggalkan Balasan