Siapkah Kita Melepas Ujian Nasional?

Essay photo Syifa Nur Azizah 2021-03-30 19:04:30 0 Komentar 93
photo

Sumber: -

Berbicara tentang Ujian Nasional (UN), pasti kita semua sudah pernah merasakan yang namanya UN. Entah itu sekali, dua kali, atau bahkan tiga kali bagi yang sudah lulus SMA.

Jika ada anak SD yang kebetulan sedang membaca tulisan ini, halo! tulisan ini tidak bermaksud meruntuhkan semangat kamu belajar buat UN, ya!

Tanpa disadari, jika dari dulu sudah sering banget ada isu penghapusan UN, nyatanya sampai sekarang masih ada saja.

Pengecualian,  sejak angkatan 2020 yang batal UN karena pandemi Covid dan UN diganti namanya menjadi Asesmen Nasional (AN) mulai tahun ini.

Apa itu Asesmen Nasional?

Mengutip pernyataan Mendikbud Nadiem Makarim di situs Kompas, Asesmen Nasional adalah pengganti UN yang terdiri dari Asesmen Kompetisi Minimum dan Survei Karakter.

Apabila UN menyesuaikan dengan mata pelajaran di sekolah, AN berbasis penalaran Bahasa, Matematika, dan Pendidikan Karakter.

Jumlah peserta pun gak seluruh angkatan, tetapi maksimal 35 orang untuk tingkat SD dan 45 orang untuk tingkat SMP/SMA.

Rencananya, Asesmen Nasional akan dilaksanakan pertama kali pada bulan September hingga Oktober 2021. Namun, karena belum ada testimoni  mengenai AN, penulis belum tahu  mengenai bentuk sistematika AN di lapangan.

Jadi, penulis akan membahas mengenai   keputusan perubahan UN ke AN merupakan  keputusan yang tepat.

UN di Masa Lalu

Sedari dulu, UN selalu jadi momok menakutkan bagi anak-anak di kelas 6,9, dan 12. Bagaimana tidak  takut kalau belajar bertahun-tahun, tapi kelulusannya ditentukan dengan ujian yang hanya tiga sampai empat hari?

Padahal esensi dari UN hanya 3 poin, yaitu; mengukur kemampuan siswa,kebanggaan diri, dan kepentingan pendidikan selanjutnya.

Di antara semua poin tersebut, menurut penulis yang paling penting adalah poin ke-3. Khususnya, pada tingkatan SMA  nilai UN memang diperlukan untuk mendaftar sekolah kedinasan atau militer.

Pada tingkatan SD atau SMP, beberapa tahun terakhir esensi UN semakin redup sejak ada sistem zonasi. Berbeda dengan angkatan penulis (UN SD 2013 + UN SMP 2016) yang dianggap penting sebagai penentu sekolah selanjutnya.

Pada poin dua juga cukup penting—baik untuk anak atau orang tua. Harus diakui pride alias harga diri memang dinomor satukan jika urusan UN.

Makanya, banyak siswa kelas 6, 9, dan 12 yang mengikuti kelas tambahan atau bimbingan belajar. Tidak cukup hanya belajar di sekolah. Kendati, rela menyita waktu bermain  asalkan nilai UN bagus dan bisa membanggakan orang tua.

Padahal sadar tidak sadar, materi di sekolah sudah dispesialkan buat UN. Terutama di semester genap yang tinggal menghitung hari sebelum UN.

Try out tiap minggu sudah menjadi langganan, guru-guru mata pelajaran non-UN mulai menepi karena murid tingkat akhir disibukkan dengan persiapan UN. Pada poin ini, kekurangannya yaitu situasi ini justru malah menjadi beban bagi si anak.

Setiap siswa seakan dipaksa harus ambisius. Semuanya dituntut harus dapat nilai tinggi, suka atau gak suka dengan mata pelajaran yang ada di UN. Bahkan sewaktu penulis SMP dulu, nilai try out dipajang di tiap kelas.

Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, semuanya dipamerkan ke semua orang. Gimana tidak makin stress kalau lihat nilai sendiri kecil, sementara nilai teman pada bagus?

Mengenai tekanan UN, penulis punya satu cerita terkait hal ini. Teman penulis sewaktu SMA, sebut saja namanya M, ada yang dua kali opname (rawat di rumah sakit) di masa-masa persiapan UN.

Selain karena beban UN, semester 2 kelas 12 rasanya semakin stress gara-gara ada SNMPTN, yakni seleksi masuk perguruan tinggi negeri yang berbasis nilai rapor.

Stress UN dan SNMPTN membuat imun dia turun dan harus dirawat di rumah sakit, padahal waktu itu kami sedang sibuk try out dan ujian praktik.

Hasilnya? Dia harus ikut UN susulan karena sampai UN pun, dia masih diopname.

UN di Pendidikan Masa Depan Indonesia

Kasus teman penulis tadi mungkin hanya satu dari sekian siswa yang stress berlebihan akibat Ujian Nasional.

Bagi sebagian orang, suasana yang intens menuju UN bisa memotivasi semangat belajar, tetapi banyak juga yang mental dan fisiknya gak kuat mengikuti pacu.

Bukannya semakin bagus, nilai-nilai pelajaran justru semakin terpuruk.

Bayangkan saja , ada sekian banyak mata pelajaran di sekolah. Keringat, darah, dan air mata sudah dicurahkan di semua maple, tapi yang dilihat di hasil akhir hanya 4 mata pelajaran.

Lho, jadi ngapain aku rajin belajar buat mapel non-UN?

Pemikiran tersebut juga tidak benar. Mata pelajaran non-UN di sekolah bisa membantu kita menemukan passion atau hobi.

Contohnya penulis suka banget dengan mapel Sejarah Peminatan. Ternyata, mata pelajaran Sejarah tidak ada di pilihan peminatan UN IPS. 

Tak mengapa, karena sampai sekarang penulis  masih betah membaca kisah-kisah Eropa abad pertengahan.

Lagipula zaman sudah maju. Sekarang nilai UN bukan lagi tolak ukur kesuksesan peserta didik, banyak anak usia sekolah yang pandai berbisnis sendiri dan sukses di luar akademik.

Jika pendidikan Indonesia masih mau relevan, tidak seharusnya UN dijadikan kunci masa depan mereka.

Rasanya tidak adil melihat jutaan siswa yang passion-nya saling berbeda tapi dipaksa harus mahir di empat mata pelajaran UN.

Jadi menurut penulis, keputusan mengganti UN menjadi AN sudah tepat kok. Dibandingkan ujian yang sifatnya formal dan akademik banget, sebaiknya siswa harus lebih dilatih penalaran mendasar.

Hasil akhirnya juga pasti berguna untuk evaluasi diri dan sekolah, sehingga mungkin saja akan ada gebrakan positif di sistem pendidikan Indonesia di masa depan.

Kalau menurut kamu, gimana?

 


photo
Syifa Nur Azizah

Anggota Al Birru Organizer Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta



0 Komentar


Tinggalkan Balasan