Sistem Pendidikan Indonesia Perspektif Pemikiran Ibnu Taimiyah

Essay photo Annisa Nur Azizah 2021-07-19 07:49:55 0 Komentar 36
photo

Sumber: masjiduna.com & duniadosen.com

Siapa Ibnu Taimiyah itu? pasti masih banyak di antara kalian yang belum mengenal tokoh pendidikan Islam ini. 

Abul Abbas Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani atau yang dominan dikenali dengan nama Ibnu Tamiyah adalah seorang tokoh pendidikan Islam dan ulama dari kota Harran,Turki.

Beliau lahir pada 10 rabiul awal 661 H atau 22 Januari 1263 M di kota Harran, Kesultanan Rum. Ibnu Taimiyah adalah seorang putra yang berasal dari keluarga religius.

Ayahnya yaitu Syihabuddin bin Taimiyah berperan sebagai seorang syekh, hakim, dan khatib. 

Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani,  kakek dari Ibnu Taimiyah adalah ulama yang menguasai berbagai ilmu seperti ilmu fikih, hadis, tafsir, ilmu ushul dan penghafal Al- Quran (Wikipedia).

Sedari kecil, kecerdasan Ilmu Taimiyah sudah mencengangkan para ulama-ulama besar. Ketika umurnya masih belasan tahun, beliau mampu menguasai ilmu ushuluddin bahkan sudah bisa  mendalami bidang tafsir, hadis, dan bahasa arab(Wikipedia).

Begitu cerdasnya Ibnu Taimiyah ini sehingga pemikirannya tentang dunia pendidikan pun patut dijadikan contoh dalam sistem pembelajarannya.

Ibnu Taimiyah mengungkapkan pemikiranya lebih ke arah pendidikan Islam. Namun, hal ini juga bisa menjadi landasan sistem pendidikan di Indonesia dengan lebih menasionalkan pemikiran tersebut.

Sejatinya tujuan pendidikan Islam dan pendidikan Nasional Indonesia adalah sama, yaitu membentuk akhlak (dalam pendidikan islam) atau karakter baik ( dalam pendidikan nasional) yang dapat terimplementasikan oleh peserta didik di lingkungan masyarakat luas.

Menurut Ibnu Taimiyah, pendidikan Islam memiliki tiga tujuan pendidikan, yaitu pertama, pendidikan islam untuk individu yang ditujukan agar mampu berpikir, merasa dan bekerja dengan berpengang teguh pada Al-Quran dan hadis. 

Kedua, pendidikan masyarakat islam, pendidikan diarahkan untuk menciptakan hubungan kemasyarakatan sesuai dengan Al-Quran dan hadis. 

Ketiga, pendidikan amar makruf nahi mungkar, pendidikan mengarahkan seseorang untuk memiliki suatu sikap tanggung jawab perdamaian di dunia.

Pendidikan Islam menurut Ibnu Taimiyah adalah pendidikan yang berdiri diatas fondasi Al-Quran dan hadis. Kedua sumber hukum Islam tersebut selain menjadi fondasi juga dijadikan sebagai pemberi arah tujuan yang akan dicapai dalam pendidikan.  

Dalam pendidikan Indonesia, yang menjadi fondasi dari sistem pendidikannya adalah Pancasila. Tujuan yang dirumuskannya pun tidak jauh berbeda dengan tujuan yang dikemukaan Ibnu Taimiyah.

Hanya saja, tujuan dari pendidikan yang berlandaskan Pancasila ini menyangkut semua peserta didik mengingat kondisi Indonesia yang sangat beragam.

Ketiga tujuan pendidikan menurut Ibnu Taimiyah, di Indonesia diolah menjadi tujuan intraksional umum dan tujuan intraksional khusus(Umam,2010). Namun, Al-Quran ini tetap diikutsertakan dalam sistem pendidikan di sekolah negeri maupun swasta di Indonesia.

Setiap pagi,  sebelum pelajaran dimulai, lantunan ayat Al-Quran dibacakan oleh peserta didik dengan bersama-sama bagi yang beragama Islam. Bagi peserta didik yang non-Islam, mereka melakukan kajian di ruang perpustakaan.  

Ibnu Taimiyah berpandangan bahwa menuntut ilmu adalah ibadah, mengajarkan ilmu adalah shadaqoh, dan melakukan kajian keilmuan merupakan jihad serta pengagungan nama Allah.

Pandangan ini bisa menjadi motivasi seorang guru di Indonesia dalam mentransfer ilmu kepada murid-muridnya dengan ikhlas.

Tanpa sesuatu yang bernama keikhlasan, ilmu sebanyak apapun belum tentu membawa kebahagiaan di dunia.

Maka dari itu, untuk kalian para peserta didik, pendidik, maupun organisasi pendidikan berpegangteguhlah kepada pandangan Ibnu Taimiyah ini.

Jika pendidikan Indonesia sudah menerapkan pandangan ini, mungkin saja pendidikan  yang ada akan lebih maju. Sayangnya pendidikan Indonesia belum sepenuhnya menerapkan mindset ini.

Masih banyak peserta didik yang menuntut ilmu karena ada paksaan dari berbagai pihak. Ada juga seorang guru yang hanya sekedar memberi materi namun hanya berdasar tentang kewajibanya untuk mengajar saja.

Di Indonesia, masih banyak juga para peserta didik khususnya remaja yang malas melakukan kajian keilmuan walaupun itu sudah disediakan secara geratis oleh lembaga pendididkan.

Masalah ini menjadi tugas para pendidik untuk mengubah kualitas pendidikan di Indonesia. jika memang ingin menjadikan Indonesia maju, maka yang harus lebih dulu diperbaiki adalah pendidikannya.

Lalu dari mana pendidikan itu diperbaiki? jawabanya adalah dari seorang pendidik yang harus mampu menjadi pendidik yang tidak hanya transfer knowledge saja, tetapi harus mampu menanamkan akhlak mulia atau karakter baik dalam diri peserta didik.

Paradigma pendidikan menurut Ibnu Taimiyah adalah pendidikan itu dikonsentrasikan pada akidah tauhid dan pendidikan harus ada kesinambungan dengan masyarakat sekitar.

Dengan begitu pendidikan dapat dikatakan tidak hanya mencakup lembaga kependidikan saja, tetapi mencakup seluruh elemen kehidupan termasuk masyarakat.

Di Indonesia, paradigma pendidikan ini sedikit demi sedikit dikembangkan khususnya di perguruan tinggi. Dengan kurikulum yang memang sengaja dirancang untuk pengabdian masyarakat, para mahasiswa bisa berinteraksi secara langsung dengan masyarakat luas.

Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat. Mereka tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu di kampus saja, tetapi mereka menghubungkan ilmu yang sudah di dapat dengan kehidupan nyata serta mempraktekkannya di tengah-tengah masyarakat.

Adapun metode pendidikan yang diterapkan oleh Ibnu Taimiyah yaitu mengedepankan pola ilmiah, metode yang bermuara pada aspek iradah, dan metode yang membentuk kepribadian yang handal akan akal fikiran. Metode-metode tersebut sesuai dengan metode yang diterapkan di Indonesia.

Contoh metode dengan mengedepankan pola ilmiah memang menjadi hal yang utama dalam pendidikan Indonesia.

Materi-materi yang dibagikan ke peserta didik atau materi dari berbagai sumber sudah seharusnya bersifat rasional.

Kemudian, metode yang  pada aspek iradah yang dikemukakan Ibnu Taimiyah memiliki kesamaan dengan taksonomi Bloom yang menjadi dasar penilaian pendidikan Indonesia.

Metode tersebut mendasarkan pendidikan pada tiga ranah, yaitu ranah kognitif (pengetahuan), ranak afektif(sikap), dan ranah psikomotorik (keterampilan). Selanjutnya adalah metode yang membentuk kepribadian yang handal akan akal fikiran, ini juga sudah diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia.

Kepribadian yang handal akan akal fikiran yang dimaksud disini adalah peserta didik mampu memproyeksikan ilmunya dalam kepribadian sehari-hari. Jadi, mereka tidak bertindak semaunya dan lebih menghargai orang lain.

Sekolah menyajikan metode diskusi, problem solving, critical thinking dan lain sebagainya untuk membentuk kepribadian peserta didik.  

Dengan demikian, pemikiran Ibnu Taimiyah tentang pendidikan sebenarnya hampir sama dengan pendidikan yang diterapkan di Indonesia. Namun, untuk mencapai tujuan yang dimaksud Ibnu Taimiyah membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup sulit.

Para guru di Indonesia dituntut untuk menanamkan sikap budi pekerti yang baik kepada para peserta didiknya.

Hal tersebut tidak akan terjadi jika guru hanya memfokuskan sekolah pada materi saja. Sekolah juga harus mendukung untuk pencapaian tersebut.

Dengan berbagai pandangan Ibnu Taimiyah tentang pendidikan bisa menjadi landasan pendidikan Indonesia agar lebih maju, unggul, dan professional.

Konsep pendidikan Ibnu Taimiyah ini relevan dengan sistem pendidikan Nasional terutama dalam tujuan pendidikan untuk membentuk insan yang memiliki iman dan taqwa atau memiliki karakter yang baik. 

Hal tersebut juga tertuang dalam Undang-undang Nomer 20 tahun 2003 tentang tujuan pendidikan Indonesia yaitu membentuk peserta didik yang memiliki iman dan taqwa. (Drestiani &Fahmi , 2018)

 


photo
Annisa Nur Azizah

Mahasiswa prodi pendidikan Fisika Universitas Ahmad Dahlan



0 Komentar


Tinggalkan Balasan