Tak Sekadar Pendidikan; Rekonstruksi Pengkajian Pendidikan Islam

Essay photo Hizba Muhamad Abror 2021-05-02 05:33:24 0 Komentar 123
photo

Sumber: google

“Manajemen pendidikan Islam sampai saat ini masih belum mampu menunjukkan perannya secara optimal karena tidak adanya komitmen dan keteladanan, untuk mengatasi kelemahan dimaksud diperlukan upaya pembaruan dan merekonstruksi konsep dan teori manajemen pendidikan Islam yang ideal.”

-Ahmad Fauzi, Filsafat Manajemen Pendidikan Islam-

Nasib pendidikan hari ini baik konvensional maupun pendidikan Islam menghadapi tantangan paling serius sepanjang sejarah peradaban. Pergeseran paradigma sampai pada orientasi pendidikan pun tak jauh mengalami hal yang sama. Dengan kata lain pendidikan harus bertransformasi sedemikian rupa guna menjawab berbagai tantangan zaman.

Selain itu, kondisi tubuh Islam sebagai komunitas dalam masyarakat diterpa badai yang tak kalah hebat. Teroris dan radikal menjadi gelar yang secara tidak langsung mencoreng wajah Islam. Perlu diakui bahwa salah satu yang menjadi faktor dari gagalnya keberagamaan ini disebabkan oleh kegagalan pendidikan Islam dalam mengemban amanah sebagai pos yang memastikan akan hadirnya generasi-generasi Rabbani yang khairu-ummah.

Pengelolaan praktik pendidikan Islam menjadi salah satu acuan dasar dari suksesi pendidikan Islam dalam mencapai tujuannya. Maka dari itu, Ketika terjadi malpraktik atau disorientasi dalam pelaksanaannya dibutuhkan perbaikan pada pola pengelolaan baik pada tataran paradigmatik sampai praktik.

Tulisan kali ini, penulis hendak mencoba mengurai kembali benang kusut pengkajian manajemen pendidikan Islam dengan mencoba merunut kembali pada konteks filosofis-praksis esensi dari pendidikan Islam. Sehingga pada gilirannya kita mampu menyusun agenda rekonstruksi paradigma manajemen pendidikan Islam yang tak jauh terlepas dari esensinya.

Gagalnya manajemen pendidikan hari ini

Berbicara mengenai pengelolaan pendidikan, maka yang menjadi orientasi utama ialah efisiensi dan efektifitas dalam jalannya pelaksanaan oleh suatu komunitas atau organisasi sebagai upaya mencapai tujuan yang dicita-citakan.

Dengan menyusun beragam perencanaan dan pencegahan dalam mengatasi keterhambatan jalannya pelaksanaan, maka diperlukan strategi, metodologi, sampai pada langkah taktis yang matang.

Pendidikan dalam penafsiran yang paling sederhana ialah gerakan kemanusiaan yang berkelanjutan. Tujuannya mempersiapkan siapapun yang menjadi peserta didik mampu menjadi manusia seutuhnya. Pada prosesnya selalu berorientasi pada pendewasaan diri baik pada pola pikir, sikap, dan tindak- lakunya.

Di balik tujuan yang adiluhung tersebut maka dibutuhkan perencanaan yang mapan, pelaksanaan yang sistematis, dan pengawalan serta evaluasi yang akurat, dengan demikian tujuan pendidikan tidak sebatas angan-angan belaka.

Paradigma manajemen pendidikan hari ini selalu membawa kesan jalan pendidikan dimotori oleh orientasi pandangan mekanistik ekonomi. Tak perlu jauh mengambil contoh kita kerap mendapati jargon-jargon institusi pendidikan “agar cepat kerja”.

Sehingga tujuan dari pendidikan tak lain hanya untuk mendapat pekerjaan dan peserta didik agar mampu memenuhi kebutuhan pasar. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru, karena bekerja dan mendapat pekerjaan yang layak adalah upaya kongkrit untuk menyambung hidup di masyarakat.

Namun yang menjadi nelangsa bahwa kecerdasan serta kemampuan diri baik pada kognitif, afektif, dan psikomotorik bertumpu hanya pada peningkatan ekonomi. Kesan yang ditampakkan seakan-akan menunjukkan bahwa institusi pendidikan merupakan “pabrik buruh”.

Siswa sampai mahasiswa diorientasikan agar mampu mengisi pos-pos produksi dengan kerangka dan cara berpikir yang sama. Sekolah dan kampus menjadi ruang hampa dari aktualisasi diri, dan pola manajerial sebatas untuk meningkatkan akreditasi institusi. Inilah yang menjadi kegagalan terbesar dari institusi pendidikan hari ini.

Dari itu semua, kegagalan pengelolaan baik pada kelembagaan sampai pada tataran pengajaran dalam pendidikan hari ini bermula dari kekeliruan pandekatan dalam memandang manusia dan lingkungannya serta keterkaitan pada Tuhan.

Keterampilan yang sedari usia belia telah dibangun sejatinya berorientasi untuk memberi kebemanfaatan dan menjaga kelestarian lingkungan, alam, budaya, dan kemanusiaan.

Maka tak sebatas pada pembangunan keterampilan individu, melainkan pandangan visioner bagaiamana kemudian kehidupan tetap berlangsung di masa-masa yang akan datang.

Rekonstruksi pendidikan Islam

Islam memiliki pandangan yang komprehensif dan koheren mengenai pendidikan. dalam pengertiannya, pendidikan Islam memiliki tiga istilah yang mana pada pelaksanaannya harus terimplementasi secara integral; Tarbiyah, Ta’liim, dan Ta’diib. Ketiganya memiliki pandangan mengenai manusia dan masyarakat dalam lingkungannya yang menyangkut hubungan pada Tuhan saling barkaitan.

Manusia memiliki anatomi kognitif; hati (qalb), pikiran (‘aql), kemampuan fisik, intelektual, pandangan kerohanian, pengalaman, dan kesadaran. Serangkaian organ tersebut menjadi potensi bagi manusia untuk menjadi makhluk sempurna (insan kamil). Namun sebaliknya ia akan menjadi makhluk paling hina karena hawa nafsu dan kebodohan.

Oleh karena itu dalam pendidikan Islam beberapa nilai yang perlu ditekankan dan menjadi input atnara lain ialah; nilai ibadah, yang menekankan peran individu muslim dalam masyarakat selain manfaat ditujukan untuk menjadi nilai ibadah kepada-Nya. Nilai ihsan, yang menekankan pada tindakan individu yang baik dan efektif serta tidak membawa kerusakan.

Selanjutnya ialah nilai-nilai spiritualitas, yaitu; Islam, Iman, Ihsan, dan taqwa yang kemudian mampu menjadi pemicu bagi individu mencapai kemuliaan (ahsani taqwin), yakni akan yang sehat, hati yang bersih dan sehat (qalbul saliim), dan jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah).

Dari nilai-nilai tersebut pada implementasinya mampu bertransformasi melahirkan individu yang bertaqwa dan beramal shaleh. Adapun semua itu dibangun melalui peningkatan pada personality, capacity, dan competency.

Selain berbicara mengenai input, proses dan output juga perlu dikaji dalam konstruk pandangan nilai filosofis islam; Al-Qur’an dan Sunnah dan beragam macam ijtihad. Pada pelaksanaanya, sesungguhnya efisiensi sudah menjadi konsekuensi mutlak bagi ummat muslim dalam setiap keputusannya. Jika tidak demikian maka keputusan tidak memiliki nilai hikmah dan justru mubadzir.

Begitu pula dalam pendidikan, kita kerap terperangah dengan berbagai inovasi sektor pendidikan barat yang sejatinya memiliki pandangan berbeda dari pendidikan Islam. Maka metode pembelajaran sampai media yang kemudian dijadikan sarana pembelajaran tidak secara langsung digunakan tanpa pengkajian secara kritis terlebih dahulu.

Selain daripada itu, rekonstruksi dan inovasi dalam metode dan media pembelajaran pada pendidikan Islam juga perlu dilahirkan dari berbagai stakeholder, seperti para ahli dan praktisi. Mengingat bahwa fenomena pendidikan Islam saat ini yang semestinya menjadi regenerasi muslim yang Rabbani dengan melahirkan ulama-ulama yang intelek justru berbalik arah.

Kita kerap mendapati di berbagai institusi pendidikan baik sekolah maupun kampus hanya sebatas menghadirkan generasi-generasi yang inovatif dalam keilmuan saja dan jarang kita dapati lagi para generasi yang terdepan dalam tafaqquh fiddiin.

Dengan demikian pada dasarnya pendidikan Islam meiliki tuntutan untuk memperbaiki berbagai kepincangan pendidikan hari ini. Tidak ber-taklid secara buta terhadap perkembangan pendidikan di barat, tetapi tidak anti terhadap pembaharuan.

Karena sejatinya cita-cita pendidikan Islam tak lain adalah sebagai tujuan diciptakannya manusia di dunia yang tidak menumpahkan darah, merusak alam, mengajak pada kebaikan, mencegah keburukan, menebar kebermanfaatan baik pada individu maupun sosial (Rahmatan lil ‘aalamiin).


photo
Hizba Muhamad Abror

Ketua Umum IMM FAI UMY



0 Komentar


Tinggalkan Balasan