Tumbuhkan Toleransi dalam Pendidikan

Sastra photo Fidella Sita Aprila 2021-04-02 15:38:14 0 Komentar 137
photo

Sumber: -

Indonesia terbentang luas dengan memiliki 17 ribu pulau yang menjadikannya memiliki keberagaman dalam berbagai hal.

Budaya, bahasa, adat, agama yang dimiliki oleh Indonesia sangat beragam.

Keberagaman itu seharusnya menjadikan Indonesia memiliki tenggang rasa yang tinggi. Namun sayangnya, hal itu sulit terjadi. Beberapa kali, saya membaca berita yang berbau toleransi dalam beragama.

Contoh, perusakan rumah ibadah agama tertentu, atau pemaksaan penggunaan hijab kepada non-muslim di instansi pendidikan menjadi sebuah tanda bahwa, Indonesia masih minim akan rasa toleransi.

Isu agama di Indonesia layaknya dagangan yang paling laku di pasaran, selalu  sering diperbincangkan dan menjadi sebuah bahan perdebatan.

Agama menjadi hal sakral bagi orang Indonesia.

Bila ada satu yang melanggar dan tidak sesuai dengan ajaran, maka akan menjadi buah bibir masyarakat.

Dalam kehidupan yang memiliki banyak perbedaan.

Hendaknya, kita dapat menghargai berbagai perbedaan dengan memunculkan kerukunan dan kedamaian dalam menjalani kehidupan.

Salah satu peran pendidikan yang harus diperhatikan yaitu harus menumbuhkan pemahaman rasa dan sikap toleransi.

Pendidikan menjadi tempat untuk menumbuhkan nilai-nilai toleransi karena dalam pendidikan ada proses pembentukan karakter.

Sudah sepatutnya, pendidikan toleransi dipraktikkan dalam proses pembelajaran dan menjadi budaya di sekolah.

Para tenaga pendidik harus memangku nilai-nilai toleransi yang bisa diajarkan kepada para muridnya.

Sejatinya dalam pendidikan dapat menumbuhkan rasa dan sikap cinta dan sayang terhadap sesama karena pendidikan hakikatnya mengajarkan nilai-nilai kebaikan dalam segala aspek.

Toleransi Itu….

Toleransi dalam kehidupan bermasyarakat sangat dibutuhkan agar mampu membangun lingkungan yang harmonis.

Sehingga, terbentuknya kehidupan yang aman dan nyaman tanpa adanya perpecahan.

Hidup akan lebih nyaman jika seperti itu, kan?

Konsep toleransi sudah seharusnya dipupuk sejak dini agar dewasa nanti menjadi sebuah kebiasaan baik.

Prinsip yang dilaksanakan berupa warga sekolah harus menerima keberagaman dan hidup bersamanya.

Sikap bertoleransi bisa dicontohkan dengan menghargai dan menghormati perayaan hari besar agama lain, bergaul tanpa memandang agama apa, dan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.

Dalam hal ini, tenaga pendidik memiliki tugas mulia untuk mengajarkan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.  

Sikap toleransi terhadap antarumat juga memiliki tujuan untuk menjaga keutuhan bermasyarakat.

Beberapa waktu lalu, muncul berita seorang siswi non-muslim diwajibkan memakai hijab. Dengan alasan, agar tidak menjadi bahan bully-an anak-anak satu sekolah. Laaah, piyee?!?

Hijab menjadi suatu hal yang wajib, tapi untuk muslimah. Namun, yang disuruh make hijab adalah siswa non-muslim, yang ndak ada perintahnya untuk menggunakan hijab.

Pada dasarnya, hijab menjadi kewajibab bagi seorang muslimah.

Jika diterapkan kepada yang non-muslim, bukankah jatuhnya menjadi pelanggaran terhadap kebebasan beragama bagi perempuan? Karena telah diwajibkan menjalankan kepercayaan yang tidak ia percayai.

Dengan kejadian tersebut, identitas aslinya terasa hilang dan tergantikan dengan identias palsunya, untuk memenuhi kriteria masyarakat.

Hal tersebut bertentangan dengan prinsip dari hak asasi manusia nilai keagamaan, karena memaksakan kehendak kepada orang lain.

Padahal, sekolah tersebut adalah sekolah negeri yang pastinya memiliki siswi dengan keberagaman.

Ketentuan penggunaan seragam memang dibebaskan kepada pihak sekolah, tetapi bukan berarti bisa bebas mengatur sesuka hati bahkan sampai memaksakan kehendak kepada yang lain.

Jangan hanya karena agama yang dianut oleh siswi tersebut adalah minoritas, kita bisa memaksakan kehendak kita seenak jidat.

Toh, kita pun kalau dipaksa melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kepercayaan kita, apa tidak membuat kita marah dan geram?

Jika hal-hal semacam itu masih terdengar dan sering terjadi di sekeliling kita, artinya sikap toleransi kita masih belum terlaksana.

Kadang aneh juga toh, Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita saja selalu menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi sikap toleransi.

Nabi Muhammad SAW selalu memperlakukan manusia sebagai manusia, tanpa melihat latar belakang agamanya padahal beliau memiliki tugas mulia untuk menyebarkan agama Islam.

Namun, tidak sampai memaksa dan mencemooh mereka yang tidak mau mengikuti ajarannya.

Justru, kita sebagai umatnya, kok agak susah buat menerapkan sikap toleransi kepada sesama? Menganggap orang yang berbeda agama dengan kita bukanlah saudara, padahal mereka sama-sama manusia.

Pendidikan di Indonesia diselenggarakan secara demokratis, berkeadilan dan tidak diskriminatif, menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, dan nilai kebudayaan.

Pakaian seragam yang digunakan ke sekolah menjadi tanggung jawab masing-masing sekolah yang harus memperhatikan hak setiap pelajar sesuai dengan keyakinannya.

Sudah seyogiyanya, pihak sekolah tidak boleh membuat peraturan menggunakan seragam dengan kekhususan satu agama tertentu.

Sering terjadi salah perspektif terhadap toleransi. 

Makna dari toleransi, bukan berarti kita harus mengamalkan ajaran agama lain, tapi toleransi berupa menghormati keyakinan orang lain tanpa memaksakan kehendak kita.

 


photo
Fidella Sita Aprila

Saya seorang penulis yang sedang mengembangkan kemampuan saya dalam melihat fenomena yang bisa saya ubah menjadi sebuah tulisan.



0 Komentar


Tinggalkan Balasan