Wirogo, Wiromo, dan Wiroso

Essay photo Bambang Udoyono 2020-10-06 09:17:06 0 Komentar 219
photo

Dalam seni tari Jawa joged Mataram dikenal prinsip wirogo, wiromo dan wiroso, yang menunjukkan tingkatan penguasaan tarian.  Di tahap pertama penari baru belajar wirogo alias teknik gerakan tari.  Setelah teknik tarian dikuasai dengan baik maka penari menapak tahapan selanjutnya yaitu  wiromo artinya irama.  Di sini dia belajar menyatukan gerakan raganya dengan irama musik pengiringnya.  Tatkala gerakannya sudah menyatu padu dengan irama terciptalah keindahan tari yang memikat.  Tahap tertinggi adalah wiroso, artinya roso, atau perasaan.  Di tahap ini penari sudah mampu menyatukan gerakan raga dan irama dengan segenap jiwa raganya. Dia sudah mampu menghayati secara total.  Maka yang menari bukan hanya raganya tapi juga jiwanya.  Jika sudah sampai tahap ini maka keindahannya sudah sempurna. 

Ketika seorang penari sudah sampai tahapan ini maka tariannya akan memilki  greget  atau enerji.   Penonton  akan  terpesona.   Dia sendiri akan sangat menikmati seninya.   Tepat sekali dalang kondang almarhum Ki Narto Sabdo ketika mengatakan ‘kinaryo langen pribadi’ yang artinya menghibur diri sendiri.  Jadi pelaku seni itulah yang paling menikmati seninya.  Karena sudah punya greget maka orang lain tertarik, lalu hanyut dalam  keindahan seninya.  Dia sudah punya magnit.

Saya yakin prinsip ini bisa juga diterapkan dalam kegiatan menulis.  Di tahap awal penulis masih berfokus pada teknik menulis.  Setelah menguasainya maka penulis naik ke tahap selanjutnya yaitu menemukan irama atau keindahan menulisnya.  Tahap tertinggi tercapai manakala penulis sudah mampu menghayati total, menulis dengan segenap jiwa raganya.  Di tahap ini karyanya sudah memiliki greget, atau enerji.   Pembaca akan merasakan pesonanya. 

Ada keindahan, ketedasan, ketuntasan, dan ada kekuatan yang mencerahkan. Pembaca  akan  terhipnotis  dan akan ada merasakan manfaat buku yang dibacanya.  Tentu  saja anda dibatasi oleh minat pembaca.  Sebagus apapun anda menulis buku manajemen misalnya,  anda tidak akan bisa memikat orang yang tidak berminat di bidang itu.

Namun karena orang tidak memiliki greget pada semua bidang, maka seorang penulis harus rajin mengeksplorasi di mana, di bidang apa greget nya jalan. Dia harus berlatih menulis di berbagai bidang yang diminati.  Nanti akan terasa di mana enerjinya mengalir.  Kalau anda sudah tidak menyadari waktu berlalu, misalnya anda mulai menulis sejak subuh dan tanpa terasa sudah waktunya solat duhur,   maka artinya anda sudah mencapai tahapan ‘flow’.  Greget anda sudah jalan. Indikator lain misalnya anda sedang asyik menulis anda tidak mendengar keluarga anda memanggil. Kalau sudah begini mungkin anda sudah sampai pada wiroso.  Pokoknya jelajahi banyak bidang nanti anda akan menemukan bidang, topik, tema yang membuat greget anda mengalir lancar.

Selamat berlatih. Semoga anda sampai pada wiroso.