Model Project Based Learning, Solusi Konselor Mereduksi Perilaku Agresif Saat Pandemi

Guru photo Shopyan Jepri Kurniawan 2020-09-12 17:41:01 0 Komentar 829
photo

Beberapa bulan ini, bahkan hampir satu tahun ini kita tidak bisa terhindarkan dari wabah Covid-19 yang belum juga reda. Hal ini mengakibatkan berbagai problem yang terjadi. Baik dari segi ekonomi, sosial, budaya dan tentunya pendidikan. Terkhusus pendidikan, adanya perubahan dalam proses pembelajaran dari belajar tatap muka menjadi belajar secara daring.Hal ini tentu mengakitbatkan beberapa persoalan.

Tuntutan belajar online yang menjadi solusi untuk pembelajaran tidak halnya juga mempunyai dampak yang buruk. Bukan hanya berkaitan jaringan yang tidak merata, tugas yang bisa membebankan siswa, dan orang tua yang dituntut harus menjadi guru untuk anaknya. Ada beberapa persoalan yang tidak luput dari hal tersebut yaitu adalah perilaku agresi 

Agresi

Perilaku agresi adalah perilaku  yang secara sengaja bermaksud untuk melukai secara fisik, verbal serta menghancurkan harta benda orang lain. Agresi fisik contohnya adalah memukul,menendang, atau melukai secara fisik. Agresi verbal contohnya adalah mengumpat, mengejek, dan meremehkan. Agresi yang merusak harta benda orang lain contohnya adalah merusak jam, sepeda atau benda milik orang lain. Kenapa agresi isi bisa terjadi ? Apakah di masa pandemi seperti ini bisa terjadi ? Tentu, mungkin benar tidak secara fisik akan tetapi lebih kepada secara verbal, ini dimungkinkan karena banyaknya Generasi millenial menjadi topik yang cukup sering disebutkan dikalangan masyarakat saat ini, mulai dari segi pendidikan, teknologi maupun moral dan budaya.

 Millennials atau kadang juga disebut dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980 - 2000an. Maka ini berarti millenials adalah generasi muda yang berumur 17- 37 pada tahun ini. Millennials sendiri dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi.  Generasi millennials memiliki ciri khas tersendiri yaitu, mereka lahir pada saat layar TV sudah berwarna, handphone serta layanan international network (internet) sudah diperkenalkan. Sehingga generasi ini sangat mahir dalam hal berbau teknologi.

 Di Indonesia sendiri dari jumlah 255 juta penduduk yang telah tercatat, terdapat 81 juta merupakan generasi millenials atau berusia 17- 37 tahun .Hal ini berarti Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk membangun negaranya melalui generasi milenial. Akan tetapi juga akan menjadi bencana apabila tidak bisa dieksplorasi sesuai minat dan bakatnya.

Akan tetapi dengan akrabnya dengan teknologi biasanya perilaku  agresi yang  terjadi selama masa pandemi ini adalah agresi verbal secara online, karena media sosial sendiri bagaikan pedang beramata dua. Hal ini tentu akan berdampak baik apabila bisa dimanfaatkan secara baik, akan tetapi sebaliknya jika tidak bisa dimanfaatkan sesuai dengan kegunaanya. Perilaku agresi memiliki dampak negatif, utamanya adalah turunnya hasil belajar siswa. Siswa korban bullying akan memiliki ketakutan ketika tampil di sekolah dan berdampak pada turunnya prestasi belajar siswa W. N. E., Hanifah, N., & Widagdo, D. N. (2017). Biasanya dengan cara mempermalukan,mencibir dan mengomentari bahkan menrendahkan orang lain di media sosial. Hal ini dipengaruhi berbagai faktor, karena sekolah tidak bisa mengawasi secara penuh kegiatan siswa dan kurangnya perhatian orang tua selama dirumah.

Selain itu alasan yang lainnya adalah, dengan proses pembelajaran dilakukan secara daring menuntut siswa untuk mencari pirantinya, salah satu contohnya gawai. Hal ini terjadi dibeberapa kota dan dimuat dibeberaa surat kabar bahwasanya ada melakukan tindak agresi guna untuk mendapatkan sebuah gawai, dengan cara mencuri. Tentu hal ini meresahkan orang lain dan tindakan yang merugikan diri sendiri.

Bimbingan dan konseling merupakan bagian dari pendidikan yang tersusun dari komponen konteks, input, proses, output, dan outcome. Dalam bagian ini terbentuk sub-sub sistem yang secara sinergis saling mendukung dalam pencapaian tujuan penyelenggaraan program layanan. Proses layanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan proses yang terpenting karena dari sinilah terjadi interaksi antara guru bimbingan dan konseling dengan peserta didik.  Di sini pula campur tangan langsung antara guru bimbingan dan konseling dengan peserta didik berlangsung.

Tentunya guru BK harus mempunya inovatif dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi di kalangan siswa utamanya dengan dibarengi adanya covid-19. Yaitu dengan memadukan layanan bimbingan dan konseling yang digabungkan dengan model project based learning yang nantinya siswa dapat difasilitasi, dan dapat disalurkan bakatnya menjadi sebuah proyek.

Project based Learning

Model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) merupakan pembelajaran yang berpusat pada proses, relatif berjangka waktu, berfokus pada masalah, unit pembelajaran bermakna dengan memadukan konsep-konsep dari sejumlah komponen baik itu pengetahuan, disiplin ilmu atau lapangan. Pada pembelajaran berbasis proyek berorientasi. PBL memiliki keunggulan dari karakteristiknya yaitu membantu peserta didik merancang proses untuk menentukan sebuah hasil, melatih peserta didik bertanggung jawab dalam mengelola informasi yang dilakukan pada sebuah proyek yang dan yang terakhir peserta didik yang menghasilkan sebuah produk nyata hasil peserta didik itu sendiri yang kemudian dipresentasikan dalam kelas (Amirudin, dkk: 2015). Metode pembelajaran project based learning memperkenankan siswa untuk dapat bekerja mandiri maupun berkelompok dalam menghasilkan hasil proyeknya yang bersumber dari masalah kehidupan seharihari.

Implementasi Project based Learning mereduksi agresi

Adapun implementassinya dalam mereduksi agresi selama pandemic. Guru bimbingan dan konseling dapat menggunakan beberapa layanan yang nantinya didalam layanan tersebut dipadukan dengan metode PBL ini. Diantaranya setiap siswa dibagi dengan temen kelasnya. Dibagi menjadi beberapa item tugas. Dari beberapa jenis tugas siswa dibagi kedalam tersebut dengan pemetaan yang sama. Nantinya setiap kelompok harus menghasilkan sebuah karya dari kelompok tersbut dengan pokok tema yang sudah ditentukan.Adapun tahapannya :

  1. Merencanakan proyek Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara  siswa baik itu bersifat individu atau kelompok.
  2. Menyusun lamanya tugas tersebut  yang disepakati oleh guru dan siswa. Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal pengerjaan dalam menyelesaikan proyek tersebut.
  3. Memonitor jalannya proyek selama proses pembuatan proyek, Guru bertanggungjawab untuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas siswa selama menyelesaikan proyek.
  4. Presentasi dan penilaian terhadap produk yang dihasilkan
  5. Evaluasi